Home Opini MEMBENTUK GENERASI BANGSA YANG BERCORAK PAPUA

MEMBENTUK GENERASI BANGSA YANG BERCORAK PAPUA

Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:42
MEMBENTUK GENERASI BANGSA YANG BERCORAK PAPUA
Oleh Ernest Pugiye Anak-anak asli Papua (selanjutnya akan disebut anak-anak Papua) sebagai generasi penerus bangsa masih nampak kehilangan identitas. Ada banyak anak-anak Papua tidak lagi menampilkan ciri khasnya mereka sebagai orang Papua. Zaman modernisasi yang menawarkan berbagai nilai, ilmu pengetahuan dan teknologi juga ikut memperparah kodisi kehilangan identitas mereka. Di zaman sekarang, mereka hanya lebih dikendalikan dan diatur oleh berbagai situasi baru demi situasi baru. Bahkan nilai-nilai baru yang dibawah datang oleh orang pendatang dengan berbagai situasi baru dan budayanya pun ikut menguburkan kharakter diri mereka sebagai anak-anak Papua di Bumi Cenderawasih. Tidak ada pegangan nilai positif bagi mereka. Di sinilah, setiap mereka (anak-anak Papua) masih tetap belum menjadi manusia modern dan sekaligus belum menjadi manusia yang beradat Papua. Dialog budaya Untuk membentuk identasi generasi bangsa Papua yang sudah rusak dan hilang, setiap kita diundang untuk melakukan dialog budaya. Dialog budaya merupakan salah satu metode dan cara orang Papua untuk memperbaiki dan membangun hidup yang baik. Membangun identitas orang Papua secara menyeluruh dan permanen melalui dialog adalah panggilan luhur bagi kita. Melalui dialog, kita sudah tentunya memperoleh ruang dan tempat untuk membongkar masalah. Masalah-masalah itu harus bisa diidentifikasikan, dianalisis dan dituntaskan serta diberi solusi damai hanya melalui dialog budaya. Kita tidak akan mengetahui masalah dan kesejatian diri kita yang sebenarnya hanya jika kita tidak mambangun HIDUP yang baik melalui dialog budaya. Kita juga tidak akan pernah menemukan solusi-solusi menyeluruh dan permanen hanya jika tidak melaksanakan dialog budaya. Maka membentuk identitas generasi bangsa Papua melalui dialog budaya merupakan suatu agenda bersama sekarang dan ke depan. Dialog budaya ini dapat dilakukan secara berulang kali oleh semua pihak. Tujuan utama dari dialog budaya ini hanya demi menciptakan Papua sebagai Tanah damai. Tujuan kedamaian ini sudah merupakan idealisme bersama yang harus perlu diperjuangan melalui dialog budaya. Ketika semua orang terlibat secara inisiatif, proaktif dan penuh dalam agenda damai, maka solusi-solusi damai pun akan dapat ditemukan di sana. Pencarian solusi damai secara komprehensif dan permanen melalui dialog budaya ini dapat dimulai dari setiap diri dan keluarga basis. Keluarga adalah tempat dan ruang utama dan pertama untuk melakukan dialog budaya. Setiap anak-anak asli Papua harus selalu diajak dialog tentang betapa pentingnya budaya, masalah dan solusinya. Mereka harus diberitahukan apa saja yang harus dimaknai, dihayati dan dilaksanakan menurut ajaran budaya Papua. Juga mereka harus diajarkan dan beritahukan segala larangannya. Nilai-nilai budaya mesti perlu diwariskan dari orang tua (ayah dan ibu) kepada anak-anak asli Papua sebagai generasa bangsa penerus di Papua. Sebaliknya, anak-anak wajib perlu berdialog dengan orang tua. Kewajiban generasi bangsa adalah mencari, mencintai dan berdialog tentang nilai-nilai budaya kepada orang tuanya. Setiap orang tua di Papua adalah pemberi nilai-nilai budaya kepada setiap generasi anak bangsa Papua. Semua nilai-nilai budaya tersebut wajib selalu direfleksikan, dihayati dan dilaksanakan oleh anak-anak asli Papua dalam hidup sehari-hari. Tanpa dialog budaya, anak-anak asli Papua tidak akan menemukan pijakan dasar hidup dan solusinya demi menciptakan Papua, sebagai Tanah damai. Kamu tidak akan menjadi manusia Papua yang beradat, beridentitas dan berprinsip yang teguh. Tiga sifat dasar Dalam proses pembentukan identitas dan jati diri sebagai anak-anak asli Papua, setiap kita (orang asli Papua) harus perlu memiliki tiga nilai mendasar. Ketiga nilai kesejatian yang membentuk cara berpikir, berpandang, berprilaku dan cara bentindak serta membentuk potensi aktualiasi diri sebagai sebagai anak-anak asli Papua yakni memiliki siap mendengarkan, ketekunan dan sikap kritis. Pertama, siakap saling mendengar merupakan nilai kehidupan sejati dan warisan nilai HIDUP Leluhur kita untuk menata hidup yang baik, damai dan sejati. Jika kita mau menjadi orang yang berindetitas Papua, setiap anak-anak Papua sekarang ini wajib perlu memiliki sikap mendengarkan. Papua yang selalu diwarnai dengan berbagai bentuk kekerasan dan konflik membuat anak-anak asli Papua tidak bisa lagi mendengarkan perintah dan nasehat orang tua kita. Sikap tidak menghargai dan mendengarkan segala perintah orang tua kita ini justru mempertebal kehancuran identitas bangsa Papua. Seharusnya