Home Papua Tengah Jakob Tagi ‘Tak Bawa Uang Pergi, tapi Pulang Sarjana’

Jakob Tagi ‘Tak Bawa Uang Pergi, tapi Pulang Sarjana’

Suroso  12/6/2017 9:04:49 AM
Jakob Tagi  ‘Tak  Bawa Uang Pergi, tapi Pulang Sarjana’
DOGIYAI - Warga terbelakang menjadi orang pertama, masyarakat asli Bedu Dipa sekarang Distrik Siriwo ini memiliki berkat dengan kemauan keras merantau di Minahasa, Manado untuk belajar, berlatih dan berkarya menuntut ilmu pada Universitas Kristen Tomohon pada tahun 1990 dengan modal kemauan  keras dan semangat. Jakob Tagi memberanikan diri menghadap rektor dengan tujuan menjadi petugas servis keliling kampus. Disamping itu, sebagai petugas penjaga pada perguruan tinggi tersebut permintaan itu disetujui rektor dengan syarat makan minum ditanggung sendiri. Sedangkan biaya pendidikan, uang semester ditanggung sekolah. Mantan Kepala Distrik Piyaiye  kepada kepada Papuapos Nabire belum lama ini,  Kadistrik perintis dilantik Bupati Nabire Drs Anselmus Petrus Youw  dari Nabire ini dalam benaknya  ‘orang terbelakang menjadi orang pertama’. Program pertama yang dia lakukan di Apogomakida, sekarang Distrik Piyaiye ini mengirim 10 orang guru honor asal dari Piyaiye PGSD di Manado. Mereka dibiayai hingga selesai dengan DPA Distrik Piyaiye dan sekarang sudah bertugas di Sekolah Dasar  (SD) Apogomakida Distrik Piyaiye, SDM di bidang pendidikan membentuk kelompok tani, Kelompok Usaha Bersama (Kube ) bidang  penanaman anggrek dan buah markisa. Pembinaan dan pengkaderan dengan motto ‘beriman belajar berlatih berkarya’ dengan dasar keberaniannya dia menghadap Menteri Kehutanan di Jakarta untuk meminta  pembayaran ganti rugi (hak ulayat ) masyarakat Piyaiye selama sepuluh tahun beroperasi di wilayah Potowai Buru, Nariki Apogomakida ketika itu. “Pemerintah tak mampu bayar  ‘ilegal logging’ tuntutan ganti rugi 25 triliun, maka kasus ilegal logging pun ditutup tahun 2010 untuk sementara,” ujar dia Menteri Kehutanan, Bupati Nabire AP Youw dan Ketua  DPRD saat itu Daniel Butu bersama Ketua Pengadilan pernah bertemu dan kehutanan pernah bertemu di Nabire itu . Berpatokan pada belajar berlatih dan berkarya, akhirnnya kembali dilantik menjadi Kepala BPMK Kabupaten Nabire tahun 2010 - 2015 ini dan pernah ikut tranning di Kabupaten Malang tentang pemberdayaan ekonomi  masyarakat ditunjang dengan berbagai bidang pelatihan lain. Sarjana Pendidikan (S.Pd) jebolan Universitas Kristen Tomohon dan jabatan sekarang non aktif pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dogiyai ini merindukan bagaimana menata, menghilangkan rumput atau alang-alang di Moanemani mulai dari halaman rumahnnya sendiri. Di Kediaman rumah dinas Tokapo Moanemani Dogiyai, pekarangannya penuh dengan tanaman kol, pepaya, ubi jalar dan keladi rawa ini. Orang terbelakang menjadi orang pertama, dasar kemauan semangat dibarengi belajar, berlatih berkarya dan ditambah beriman. Menata diri ‘Dogiyai Dou Ena’, melawan Dogiyai Dou Peu menuju Dogiyai bahagia. Alam dan manusia bicara seratus tahun generasi Dogiyai berikut dalam pengalamannya keliling dengan pohon pinus rumah pribadinya Potranigra Nabire ini. (don)
Suroso  11/26/2017 9:14:14 AM
Delapan Tahun Krisis Pemimpin di Dogiyai
KARAKTER sosok Pamong murni seperti, Drs. Adauktus Takerubun, yang memimpin di sebuah kabupaten otonomi baru Lembah Hijau, sekarang Kabupate
Suroso  11/5/2017 9:32:24 AM
Pemuda Sebagai Tulang Punggung Pembangunan
oleh:Willy Andhika, SST                Momentum Hari Sumpah Pemuda sud
Agenda Nabire
Kejuaraan Bulutangkis Nabire Open 2017
 11/18/2017 6:31:58 PM

Tanggal : 12 s/d 17Desember 2017

Pukul    : 10.00 WIT s/d Selesai

Tempat : GOR Kotalama, Nabire

HAHAEEE...
Panggilan Sayang Tete ke Nene
 11/12/2017 8:22:53 AM
Satu kali cucu tanya ke tete: "Tete ni tiap kali panggil nene selalu deng panggilan darling, sayang, honey. Darling su makan? Sayang kopi mana? Honey mo ikut? Tete ni paleng romantis sampeee... de pu rahasia apa ka?" Tete: "Ssstttt mari sini tete bisik-bisik, ko jang bilang-bilang sama nene e?" Cucu: "Kenapa jadi Tete?" Tete: "Tete su lupa Nene pu nama..."