Home Artikel Menyambut MTQ XXVII Propinsi Papua di Nabire Refleksi Al Qur’an sebagai Spirit Kebersamaan dan Berkemajuan

Menyambut MTQ XXVII Propinsi Papua di Nabire Refleksi Al Qur’an sebagai Spirit Kebersamaan dan Berkemajuan

Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:43
Menyambut MTQ  XXVII Propinsi Papua di Nabire Refleksi Al Qur’an sebagai Spirit Kebersamaan dan Berkemajuan
oleh : Basirun Samlawi (Dosen STAI As Syafi’iyyah Nabire) Perhelatan besar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXVII propinsi Papua tahun 2018 yang dilaksanakan di kabupaten Nabire merupakan kebanggaan tersendiri bukan saja bagi warga Nabire namun juga bagi masyarakat Papua secara umum. Karena ajang bermusabaqah (lomba) ini bukan saja dinilai sebagai kegiatan keagamaan semata namun juga bernuansa bersaudaraan antar sosial dan lintas kultural. Yang didalamnya melepaskan sekat-sekat primordialisme agama, lintas suku dan batas-batas sosial lainnya. untuk kemudian menyatu menjadi kekuatan kebersamaan kewargaan. Nuansa persaudaraan ini dibangun dengan melibatkan banyak unsur yang saling bahu membahu demi sukses acara tersebut. Karena bukankakah pesan keluhuran agama-agama mengajarkan keharmonisan untuk kemajuan ( al ukhuwah wa al hadharah) Nilai-nilai universal Al qur’an yang memesankan pada umat manusia untuk menjunjung tinggi asas saling memhami dalam perbedaan ( ta’aruf), kebersamaan (ukhuwah), keadilan (adalah), kedamaian ( As shulhu) dan berbuat kebajikan (amal shalih) dan nilai-nilai luhur kemanusiaan lainnya supaya manusia hidup bahagia dan terus melakukan kemajuan dalam kehidupannya. Pesan-pesan dasar qur’ani yang demikian bukan saja dimiliki pada Islam saja namun juga dimiliki pada agama-agama lain. Karena pada dasarnya agama-agama diturunkan ke bumi memiliki tujaun yang sama yaitu untuk menyeru umat manusia melakukan kebajikan dan cinta kasih. Konsep manusia menurut agama adalah hamba yang diturunkan ke muka bumi dengan segala potensinya untuk berbuat kebaikan untuk seluruh alam semesta. Di sisi lain Tuhan ciptakan alam raya yang di dalamnya adalah manusia serba berbeda pula. Berbeda bahasa, berbeda keyakinan, berbeda bangsa dan berbedaan-perbedaan lainnya. Karena keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan. Maka al qur’an memerintahkan manusia untuk belajar memahami perbedaan itu karena perbedaan terdapat anugerah. Pada saat yang sama manusia harus berbuat kebaikan kepada siapapun juga meski dalam ruang perbedaan. Ketika manusia memahami pesan agama dimana mereka dicipatakn serba berbeda maka upaya berikutnya adalah menghayati bahwa keragaman itu. Puncak dari penghayatan agama adalah bagaimana manusia secara sadar memiliki empati persaudaraan (ukhuwah) atas perbedaan kemanusiaan. Meminjam analisinya Masri Muadz (Penulis buku Paradigma Al-Fatihah). Dalam konteks sistem makro, keseluruhan sistem kehidupan ciptaan Allah, terdiri dari tiga (sub) sistem besar yaitu sistem Alqur’an sebagai pemandu kehidupan, sistem sosial (manusia) dan sistem semesta (alam). Tiga komponen sistem kehidupan ini, sesuai desain Allah, yang telah diciptakan-Nya dengan peranan yang jelas dan harmonis hubungan antar satu dengan lainnya. Peranan manusia adalah sebagai wakil Tuhan di bumi untuk berbuat kebaikan dan kebahagiaan. sementara peranan Alquran adalah sebagai petunjuk bagi manusia dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaanya. Maka peranan manusia sebagai khalifah, meniscayakan untuk selalu berpegang pada pesan Tuhan yang berperan sebagai petunjuk hidupnya. Sehingga, tatkala manusia mengerjakan kemungkaran, itu berarti ia sengaja memutuskan harmoni hubungannya dengan tuhannya. Maka hal ini, sesuai formula kehidupan di depan, pasti akan mencelakakan hidupnya. Melakukan korupsi misalnya, kerena korupsi adalah kejahatan kemanusiaan. kendati ia pejabat tinggi sekalipun bila terbukti bersalah, maka sisa hidupnya akan berujung di penjara. Itu berarti kehidupan diri, anak, istri dan keluarga dekat lain akan terganggu. Bahkan kejahatan tindakan korupsi itu sejatinya menafikan hak-hak manusia lainnya. Ilustrasi kemungkaran itu mengambarkan sisi gelap manusia yang tidak tersinari petunjuk pesan tuhan ( wahyu) yang sedianya manusia harus menjauhkan perbuatan jahat. Begitu pula dengan relasi manusia dengan alam. Seharusnya bersifat membangun dan memelihara (build and maintenent) dengan prinsip harmoni hubungan yang keberlanjutan. Bila sebaliknya, yaitu hubungan penguasaan dan ekploitasi, maka itu pasti mencelakakan manusia sendiri. Stunami, banjir bandang, cuaca ekstrim adalah contoh-contoh yang telah terbukti mencelakakan banyak orang. Keseimbangan alam raya yang dibangun dengan kokohnya karakter manusia agamis dan topangan harmoni masyarakat seakan menjadi keharusans. karena kunci kebahagiaan ditentukan seberapa besar kesadaran ruhani masyarakat untuk menghayati keyakinanya dan seberapa harmonis hubungan sosialnya antar anak bangsa apapun agamanya dan dengan siapapun mereka bergaul. Pun kita sebagai manusia dituntut untuk memegang prinsip kehidupan “ dimana kaki berpijak di situ langit dijunjung”. Kesadaran ruhani beragama pada gilirannya musti didorong untuk berbuat kabajikan untuk semua manusia ( kesholihan sosial) . Kesolehan yang bukan hanya pada kelompok tertentu tetapi lebih dari itu kebajikan yang menembus dan dapat dirasakan bagi sesama umat manusia. Perbuatan kebajikan dunia (peradaban) menjadi penting karena parameter kebagiaan ruhani diri manusia juga ditentukan oleh kemajuan peradaban bangsa. Peradaban yang dimaksud adalah kemajuan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan kemajuan ekonomi. Maka agama sesungguhnya menjadi spirit yang bisa mendororong umat manusia mewujudkan kemajuan peradaban. Agama harus memiliki semangat berkemajuan, dan kemajuan itu bukan sekadar retorika, tapi sudah menjadi paradigma, yakni pandangan yang sah dan sistematis. Islam yang berkemajuan pertama, secara teologi, kita merujuk pada esensi ajaran Islam, yakni dinul hadharah sebagai agama yang membangun peradaban. Salah satu ciri dari pandangan Islam yang berkemajuan (adalah) membangun relasi sosial yang damai tanpa kekerasan, mengedepankan kesamaan tanpa diskriminasi, dan hubungan-hubungan sosial yang harmonis, di mana nilai ketuhanan juga menjadi landasan pada nilai kemanusiaan ( Haedar Nashir) Dengan adanya konsep tersebut, predikat Indonesia sebagai negara Pancasila menuntut agar semua pihak dan perangkatnya harus berpijak pada filosofi pancasila. Kedua, sebagai komitmen Indonesia sebagai 'Dar al-'Ahdi' menuntut tidak boleh adanya ideologi lain selain Pancasila. Semangat dalam Pancasila adalah mengayomi segala macam perbedaan dalam satu kesatuan. "Indonesia lahir karena diperjuangkan secara bersama-sama oleh berbagai golongan dan agama. Akan tetapi, 'Dar al-'Ahdi' harus disertai 'al-Syahadah', yakni upaya yang progresif dan berkemajuan sebab dengannya akan menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang maju. Saling berlomba (musabaqah) sebagaimana tujuan MTQ dilaksanakan tentu bukan hanya mencari pemenang-pemenang dalam bertilawah (membaca) ayat-ayat al qur’an. tetapi lebih dari itu MTQ adalah ajang membaca peradaban yang meniscayakan pencari bakat pembaca ayat-ayat dengan cara pandang holistic (konperhenship). Pembacaan Wahyu Tuhan menuntut untuk dipahami dan dibumikan menjadi perilaku. Menafsirkan kalam itu dengan tafsir zamannya dengan tanpa menghilangkan esensi dan tujuan al qura’an itu sendiri. Sehingga maksud bertilawah tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat yang agamis. # Selamat bermusabaqah
Suroso  Selasa, 1 Mei 2018 9:42
MEMBENTUK GENERASI BANGSA YANG BERCORAK PAPUA
Oleh Ernest Pugiye Anak-anak asli Papua (selanjutnya akan disebut anak-anak Papua) sebagai generasi penerus bangsa masih nampak kehilanga
Suroso  Rabu, 22 Agustus 2018 21:42
Generasi Milenial Papua dan Hoax
Satu tahun lalu, tepatnya Minggu, 13 Agustus 2017, artikel saya berjudul “Masyarakat Harus Cerdas Memilih Informasi yang Benar”
Agenda Nabire
KEJUARAAN BULUTANGKIS PIALA KEMERDEKAAN
 Senin, 20 Agustus 2018 23:20