sebagai anak, kita wajib perlu mendengarkan segala perintah dan nasehat orang tua. Karena setiap orang tua termasuk orang tua kandung kita adalah wujud kehadiran Allah. Mereka (orang tua) tidak mewakili Allah. Juga mereka tidak pernah berbicara atas nama orang lain. Tapi mereka berbicara dalam Allah dan sebaliknya Allah berdialog dan memerintah kita dalam diri setiap orang tua di Papua. Mereka berdialog, memerintah dan menasehati tentang pikiran Allah, kehendak dan cara hidup Allah kepada kita sebagai anak-anak mereka. Karena itu, kita sebagai anak-anak Allah dan sekagus anak-anak asli Papua wajib perlu belajar mendengarkan segenap perintah dan nasehat dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budaya serta dengan segenap semua kekuatan. Ada satu hal yang paling pasti akan terjadi bagi generasi bangsa Papua ke depan adalah kita akan menjadi manusia yang tidak punya moral dan mental yang sehat. Kita akan menjadi manusia sulit mengatur dan diatur dalam tataran kebaikan dan perdamaian. Maka itu, siap mendengarkan harus perlu dimiliki, dihayati dan dilaksanakan oleh segenap anak-anak asli Papua yang masih tersisah demi menciptakan Papua, Tanah damai. Kedua, memiliki sikap ketekunan. Sebagai anak Papua, setiap kita wajib perlu memiliki sikap ketekunan dalam hidup sehari-hari. Sikap ketekunan sudah tentunya membuat anak-anak asli Papua menjadi manusia yang bertanggung jawab dan bijaksana. Demi cinta akan kebijaksanaan Papua, anak-anak muda Papua tidak hanya menekuni terhadap nasehat setiap orang tua, tetapi juga mereka akan sabar, jujur dan setia dalam menjalankan panggilan luhur. Bahkan setiap mereka akan selalu rajin dan tekun dalam melaksanakan berbagai hal karena didorong oleh semangat kebijaksanaan. Lagi pula, karena demi cinta kebijaksanaan Papua, setiap mereka akan melaksanakan semua perintah dan nesehat yang diwariskan, diajarkan dan dibekalkan oleh orang tua masing-masing. Maka ketekunan, kesabaran, kejujuran dan kesetiaan mereka untuk melaksanakan segala perintah dan nasehat orang tua itu sudah sesungguhnya merupakan suatu proses tindakan mencintai akan kebijaksanaan Papua. Anak-anak Papua yang selalu tekun dan rajin dalam menghayati, memaknai dan melaksanakan segala perintah dan nasehat orang tua justru akan membantu mereka dalam pertumbuhan kepribadian. Baik pertumbuhan badan maupun jiwanya tetap akan dipenuhi dan dicerahi oleh karena kepemilikan ketekunan dalam diri mereka demi kebijaksanaan Papua. Menurut ajaran budaya Papua, membudayakan diri mereka dengan nilai ketekunan ialah jalan kebijaksanaan. Jalan kebijaksanaan yang sudah dicintai, dipilih dan dimiliki oleh anak-anak asli Papua akan membantu mereka untuk memperoleh nasib hidup yang baik. Maka mereka akan melawan segala bentuk ketidakadilan dan kekejaman pemerintah Indonesia terhadap rakyat asli Papua yang bergerak menuju pada pembentukan NKRI yang baik. Dengan demikian, perlawanan mereka tersebut akan dapat dinyatakan dengan cara yang damai, adil dan bijaksana demi menciptakan Papua, Tanah damai dan baik dalam bingkai NKRI. Ketiga, realitas konflik Papua yang tidak berkesudahan menuntut dan membentuk anak-anak asli Papua untuk menjadi pribadi yang kritis. Memiliki sikap kritis terhadap konflik dan kekerasan yang sudah selalu terjadi diantara pemerintah Indonesia dan rakyat Papua. Mereka harus mengetahui sebab dan akibat dari konflik dan korelasinya dalam berbagai aspek melalui kegiatan kritis dalam berbagai bentuk. Dengan demikian, mereka akan menjadi manusia sejati yang dapat membawa semua rakyat kepada realitas keselamatan di dunia dan di akhirat. Pembentukan identitas mereka dapat terwujud secara menyeluruh dan permanen hanya jika mereka merefleksikan, menghayati dan melaksanakan ketiga nilai dasar dan dialog budaya. Orang Papua akan sulit menemukan anak-anak buah cinta mereka yang berkhater budaya Papua sejauh kita tidak pernah melaksanakan dialog budaya dan ketiga sifat dasar tadi. Maka pelaksanaan dialog budaya dan nilai-nilai positif dalam budaya Papua merupakan suatu agenda bersama, penting dan mendesak guna menciptakan perdamaian Papua. Penulis adalah Alumnus pada Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur” Abepura
Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:42
MEMBENTUK GENERASI BANGSA YANG BERCORAK PAPUA
Oleh Ernest Pugiye Anak-anak asli Papua (selanjutnya akan disebut anak-anak Papua) sebagai generasi penerus bangsa masih nampak kehilanga
Suroso  Selasa, 16 Oktober 2018 3:52
Orang Papua Harus Bangkit Dengan Potensi Tambangnya
Oleh : John Gobai ORANG Papua harus bangkit dengan tambangnya. Sesuai judul tersebut, diperlukan suatu upaya sistematis dari Pemerintah
Agenda Nabire
KEJUARAAN BULUTANGKIS PIALA KEMERDEKAAN
 Senin, 20 Agustus 2018 23:20

