Home Papua Tengah Petani Kopi di Hulu dan Hilir Harus Ditata Baik

Petani Kopi di Hulu dan Hilir Harus Ditata Baik

Suroso  12/5/2017 4:30:01 AM
Petani Kopi di Hulu dan Hilir Harus Ditata Baik
DOGIYAI - Sebanyak 144 petani Kopi Arabika yang mewakili dari 72 kampung dan sepuluh distrik di Kabupaten Dogiyai mengikuti pembinaan kemampuan teknologi industri pengolahan kopi (Pelatihan petani kader budidaya dan penanganan pasca panen Kopi Arabika). Hal itu mendapatkan antusias dari para petani kopi, hanya saja mereka penuh dengan kekuatiran. Sebut saja, petani kopi asal Kampung Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Geradus Agapa, mengaku senang mengikuti pelatihan ini, sebab belum pernah mengikuti pelatihan semacam ini, dan tentunya ini sebuah ilmu baru yang didapatkan apalagi disertai dengan praktek. Hanya saja, masih bertanya soal kelanjutannya seperti apa kedepannya. Karena saat ini telah memiliki 1.700 pohon kopi, yang sudah diolah sekian belasan tahun lamanya, namun belum mendapatkan sentuhan serius dari pemerintah setempat. Kekuatirannya itu tidak berlebihan, karena sejak memilih menjadi petani kopi, hingga kini belum mendapatkan keberpihaknya dari pemerintah untuk diberdayakan, baik dari modal usahanya maupun dari segi pemasarannya. “Sudah tentu namanya tanaman pasti terserang hama, maka perlu ada bantuan pemerintah bagi kami untuk mengelola perkebunan kopi kami, begitu juga dari segi pemasarannya kami pasarkan apa adanya,” terangnya kepada Bintang Papua di kediaman Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Jayapura di Waena, Jumat, (1/12) dan dilanjutkan sampai Sabtu (2/12). Senada dengan itu, Amatus Dumupa, dirinya sudah pernah mengikuti berbagai kegiatan pelatihan diantaranya, budidaya ikan air tawar dan lainnya, namun tidak seperti pelatihan kali ini yang disertai dengan praktek lapangan, karena pelatihan sebelumnya hanya teori saja. “Saya mewakili masyarakat Kamuu sampaikan terima kasih kepada Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Dogiyai yang telah buat pelatihan yang bagus ini,” tandasnya. Dirinya mengharapkan kepada Pemerintah Dogiyai, agar pelatihan ini tidak sebatas ini saja melainkan harus ada tindak lanjutnya, seperti bantuan fasilitas pendukung perkebunan diantaranya gergaji, gunting dan lainnya serta bantuan lainnya yang sifatnya mengangkat harkat dan martabat para petani kopi Dogiyai baik secara nasional maupun internasional. Disampaikan demikian, sebab pihaknya telah menjadi petani kopi selama 50 tahun, yang dalam perjalanannya jatuh bangun dalam mengelolaannya, karena dari sisi pemberdayaan tidak menjadi program prioritas pemerintah ketika itu hingga kini, ditambah lagi dari segi pemasarannya pun tidak difasilitasi pemerintah agar kopi Dogiyai bisa tembus pasar nasional dan internasional. Pada kesempatan itu, dirinya meminta kepada sesama petani kopi dan masyarakat Dogiyai umumnya untuk giat menanam kopi, karena kopi ibarat emas yang ada diatas permukaan tanah, yang menjanjikan pendapatan ekonomi yang luar biasa kedepannya. Sementara itu, Trainer Kopi dari Yayasan SCOPI Jakarta, Nur Cayaha, menyampaikan, materi pelatihan yang diberikan kepada para petani diantaranya, budidaya kopi yang didalamnya menyangkut pemangkasan dan pembuatan rorak, kemudian materi perihal panen kopi yang meliputi memetik buah berkualitas (warna merah) dan pelatihan pasca panen. Dari pelatihan yang diberikan, mereka telah menanaminya dengan baik, hanya saja perlu ada kelanjutannya, baik dari sisi pelatihannya, maupun sisi pemasarannya. Pemasaran dalam hal ini bagaimana kemasan kopi dibuat dengan baik sehingga menarik untuk dibeli, bagaimana melakukan keberpihakan pemasaran baik di Dogiyai maupun di seluruh Papua. Disampaikannya, wilayah Kabupaten Dogiyai sangat cocok untuk pengembangan Kopi Arabika, apalagi semangat yang luar biasa dari para petani, namun semangat para petani itu perlu didukung penuh. “Jadi kalau bisa pemerintah dan lembaga lain berikan dukungan, dukungan bukan dalam bentuk pelatihan saja tapi perlu ada pendampingan dan penguatan modal serta pendampingan dari hulu sampai hilir,” terangnya. Baginya, jika hanya hulunya (pelatihan) saja yang diberikan tanpa melengkapi hilirnya (pemberdayaan berkelanjutan, terutama dari segi pemasarannya) maka hal itu ibarat kita membuang garam ke laut, karena pelatihan tidak bermanfaat, sebagaimana pengakuan para petani bahwa 50 tahun kelola perkebunan kopi tapi tidak ada perubahan berarti dalam peningkatan kesejahteraan keluarga mereka. “Kopi mulai dicari dan menjadi konsumsi masyarakat, maka perlu diberdayakan dengan baik. Apalagi kabupaten Dogiyai sangat berpotensi, dan ini ini sangat disayangkan bila petani tidak didukung untuk pengembangan kopinya,” tukasnya. Sekadar untuk diketahui, kegiatan pelatihan itu dilaskanakan Disperindagkop Kabupaten Dogiyai atas sponsor dari Pkja Papua, Scoupi dan Yayasan Yapkema. (ris)
Suroso  11/26/2017 9:14:14 AM
Delapan Tahun Krisis Pemimpin di Dogiyai
KARAKTER sosok Pamong murni seperti, Drs. Adauktus Takerubun, yang memimpin di sebuah kabupaten otonomi baru Lembah Hijau, sekarang Kabupate
Suroso  11/5/2017 9:32:24 AM
Pemuda Sebagai Tulang Punggung Pembangunan
oleh:Willy Andhika, SST                Momentum Hari Sumpah Pemuda sud
Agenda Nabire
Kejuaraan Bulutangkis Nabire Open 2017
 11/18/2017 6:31:58 PM

Tanggal : 12 s/d 17Desember 2017

Pukul    : 10.00 WIT s/d Selesai

Tempat : GOR Kotalama, Nabire

HAHAEEE...
Panggilan Sayang Tete ke Nene
 11/12/2017 8:22:53 AM
Satu kali cucu tanya ke tete: "Tete ni tiap kali panggil nene selalu deng panggilan darling, sayang, honey. Darling su makan? Sayang kopi mana? Honey mo ikut? Tete ni paleng romantis sampeee... de pu rahasia apa ka?" Tete: "Ssstttt mari sini tete bisik-bisik, ko jang bilang-bilang sama nene e?" Cucu: "Kenapa jadi Tete?" Tete: "Tete su lupa Nene pu nama..."