Home Opini ORANG ASLI PAPUA (OAP) MENGALAMI KEMATIAN BERLAPIS

ORANG ASLI PAPUA (OAP) MENGALAMI KEMATIAN BERLAPIS

Suroso  Selasa, 26 Desember 2017 1:19
ORANG ASLI PAPUA (OAP) MENGALAMI KEMATIAN BERLAPIS

Oleh Ernest Pugiye

Orang asli Papua (Selanjutnya and abaca: OAP) masih tetap mengalami kematian di mana-mana. Kondisi ini teramat memilukan hati dan mencemaskan OAP meskipun masih diperjuangkan Papua yang damai oleh para pihak. Berdasarkan pengalaman OAP selama ini, jumlah kematian OAP lebih semakin tinggi ketimbang angka kelahirannya. Jika kita meneliti jumlah pasien di setiap rumah sakit umum dan daerah di seantero Papua, semua ruangannya hanya sudah hampir dipenuhi oleh para pasien OAP. Mereka mengalami penderitaan dengan berbagai macam penyakit yakni seperti sakit Malaria, FBC dan HIV/AIDS. Sementara itu, orang non Papua tak banyak ditemukan/ bisa dihitung dengan jari-jemari pada kedua tangan di sana. Selain itu, para pengunjung dan para pelayan juga dipadati oleh orang non Papua, meskipun tidak ada pasien yang harus dikunjungi dari keluarga mereka. Entah cepat atau lambat, para pasien OAP di setiap rumah sakit itu sudah semakin tetap bertambah dan serentak bertambah pula peristiwa kematian mereka. Karena itu kita tidak heran hanya jika para pasien OAP biasanya meninggal dalam satu hari lebih dari 5 orang di setiap rumah sakit yang ada di seantero Papua. Kematian berlapis Jika diteliti secara baik, semua penyakit yang dialami oleh OAP itu bisa disembuhkan. Penyakit yang diderita mereka itu sudah tentu ada obatnya. Sakitnya bisa disembuhkan jika mereka sudah melewati proses pengobatan dan perawatan medis tersebut. Apalagi, ada sejarah mengajarkan bahwa OAP biasa menyembukan berbagai penyakit yang dideritanya sendiri. Obatnya, mereka sudah langsung ambil dan konsumsi dari alam yang biasa disebut obat tradisional. Alam Papua itu adalah produk obat bagi mereka dalam sepanjang sejarah. Itu sudah berada bagi Papua sekalipun kehadiran pemerintah Indonesia selama lebih dari lima decade telah memusnahkan, menghancurkan dan tidak membantu masyarakat untuk membudidayakan obat tradisional Papua. Tapi anehnya, OAP gampang meninggal di rumah sakit yang katanya serba guna itu. OAP harus terpaksa menghembuskan nyawanya dalam proses perawatan para pelayan kesehatan pada setiap rumah sakit yang ada di tanah Papua karena minimnya pelayanan kesehatan. Sambil kita menyadari konflik Papua secara umum di tanah Leluhur, orang Mee (OAP) di Kabupaten Dogiyai masih tetap mengalami kematian secara berlapis-lapis. Sejarah telah mengajarkan bahwa OAP tidak luput dari kematian massal pada setiap tahun. Secara defakto, kematian atas OAP di Dogiyai itu telah terjadi dari tiga tingkatan utama yakni tingkat usia anak dan remaja, tingkat pemuda dewasa dan yang sudah menikah serta masih tetap ada kematian OAP pada tingkat usia lanjut di Kabupaten Dogiyai. Dari hari ke hari, sistem kematian OAP di Kabupaten Dogiyai yang separah itu telah nampak terbukti melahirkan korban nyawa yang semakin memprihatinkan dan membisu. Menurut laporan dari Lembaga Dewan Adat Daerah Istimewa Tota Mapiha berdasarkan data survey terhadap proteksi keberadaan OAP di Dogiyai pada tahun 2015 sampai tahun 2017 berjalan, jumlah penduduk orang asli Papua yang telah meninggal itu adalah sebanyak  250 jiwa. Di antara 250 jiwa itu, ada beberapa penduduk asli Papua telah meninggal dunia karena teramat kurangnya mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dari pemerintah daerah dan pusat. Juga hampir kebanyakan mereka yang terdiri dari remaja dan anak dibunuh oleh pemerintah karena masih adanya persoalan gisi buruk, penyakit HIV/AIDS yang semakin hari semakin meningkat bagi OAP di Dogiyai Papua. Sementara bagi sebagian OAP lainnya yang meninggal itu karena masih tetap adanya kecelakaan motor/mobil, pengkonsumsian minuman keras (miras) dan peristiwa ditembak mati secara membabi buta dengan senjata jatam oleh polisi/TNI. Korban nyawa mereka yang ini hanya terdapat dari golongan anak muda dewasa di Dogiyai. Kemudian orang asli Papua yang pada usia lanjut termasuk juga perempuan dewasa produktif itu meninggal dunia karena tetap adanya penyakit dalam (TBC Paru, ginjal dan liver), malaria, diare dan gisi buruk serta pengoperasian kandungan kaum wanita produktif dari pihak rumah sakit daerah Nabire. Kesemua masalah Papua dari berbagai perspektif ini dipelihara, dikelola melalui adanya berbagai proses kebijakan pembangunan yang tidak memihak kepada OAP di tanah Leluhurnya. Realitas berbagai konflik Papua yang tidak kunjung henti ini adalah gambaran konkret dari bagaimana pemerintah Inodonesia menggusur keberadaan OAP dan alam Papua menuju kematian OAP. Dengan demikian, saya meramalkan bahwa OAP dan alam Leluhur Papua tidak akan ada masa depan yang Baik dalam bingkai Negara Republik Inodnesia. Dialog tindakan pilihan bersama Agar ada masa depan yang damai bagi OAP dan alam Papua, misi dialog Jakarta-Papua paling penting untuk segera dilaksanakan oleh pemerintah Jokowi. Patut dipahami bersama bahwa dialog adalah pilihan bersama dan bebas untuk dilaksanakan pemerintah Jakarta dan rakyat asli Papua di luarg negeri. Dialog adalah juga kata kunci untuk menuntaskan berbagai konflik Papua dan sebagai titik balik untuk menatap masa depan Papua yang damai. Maka Presiden Negara RI, Joko “Jokowi” Widodo harus perlu setia terhadap janjinya untuk mau segera menyelesaikan berbagai konflik Papua secara menyeluruh melalui dialog Jakarta-Papua. Sambil Presiden Jokowi memastikan waktu dan tempat dialog di luar negeri, pemerintah bisa belajar dari OAP. Patut disimak oleh pemerintah Jokowi bahwa apabila terjadi masalah di antara setiap anggota komunitas suku-suku bangsa Papua, seperti salah satu pihak melakukan masalah perebutan atas tanah milik anggota komunitas masyarakt lain atau komunitas suku bangsa lain maka mereka biasanya segera menyelesaikannya melalui suatu dialog damai. Adanya masalah seperti ini sudah biasa ditindak tegas secara baik, adil dan jujur karena telah dianggap sebagai pelanggaran HAM berat terhadap keberadaan HIDUP masyarakat adat Papua tentang kepemilikan dan sistem nilai hidup sejati bagi etnis Papua. Masalah ini pun tidak biasa berlangsung lama dan dapat segera diselesaikan secara menyeluruh melalui jalan dialog damai, berdemokratis dan mengangkat martabat manusia. Dan agen dialog damai itu biasa dimediasi oleh satu pihak yang netral (mana tonowi) di lingkungan suku bangsa setempat demi mempertahankan HIDUP yang damai di Papua. Guna menciptakan perdamaian di Papua, kedua pihak sudah tentunya memperoleh solusi menyeluruh yang teramat memuaskan setelah dipertemukan dalam adanya suatu proses pelaksanaan dialog yang damai, adil, benar dan bermartabat tersebut. Dialog ini bisa dialaksanakan berulang kali pada masa mendatang hanya jika masih belum memperlihatkan solusi komprehensifnya. Intinya, setiap orang Papua dari berbagai suku bangsa telah diajarkan melalui budayanya bahwa dalam setiap peristiwa termasuk masalahnya, mereka biasanya selalu menyelesaikannya melalui dialog damai guna mempertahankan HIDUP yang damai bagi Papua. Oleh karena itu, dialog Jakrta-Papua mengharapkan dan mendesak pemerintahan Jokowi untuk tidak mengingkari janji kenegarawannya (janji dialog dengan rakyat Papua), tidak lagi menipu rakyat Papua dan sesegera mungkin menyelesaikan berbagai konflik Papua secara adil, damai dan bijaksana serta bertanggung jawab melalui dialog Jakarta-Papua guna menciptakan Papua, Tanah damai.   Penulis adalah Alumnus pada Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur” Abepura

Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:42
MEMBENTUK GENERASI BANGSA YANG BERCORAK PAPUA
Oleh Ernest Pugiye Anak-anak asli Papua (selanjutnya akan disebut anak-anak Papua) sebagai generasi penerus bangsa masih nampak kehilanga
Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:43
Menyambut MTQ XXVII Propinsi Papua di Nabire Refleksi Al Qur’an sebagai Spirit Kebersamaan dan Berkemajuan
oleh : Basirun Samlawi (Dosen STAI As Syafi’iyyah Nabire) Perhelatan besar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXVII propinsi Papua tahun
Agenda Nabire
PENGUMUMAN
 Selasa, 24 April 2018 2:1

Pengumuman
Kepada Yth : Para Guru SMA/SMK se Kabupaten Nabire

Dengan ini diinformasikan bahwa pembayaran Gaji Guru SMA/SMK bulan April 2018 telah dibayarkan pada tanggal 3 April 2018, selanjutnya untuk pembayaran gaji bulan Januari, Februari dan Maret 2018 melalui mekanisme SP2D Gaji Susulan (Rapel) tiga (3) bulan saat ini sedang dalam proses penginputan nama-nama sejumlah 398 orang guru SMA/SMK oleh BPKAD Provinsi Papua (Subdit Belanja Gaji ASN) yang akan dibayarkan pada bulan ini juga.Hal tersebut sesuai hasil koordinasi dan konsultasi pihak Pemkab Nabire, kepada Kepala BPKAD Provinsi Papua.

Demikian informasi ini disampaikan terima kasih.

 

Kepala BPKAD Nabire

Slamet, SE.,M.Si

HAHAEEE...
Tra Bisa Reuni
 Selasa, 17 April 2018 4:40

Ada tete satu dia ada kasih nasehat dia pu cucu yang ada pamalas sekolah.

Tete : "Cucu... kamu itu harus sekolah tra boleh pamalas"

Cucu : "Memang kenapa tete kalo sa malas sekolah ?"

Tete : "Adooooohhh cucu ……. sekolah itu sangat penting !  Kalo ko tram au sekolah, besok kalau su besar kamu mau reuni deng siapa ?"

Info Loker