PBSI Kabupaten Nabire akan menggelar Kejuaraan Bulutangkis Piala Kemerdekaan tingkat Kabupaten Nabire.

Kejuaraan yang akan mempertandingkan KELAS YUNIOR dan KELAS SENIOR akan digelar mulai tanggal 25 Agustus 2018.

KELAS YUNIOR :

1. Kelompok Beregu SD kelas 1 s/d kelas 3 (2 tunggal putra dan 1 tunggal putri)

2. Kelompok Beregu SD kelas 4 s/d kelas 6 (2 tunggal putra dan 1 tunggal putri)

3. Kelompok Beregu SMP kelas 7 s/d kelas 9 (2 tunggal putra dan 1 tunggal putri)

KELAS SENIOR :

1. Ganda Putra Kategori A

2. Ganda Putra Kategori B

3. Ganda Putra Kategori C

HAHAEEE...
Tra Bisa Reuni
 Selasa, 17 April 2018 4:40

Ada tete satu dia ada kasih nasehat dia pu cucu yang ada pamalas sekolah.

Tete : "Cucu... kamu itu harus sekolah tra boleh pamalas"

Cucu : "Memang kenapa tete kalo sa malas sekolah ?"

Tete : "Adooooohhh cucu ……. sekolah itu sangat penting !  Kalo ko tram au sekolah, besok kalau su besar kamu mau reuni deng siapa ?"

Populer

Pemda Berupaya Sediakan Armada Bus Antar–Jemput ASN
Suroso  Minggu, 23 September 2018 19:45
KPU Dogiyai Gelar Deklarasi Kampanye Damai
Suroso  Kamis, 11 Oktober 2018 20:39
Penerimaan CPNS Nabire Tunggu Jawaban Pusat
Suroso  Minggu, 30 September 2018 22:34

Info Loker