Home Opini 5 Patologi Sosial yang Membuat Masyarakat Papua menjadi Ketergantungan

5 Patologi Sosial yang Membuat Masyarakat Papua menjadi Ketergantungan

Suroso  Minggu, 25 Februari 2018 19:44
5 Patologi Sosial yang Membuat Masyarakat Papua menjadi Ketergantungan

Oleh: Moses Douw

Patologi merupakan cabang bidang kedokteran yang berkaitan dengan ciri-ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh.Ahli patologi anatomi membuat kajian dengan mengkaji sistem organ sedangkan ahli patologi klinik mengkaji perubahan pada fungsi yang nyata pada fisiologi tubuh. Patologi secara umum, kajian terhadap masalah, merupakan luas dan kompleks lapangan ilmiah yang berusaha untuk memahami mekanisme, dan penalaran berdasarkan teori patologi berlandaskan masalah yang akan di kaji. Masyarakat secara umum merupakan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.  Pada dasarnya masyarakat pada umumnya pun merupakan individu-individu yang terbentuk dalam sebuah wadah yang terstruktur sebagai mestinya, berlandaskan pada kebiasaan dan adat yang sudah ada. Kemudian   sebuah , istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Wikipedia.com Masyarakat Papua yang terkelompok dan terstruktur secara kredibel berdasarkan adat dan budaya setempat ini, dengan perkembangan modernisasi, dan struktur sosial di Indonesia khususnya di Papua, terjadilah masyarakat Papua sebagai pengidap patologi sosial. Penyakit yang sedang menyerang masyarakat Papua, pada halnya penyakit modern istilahnya bahwa penyakit yang dikembangkan oleh luar. Proses perkembangan masyarakat Papua pada sebelumnya, bersatu padu dengan adat isti adat dan kebiasaan masyarakat secara sederhana telah terstruktur. Namun pada proses perkembangan dengan keadaan sosial budaya, ekonomi politik sangat pesat di Papua. Kebudayaan baru dan modernitas yang terstruktur ini sangat bertentangan dan juga menghancurkan kebiasaan masyarakat Papua yang sebenarnya. Misalnya masyarakat Papua pada sebelum sangat menyatu dengan kebiasaan seperti: budaya kerja, budaya berpikir dan budaya mengadaptasi. Budaya dan kebiasaan masyarakat Papua dikembangkan sebagai filosofi hidup, yang sebagaimana dasar hidup mereka. Pada masa kini hanya menjadi catatan bagi generasi penerus bangsa Papua. Kebiasaan masyarakat ini sangat dipertanyakan dan disayangkan, tak seperti yang sebelumnya. Oleh karena itu, masyarakat Papua pada masa kini telah terjangkit dengan beberapa patologi sosial (penyakit sosial). Patologi yang dihadapi ini sangatlah kompleks sehingga penulis ingin memaparkan patologi sosial, lebih pada patologi yang mengubah masyarakat Papua menjadi masyarakat ketergantungan yakni, sebagai berikut: 1.    Togel dan Penjudian Togel adalah salah satunya permainan yang sangat mendarah daging dan di idamankan oleh masyarakat Papua adalah Togel. Situs permainan togel dari beberapa negara yakni, Sydney, Kamboja, Singapuredan Hongkong. Beberapa negara ini, mengeluarkan anggka berdasarkan nomor sebagai tebakan. Pelanggang selalu mengeluarkan uang untuk memasang nomor yang akan di keluarkkan dari situs tersebut.  Lagi pula masyarakat Papua mereka selalu memasang nomor untuk menebak, tak lupa juga untuk memasang nomor di kenakan uang. Khususnya untuk nomor sering memasang 1 nomor dengan harga minimal Rp:  5.000 (lima ribu), sedangkan angka di pasang dengan minimal 5 pula. Tak hanya togel, masyarakat Papua pun selalu melaksanakan kegiatan perjudian antaranya Dadu, Kartu Remi dan Gaple. Permainan dadu, remi dan gaple ini sering dimainkan oleh masyarakat dengan memasang uang yang lebih dari Rp: 50.000 ribu. Permainan ini sangat membuktikan bahwa penulis pun ikut melihat langsung ke beberapa daerah yakni: Jayapura, Nabire, Timika, Dogiyai, Deiyai dan Manokwari. Dan saya yakin bahwa pasti di setiap daerah di Papua terjadi seperti demikian. Keadaan masyarakat sangat terjerumus dengan jenis permainan ini. Masyarakat Papua pada umumnya tak ada kegitan lain, di setiap harinya selain bermain Togel dan judi kartu, khususnya yang sudah radikal dengan permainan ini. Perempuan pun ikut bermain. Waktu sehari pun berani berkorban hanya demi Togel dan Judi.  Pekerjaan yang sebenarnya masyarakat lakukan telah tertinggal dan tak bisa masyarakat Papua menanggulagi. Kebiasaan masyarakat Papua seharunya bekerja untuk kebutuhan dasar dalam keluarga pun kemudian bertambah bergantung ke manusia lainya. Dilapisan masyarakat Papua sedang bermunculan dengan ketergatungan pada pegawai di sekitarnya dan kepada Togel dan Judi. Sistem peredaran uang pun meraja dalam kalangan masyarakat Papua, sehingga permainan ini benar-benar telah mengubah masyarakat Papua dalam dunia instan.   2.    