Home Papua Umat Beragama di Tanah Papua Jangan Terprovokasi Kasus Penyerangan Gereja di Jogyakarta

Umat Beragama di Tanah Papua Jangan Terprovokasi Kasus Penyerangan Gereja di Jogyakarta

Suroso  Senin, 12 Februari 2018 19:34
Umat Beragama di Tanah Papua Jangan Terprovokasi Kasus Penyerangan Gereja di Jogyakarta
Laporan: Fani JAYAPURA,- Coordinator Jaringan Damai Papua (JDP) Neles Tebay, menghimbau kepada semua umat beragama di seluruh Tanah Papua untuk tidak terpancing atau terprovokasi oleh Peristiwa penyerangan terhadap Gereja St Lidwina di Kabupaten Sleman, Daerah istimewa Jogyakarta, Minggu (11/2). Menurutnya, peristiwa penyerangan ini merupakan tindakan yang mesti dihindari oleh semua umat bergama di Bumi Cenderawasih. “Orang Papua biasa mengatakan, masalah di laut, jangan dibawa ke darat. Demikian juga, “masalah di Jogyakarta, jangan dibawa ke tanah Papua,” tegasnya dalam pres release yang diterima redaksi, Senin kemarin. Dikatakan, orang Papua, entah apapun agamanya, tidak akan tergerak untuk mengganggu, apalagi menyerang, tempat ibadat dari agama lain. Karena, dalam kebudayaan Papua, orang Papua diajarkan untuk tidak mengganggu tempat sakral atau keramat. Berpedomankan pada ajaran adat ini, orang Papua memandang semua tempat ibadah dari agama apa pun sebagai tempat sakral atau tempat keramat. “Makanya, jangankan membakar. Memetik sehelai daun di halaman tempat ibadah saja orang Papua tidak akan lakukan,” imbaunya Ketua STF Fajar Timur itu. Pemenang pengharagaan Tji Hak Soon untuk keadilan dari seul, Korea Selatan, 2013, menambahkan, orang Papua dapat saja marah terhadap orang lain yang adalah pemeluk agama lain. Tetapi kemarahan ini tidak akan mendorong orang Papua untuk menyerang atau membakar tempat ibadah dari orang yang dimarahinya. Didasarkan pada ajaran adat ini, orang Papua selama ini tidak pernah mengganggu, apalagi membakar, tempat ibadah dari agama manapun di tanah Papua. Orang Papua sangat menghormati tempat ibadah dari semua agama.  “Kami, orang Papua, dengan hati terbuka menerima semua orang yang datang dari luar Papua. Kami tidak melalukan seleksi atas dasar agama dan kepercayaan. Tetapi semua orang yang datang dari luar mesti sadari bahwa orang Papua mempunyai tradisi kebudayaan. Dan salah satu ajaran budaya orang Papua adalah menghormati tempat sakral/keramat dari semua agama. Oleh sebab itu, kami mendorong, semua orang yang dari luar Papua dan hidup di tanah Papua untuk menghargai ajaran adat Papua ini. Ajaran adat ini merupakan suatu kearifal lokal. Orang yang datang dari luar tidak boleh memprovokasi orang Papua dan semua orang lain yang sudah hidup damai di Tanah Papua untuk melakukan tindakan kekerasan seperti menyerang tokoh agama atau tempat idabah,” katanya. Lanjutnya, semua orang yang hidup di Papua juga perlu mewaspadai masuknya orang-orang yang mempunyai paham radikal atas agamanya. Karena mereka yang punya paham radikalisme ini mempunyai potensi untuk menciptakan konflik kekerasan atas dasar keyakinan agamanya. Mereka yang punya paham radikalisme tidak boleh diberi ruang dan kebebasan untuk menyebarkan paham dan ajaran radikalismenya di Papua yang dijuluki sebagai tanah Damai. Perlu ada tindakan pencegahan dari awal agar mereka tidak menularkan virus radikalisme pada orang lain di tanah Papua. Apabila polisi sudah mendeteksi kehadiran orang-orang yang mempunyai paham radikalisme, perlu diambil tindakan sesegera mungkin. Sebab, apabila mereka dibiarkan berkembang, maka Polisi akan dianggap melindungi orang-orang yang punya paham radikalisme dan mendukung ajaran radikalismenya. Kami tidak ingin kasus penyerangan di Gereja di Jogyakarta terjadi juga di tanah Papua, maka polisi perlu mengambil tindakan secepatnya apabila dideteksi hadirnya tokoh-tokoh radikal yang sangat membahayakan kerukunan masyarakat dan integrasi bangsa Indonesia.
Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:42
MEMBENTUK GENERASI BANGSA YANG BERCORAK PAPUA
Oleh Ernest Pugiye Anak-anak asli Papua (selanjutnya akan disebut anak-anak Papua) sebagai generasi penerus bangsa masih nampak kehilanga
Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:43
Menyambut MTQ XXVII Propinsi Papua di Nabire Refleksi Al Qur’an sebagai Spirit Kebersamaan dan Berkemajuan
oleh : Basirun Samlawi (Dosen STAI As Syafi’iyyah Nabire) Perhelatan besar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXVII propinsi Papua tahun
Agenda Nabire
PENGUMUMAN
 Selasa, 24 April 2018 2:1

Pengumuman
Kepada Yth : Para Guru SMA/SMK se Kabupaten Nabire

Dengan ini diinformasikan bahwa pembayaran Gaji Guru SMA/SMK bulan April 2018 telah dibayarkan pada tanggal 3 April 2018, selanjutnya untuk pembayaran gaji bulan Januari, Februari dan Maret 2018 melalui mekanisme SP2D Gaji Susulan (Rapel) tiga (3) bulan saat ini sedang dalam proses penginputan nama-nama sejumlah 398 orang guru SMA/SMK oleh BPKAD Provinsi Papua (Subdit Belanja Gaji ASN) yang akan dibayarkan pada bulan ini juga.Hal tersebut sesuai hasil koordinasi dan konsultasi pihak Pemkab Nabire, kepada Kepala BPKAD Provinsi Papua.

Demikian informasi ini disampaikan terima kasih.

 

Kepala BPKAD Nabire

Slamet, SE.,M.Si

HAHAEEE...
Tra Bisa Reuni
 Selasa, 17 April 2018 4:40

Ada tete satu dia ada kasih nasehat dia pu cucu yang ada pamalas sekolah.

Tete : "Cucu... kamu itu harus sekolah tra boleh pamalas"

Cucu : "Memang kenapa tete kalo sa malas sekolah ?"

Tete : "Adooooohhh cucu ……. sekolah itu sangat penting !  Kalo ko tram au sekolah, besok kalau su besar kamu mau reuni deng siapa ?"

Info Loker