Home Opini Merubah Pola Hidup Papua dengan Sistim Unggulan/Percontohan

Merubah Pola Hidup Papua dengan Sistim Unggulan/Percontohan

Suroso  11/10/2017 8:06:12 AM
Merubah Pola Hidup Papua dengan Sistim Unggulan/Percontohan

Oleh: Drs Anthon Agapa

GUNA terjadinya suatu perubahan pola hidup Papua di era modern, kini dalam pelaksanaan pembangunannya mesti digalakkan sistim unggulan/percontohan di semua bidang. Kini sudah saatnya dilakukan program profesionalisasi pola hidup orang Papua. Tetapi harus dimulai dulu dengan mengunggulkan sejumlah orang asli Papua yang lolos seleksi pada profesi hidupnya masing-masing. Mereka ditampilkannya sebagai pencontoh. Bagi pemerintah, bukanlah saatnya lagi dilaksanakan kegiatan pelatihan-pelatihan teoritis melulu. Selama ini pemerintah lancar melaksanakan kegiatan SOSIALISASI, memang menyangkut profesionalisasi pola hidup modern tersebut. Tetapi terbukti tidak berdampak mengubah kondisi hidup masyarakat umum. Memang dibutuhkan waktu lama untuk terjadinya suatu perubahan pola hidup sesuai era modern. Tetapi mana upaya-upaya konkritnya yang dilakukan pemerintah secara tegas dan jelas serta kontinyu guna terjadinya perubahan hidup menjawab tuntutan hidup modern ini. Mana tanda-tanda realnya. Hanya pelatihan-pelatihan penyadaran saja belum mampan. Disinilah dibutuhkan penggalakkan sistim unggulan/pencontohan sebagai langkah konkritnya. Soalnya masyarakat luas Papua tetap berada terus pada posisi hidup transisi, sedang bingung-bingung saja menghadapi tuntutan hidup modern. Lihat saja bukti rielnya, kita asli orang Papua dengan daya UANG-nya sedang tampil hidup konsumtif saja. Walau orangnya pernah menjadi GUBERNUR/BUPATI selama 2 periode, mantan anggota DPR bertahun-tahun, mantan penjabat, dst-nya tetap saja hidup dibawah garis kemiskinan. Belum ada juga yang mampu menampilkan profesi hidup tertentu sebagai pencontoh bagi masyarakat Papua. Sangat tidak menarik di mata orang….! Ada lagi yang lebih aneh, tapi nyata bahwa makanan pokok orang asli Papua sekarang mulai beralih pada BERAS. Dan diperolehnya bukan dengan memproduksinya sendiri. Sebaliknya, diperoleh dengan jalan membelinya di pasaran dari masyarakat non-Papua. Dari orang Papua asli belum ada petani sawah sebagai pencontoh. Lihat saja, sudah bertahun-tahun lamanya  pemerintah terus men-suplay makanan harian beras dari luar Papua. “Pemerintah harus malu ini”. Pemerintah tidak boleh mengharap musti ada yang muncul sebagai petani sawah. Pemerintah tidak boleh bersikap membiar terhadap masyarkat. Masyarakat itu kan miskin dan sederhana. Tidak akan mampu melakukan terobosan baru mengalihkan pola hidupnya. Ya kan, pemerintah yang mempunyai daya dana, sarana dan kuasa /kewenangan/ kepemimpinannya atas masyarakat luas, atas daerah luas Papua ini. Kini saatnya pemerintah harus tampil sebagai YAME (lelaki jagoan) dengan tegas lagi jelas mengorbitkan petani-petani sawah pada tempat-tempat strategis sebagai percontohan. Yakinlah, lama kelamaan ada yang terpengaruhi ikut menjadi petani sawah. Suasana persaingan sehat pun akan tercipta dengan sendirinya. Kini dinantikan langkah terobosannya oleh pemerintah. Demikianlah pula dalam bidang perdagangan (usaha ekonomi). Tuntutan hidup modern mendesak orang Papua asli mau tidak mau memilki usaha ekonomi (kebun modern). Zaman menuntut kita melakukan profesionalisasi hidup. Kini memang usaha ekonomi sudah menjadi kebun modern. Dari situ dapat mendatangkan hasil berupa UANG. Tentu sudah mulai rasakanya sendiri, bahwa uang menjadi penentu kehidupan secara fisik. Kebutuhan uang menjadi penting. Tidak bisa menghindar diri dari kenyataan keadaan  hidup ini. Tetapi membangun usaha ekonomi bagi orang Papua terasa berat. Masyarakat Papua tinggal berbingung saja pada posisi transisi hidup. Di sinilah dibutuhkan  langkah terobosan tegas oleh pemerintah. Langkah penerobosannya adalah menggalakkan sistim unggulan atau percontohan. Dalam hal ini, pemerintah mesti mengorbitkan sejumlah pengusaha ekonomi dari kalangan orang Papua asli sebagai pencontoh. Kelompok pencontoh tersebut tidak boleh orang non Papua. Mengapa, karena orang Papua itu dari existensinya hidup dalam keterikatan sosialnya yang sangat kuat. Hubungan keterikatan sosialnya yang secara radikal ada dalam komunitas hidup adat itu dapat dijadikan dasar yang baik dalam proses saling mempengaruhi selanjutnya. Kini saatnya pemerintah mengubah pola hidup rakyat dengan cara mengorbitkan lebih dahulu kelompok pencontoh seperti petani profesional, peternak profesional, nelayan profesional, pedangang profesional, intelektual unggulan, dstnya. Penampilan hidup kelompok pencontoh itu akan mempengaruhi sesama lainnya ikut-ikutan  menirunya. Diharapkan mereka menjadi daya pendorong kuat bagi sesama lainnya. Masalahnya sekarang adalah siapakah yang mampu melaksanakan langkah terobosannya? Kita jujur saja, para penguasa di tubuh pemerintahan Papua memiliki pola hidup serta mentalitas hidup yang sama pula dengan mayoritas masyarakatnya. Pekerjaan mengubah pola hidup baru (modern) tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu lama dan continuitas kerja secara serius. Dalam hal ini bagi pemerintah musthail. Kalau demikian,  Pihak mana lagi yang dapat diharapkan merintis jalan baru bagi masyarakat Papua menuju pola hidup modern ini? Menurut saya : selain tiap individu itu sendiri, pihak GEREJA juga dapat dipercayainya. Mengapa? Kita melihatnya sendiri , bahwa pihak GEREJA memiliki hubungan kemanusiaan yang sangat penuh kasih pada masyarakat. Biasanya pihak gereja menghantar masyarakat, menyiapkan masyarakat agar mampu beradaptasi pada pola hidup modern. Tetapi sebatas  bicara-bicara (pembinaan). Pekerjaan gereja selalu  berorientasi pada pembangunan manusiannya. Pekerjaan utamanya gereja adalah keselamatan manusianya. Kita dapat melihat langsung sudah terbuktikan lewat lembaga-lembaga atau yayasan-yayasan di lingkup gereja. Mengapa Pemerintah Berat Hati Menyalurkan Dana Otus Untuk Gereja? Dana Otsus iitu kan sedianya bertujuan membangun manusianya. Kita ketahui pihak gereja itu selalu takut melakukan masalah, penegak kebenaran dan kebaikan. Pemerintah tidak percaya gereja, kah? Urusan pertanggung-jawaban keuangan (administrasi) pihak gereja tak perlu diragukan. Dalam urusan keuangan Pihak gereja mempunyai tenaga spesialis. Senantiasa mudah. Ataukah ada alasan tertentu lain? Jangan lupa, peranan GEREJA di saat awal perkembangan papua ini sungguh-sungguh di warnai dengan pekerjaan membangun manusia. Buktinya :  Para pimpinan pemerintah  Papua sekarang ini kan kebanyakan datang dari pendidikan yang dirintis pihak gereja. Pendidikan negri baru bermunculan belakangan ini. Pemerintahan umum harus malu ini.  Masih ada hatikah pemerintah untuk menunjang pekerjaan gereja, membangun manusia Papua secara abadi itu?. Catatan; gagasan ini dituangkan lewat media karena saran lisan saja tak mampan.(penulis pemerhati masalah kemanusiaan)