Pemilukada Pesta Uang Demokrasi secara umum menggambarkan bahwa bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi membuka warga negara berpartisipasi dalam proses demokratiasi, secara langsung dan melalui perwakilan. Demokrasi memberi ruang untuk setiap warga negara berkreatif, berintraksi, bersuara, berpendapat, dan berhak untuk memilih dan dipilih. Dalam pemilihan umum dan daerah setiap orang bebas untuk memilih serta di pilih, tanpa ada larangan. Namun pada, prosesnya tak berjalan sesuai dengan apa yang sebenarnya atau tak berjalan berdasarkan hukum serta tata aruran yang mengacu pada pemilihan yang berlandaskan Luber dan Jurdil. Mengapa? Tentunya kita kenal bahwa dalam Pemilukada selalu saja terjadi Politik Uang. Pesta uang dikembangkan dari patologi pemilihan kepala daerah dan pemilihan umum tingkat pusat. Penyakit yang tercipta dalam pemilukada merupakan money politik atau berpesta pora dengan uang. Pesta uang adalah dimana kandidat yang sedang dicalonkan sering melakukan money politic secara besar-besaran dalam wilayah pemilihanya. Sering saja menimbulkan sifat pembangunan daerah yang buruk, dengan perilaku money politik. Oleh karena adanya, politik uang atau pembagian uang kepada masyarakat dimana adanya pemilukada, menimbulkan masyarakat Papua tergantung kepada pemerintah dan pejabat. Akhirnya banyak terjadi permohonan-permohonan yang masuk di kantor pemerintahan.   3.    Pilih Kasih Dalam kehidupan berbangsa, setiap suku dan bangsa di Papua memiliki cara hidup dan sistem kehidupan yang sangat unik. Hal ini, disebabkan dengan adanya keadaan daerah Papua yang sangat sulit untuk di jangkau antar kampung. Lagi pula tak lepas juga dari suku dan filosofi hidup yang telah mendasari hidup suku-suku di Papua. Dan pula masyarakat Papua secara umum merupkan kulit hitam manis dan fisik masyarakat Papua sangat kuat sebab tiap hari hanya bekerja, itupun juga pada sebelumnya. Salah satu sumber kekuatan masyarakat Papua adalah kerja untuk kebutuhan primer dalam keluarganya. Istilahnya bahwa masyarakat Papua akan hidup apabila berusaha dan bekerja keras. Dengan perbedaan dari seluruh suku itu hanya sebuah sikap yang sangat idetik antaranya, perasaan kasih. Kasih telah mendarah daging dalam masyarakat Papua. Pesaraan kasih terhadap keluarga dan seseorang paling mendalam. Namun dalam perasaan itu, terdapat tipologi yang di kemukakan Penulis yakni kasih itu memberi, kasih itu sabar, kasih itu perasaan yang merasakan kehidupan orang lain, kasih itu murah hati dan lainya. Dalam hal ini, masyarakat Papua memiliki sikap dan penyakit  perasaan murah hati, istilah dalam prakteknya adalah memberi, menolong, penyayang, pengasih, baik hati, dan  lainya. Oleh karena itu, dalam prakteknya sering saja kita lihat bahwa adanya perasaan kasih dan baik hati terhadap sesama di masyrakat Papua. Secara khusus dalam berbagai kegiatan pemerintahan di Papua selalu salurkan uang kepada masyarakat Papua. Uang yang disalurkan pun juga sangat besar jumlahnya. Enta dari mana uang itu di dapat? Kemudian bantuan sosial dalam hal ini juga dari Dinas Sosial  dari seluruh kabupaten di Papua sering melakukan pembagian secara pilih muka atau pilih kasih. Sangat jelas bahwa dalam pembagian dana bansos tidak berdasarkan asas efisiensi. Dengan demikian, hal ini dipandang sangat kecil namun sangat mengubah kebiasaan masyarakat Papua pada umumnya. 4.    Bantuan Sosial Berupa Makanan Atau Bantuan Instant Bantuan sosial adalah bantuan prioritas atau kewajiban pemerintah daerah di Indonesia, khususnya di Papua. Papua memiliki daerah yang sangat sulit untuk mendapatkan pelayanan publik yang sangat demokratis. Hal ini di sebabkan dengan keadaan wilayah yang sangat sulit untuk di jangkau masyarakat Papua. Disinilah masyarakat Papua mempertahankan keberadaan meraka sebagai orang asli Papua yang memiliki makanan, minuman, obat obatan, serta kebutuhan lainya dari alam Tanah Papua itu sendiri. Namun pada proses perkembanganya, Papua tanah yang indah itu di petak petakkan oleh pemerintah Indonesia dan para elit politik. Sehingga pada saat ini Papua yang dahulunya merupakan satu provinsi dan beberapa kabupaten, kini telah dimekarkan beberapa daerah yakni: Provinsi Papua memiliki 26 kabupaten dan Papua Barat 13 kabupaten. Maka jumlah keseluruhan kabupaten di Papua dan Papua Barat adalah 42 Kabupaten. Dari gambaran diatas ini, membuktikan bahwa jumlah bantuan sosial pun semakin meningkat di setiap daerah, enta itu di perkotaan atau di pedalaman. Bantuan sosial yang dimaksudkan adalah bantuan berupa makanan, minuman, pakaian, dan uang. Bantuan sosial dengan hal seperti demikian akan berakibat kepada masyarakat Papua. Dampak negatif  yang sangat luar bisa dibandingkan denga dampak posifif. Mengapa? Tentunya masyarakat Papua akan merasa puas dengan bantuan sehingga akan muncul konsumen tanpa produktif atau konsumen instan. Pada dasarnya masyarakat Papua merupakan dasar hidup yang mendasar seperti masyarakat produktif. Sikap dan bantuan ini sangat disayangkan sebab pemerntah daerah telah mengubah masyarakat Papua menjadi masyarakat penikmat instan. Bantuan sosial ini masuk akal apabila bersifat membagun atau melesatarikan budaya setempat. Dan pada dasarnya, salurkan bantuan sosial berupa budidaya, ternak atau bantuan lain yang bersifat masyarakat Papua menjadi masyarakat produktif. 