PBSI Kabupaten Nabire akan menggelar Kejuaraan Bulutangkis Piala Kemerdekaan tingkat Kabupaten Nabire.

Kejuaraan yang akan mempertandingkan KELAS YUNIOR dan KELAS SENIOR akan digelar mulai tanggal 25 Agustus 2018.

KELAS YUNIOR :

1. Kelompok Beregu SD kelas 1 s/d kelas 3 (2 tunggal putra dan 1 tunggal putri)

2. Kelompok Beregu SD kelas 4 s/d kelas 6 (2 tunggal putra dan 1 tunggal putri)

3. Kelompok Beregu SMP kelas 7 s/d kelas 9 (2 tunggal putra dan 1 tunggal putri)

KELAS SENIOR :

1. Ganda Putra Kategori A

2. Ganda Putra Kategori B

3. Ganda Putra Kategori C

HAHAEEE...
Tra Bisa Reuni
 Selasa, 17 April 2018 4:40

Ada tete satu dia ada kasih nasehat dia pu cucu yang ada pamalas sekolah.

Tete : "Cucu... kamu itu harus sekolah tra boleh pamalas"

Cucu : "Memang kenapa tete kalo sa malas sekolah ?"

Tete : "Adooooohhh cucu ……. sekolah itu sangat penting !  Kalo ko tram au sekolah, besok kalau su besar kamu mau reuni deng siapa ?"

Populer

Info Loker