Suroso  11/10/2017 8:06:12 AM
Merubah Pola Hidup Papua dengan Sistim Unggulan/Percontohan
Oleh: Drs Anthon Agapa GUNA terjadinya suatu perubahan pola hidup Papua di era modern, kini dalam pelaksanaan pembangunannya mesti digalakk
Suroso  11/5/2017 9:32:24 AM
Pemuda Sebagai Tulang Punggung Pembangunan
oleh:Willy Andhika, SST                Momentum Hari Sumpah Pemuda sud
Agenda Nabire
Kirim Agenda ke Redaksi
 11/12/2017 8:13:32 AM
Kepada kantor pemerintah/swasta yang akan melaksanakan agenda/kegiatan, silahkan kirim datanya ke redaksi www.papuaposnabire.com untuk dimuat di halaman website. 
HAHAEEE...
Panggilan Sayang Tete ke Nene
 11/12/2017 8:22:53 AM
Satu kali cucu tanya ke tete: "Tete ni tiap kali panggil nene selalu deng panggilan darling, sayang, honey. Darling su makan? Sayang kopi mana? Honey mo ikut? Tete ni paleng romantis sampeee... de pu rahasia apa ka?" Tete: "Ssstttt mari sini tete bisik-bisik, ko jang bilang-bilang sama nene e?" Cucu: "Kenapa jadi Tete?" Tete: "Tete su lupa Nene pu nama..."