5.  Dana Desa dan Uang Gelap Pada akhir Tahun 2013 pemerintah pusat berusaha memperhatikan kembali desa, dengan hadirnya ideologi tentang Desa Membangun Indonesia. Atinya bahwa membangun Indonesia dari luar ke dalam atau membangun Indonesia dari desa ke kota. Tak hanya itu, sisi gelap yang selama ini di sembunyikan dari UU Desa No 6 Tahun 2014 adalah bagaimana menjamin desa berdasarkan pengkuan (bukan desentralisasi) demi mempertahankan NKRI. Sehingga menyalurkan dana desa sebesar 1 miliar untuk satu desa.  Hal ini berkecimpung untuk membangun desa. Namun, pada prosesnya tak berjalan sesuai apa yang diharapkan oleh pemerintah pusat. Enta itu, salahnya pendamping atau siapa? Masyarakat Papua dan perangkat desa di Papua sering berpikir bahwa uang itu di bagi untuk bagi setiap KK (kepala keluarga) dan setia orang. Tak hanya itu, dana milayaran ini di boros juga dari BPMK kabupaten dengan alasan kelancaran adminitrasi. Sehingga apa yang di harapkan dari Pemeritah pusat ini sering di bantai dari peringkat desa dan daerah. Mengapa? Karena uang Milyaran ini untuk pembagian berasarkan KK dan Individu tanpa memikirkan pembangunan dan pemberdayaan masayarakat Papua itu sendiri. Penulis pernah membuktikan di Lapangan bahwa adanya penyimpangan dalam pengelolaan dana desa itu. Dana desa diolah untuk berfoya-foya dengan masyarakatnya itu sediri, tanpa membuat kegiatan yang sangat memproduktifkan masyarakat desa. Sehingga ketergantunggan masyarakat terhadap Dana desa semakin meningkat secara pelan, sehingga dengan sendirinya akan terkikis budaya dan kebiasaan mereka. Tak hanya demikian, selain dari dana desa masyarakat Papua menerima dana tak terduga. Uang  yang dibagikan itu sangat  tidak jelas, bahwa uang itu bersumber dari dari Dinas apa dan dari intansi apa? Penulis yakin bahwa, pembagian uang itu sangat membunuh kebiasaan masyarakat serta tak memberdayakan masyarakat melalui kegiatan bermanfaat yang lainya. Oleh karena itu, penulis juga sangat terharu dengan keadaan seperti demikian sehingga penulis pun memetak-metakan kedalam beberapa poin demikian. Kebiasaan suatu bangsa akan tetap teguh apabila kebiasaan itu terus untuk melestarikan dan juga mempunyai jiwa untuk selalu mengubah masyarakap Papua demi mempertahankan apa yang kita miliki pada sebelumnya khusunya dalam budaya, ekonomi dan politik. Tak hanya rasa cinta terhadap tanah air tetapi jiwa bertindak benar untuk masyarakat Papua adalah orang yang membentuk masyarakat Papua untuk mempertahankan kebiaasaan masyarakatnya. Sebab itu, seiring dengan perkembangan Tanah Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka penulis pun menyarankan dan memberi solusi kepada pihak yang berwenang dalam penanganan yakni: 1) Membangun masyarakat Papua dengan koperasi serba usaha atau usaha kecil menengah; 2) Memberdayakan masyarakat Papua yang tak mampu (dalam program intansi tertentu; 3) Memberdayakan Kepala Keluarga dengan bantuan produktif; 4) Membuka BUMDes untuk desa kurang mampu; 5) Memberayakan mama Papua dengan Pasar mama Papua yang layak; 6) Menggantikan bantuan berupa makanan dengan ternak atau bantuan alat kerja; 7) Memberdayakan Keluarga di Papua dengan budidaya; 8) Membangun desa dengan potensi yang ada; 9) Kepolisian stop bandar Togel dan harus tutup togel; 10) Stop memberikan berdasarkan kasih tetapi memberi dengan hal yang membangun; 11) Pemerintah dan Intelpol harus hentikan pembagian uang secara gelap-gelap; 12) Pendamping dana desa harus kerja berdasarkan aturan dan harus mendampingi kepala desa atas tugas Negara  dan; 13)  Panwas pemilihan kepala daerah dan KPU harus bekerja keras untuk memberi sosialisasi pemilihan kepala daerah yang bersih berdasarkan asas jujur dan adil serta langsung, umum, bebas dan rahasia kepada masyarakat Papua. Persoalan ini sangat muda untuk diatasi sebab dana pun sudah ada dan tersedia dari dari bebereapa intansi pemerintah daerah di Papua dan tak ada hambatan juga untuk mengatasi beberapa masalah yang membuat masyarakat Papua menjadi kertergantungan diatas ini.

Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:42
MEMBENTUK GENERASI BANGSA YANG BERCORAK PAPUA
Oleh Ernest Pugiye Anak-anak asli Papua (selanjutnya akan disebut anak-anak Papua) sebagai generasi penerus bangsa masih nampak kehilanga
Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:43
Menyambut MTQ XXVII Propinsi Papua di Nabire Refleksi Al Qur’an sebagai Spirit Kebersamaan dan Berkemajuan
oleh : Basirun Samlawi (Dosen STAI As Syafi’iyyah Nabire) Perhelatan besar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXVII propinsi Papua tahun
Agenda Nabire
PENGUMUMAN
 Selasa, 24 April 2018 2:1

Pengumuman
Kepada Yth : Para Guru SMA/SMK se Kabupaten Nabire

Dengan ini diinformasikan bahwa pembayaran Gaji Guru SMA/SMK bulan April 2018 telah dibayarkan pada tanggal 3 April 2018, selanjutnya untuk pembayaran gaji bulan Januari, Februari dan Maret 2018 melalui mekanisme SP2D Gaji Susulan (Rapel) tiga (3) bulan saat ini sedang dalam proses penginputan nama-nama sejumlah 398 orang guru SMA/SMK oleh BPKAD Provinsi Papua (Subdit Belanja Gaji ASN) yang akan dibayarkan pada bulan ini juga.Hal tersebut sesuai hasil koordinasi dan konsultasi pihak Pemkab Nabire, kepada Kepala BPKAD Provinsi Papua.

Demikian informasi ini disampaikan terima kasih.

 

Kepala BPKAD Nabire

Slamet, SE.,M.Si

HAHAEEE...
Tra Bisa Reuni
 Selasa, 17 April 2018 4:40

Ada tete satu dia ada kasih nasehat dia pu cucu yang ada pamalas sekolah.

Tete : "Cucu... kamu itu harus sekolah tra boleh pamalas"

Cucu : "Memang kenapa tete kalo sa malas sekolah ?"

Tete : "Adooooohhh cucu ……. sekolah itu sangat penting !  Kalo ko tram au sekolah, besok kalau su besar kamu mau reuni deng siapa ?"

Info Loker