Home Papua Hutang RUSD Menumpuk, Siapa Yang Disalahkan?

Hutang RUSD Menumpuk, Siapa Yang Disalahkan?

Suroso  Senin, 27 Agustus 2018 22:32
Hutang RUSD Menumpuk, Siapa Yang Disalahkan?
Jayapura,- Ketua Komisi V DPR Papua, Yan Permenas Mandenas menuding, menumpuknya  hutang RSUD Jayapura yang mencapai Rp 179 miliar dimana Rp 159 miliar bersumber dari DAK,  merupakan kesalahan pihak ketiga.Hal tersebut diketahui, setelah ia mempelajari dokumen yang ada, dimana rata-rata hutang rumah sakit diakibatkan oleh  pihak ke tiga yang tidak memenuhi standar administrasi yang seharusnya dipenuhi." saya lihat ada dokumen yang tidak di kontrak. Misalnya belum ada kontrak dokumen kemudian kegiatan berjalan. Ini rata-rata saya lihat semua keterangan verifikasi kesalahannya semua ada di pihak ke tiga," ungkap Yan Mandenas kepada awak media usai bertemu dengan manajemen RSUD Jayapura, Senin (27/8/18).Lanjut Mandenas,  jika kesalahan ada pada pihak ke tiga, kemudian  kost hutang menumpuk, lalu siapa yang akan disalahkan. Padahal kata legislator Papua ini, Pemerintah sudah penuhi kewajiban untuk membayar dari ketersediaan anggaran, tetapi pihak ke tiga tidak konsisten, kemudian menimbulkan beban anggaran yang besar khusus untuk  APBD Perubahan.Menurutnya, jika sudah seperti itu berarti pihak ke tiga ini tidak bisa lagi di berikan toleransi.  Harus di blacklist, karena beban yang ada adalah kesalahan pihak ke tiga, namun pemerintah yang akan menanggulangi." kemarin saya bilang harus di blacklist kalau tidak memenuhi syarat. Apalagi sekarang DAK itu  kan ketentuannya jelas, batas waktu tidak terserap, maka semuanya harus di kembalikan ke kas Negara," tandasnya.Hanya saja tandas Yan Mansenas, jika perusahaan semua yang memenuhi tender di rumah sakit dan mendapatkan pekerjaan sebagai pemenang seharusnya mengikuti prosedur dengan materi yang harus dilengkapi."Kalau dia sendiri tidak tepati lalu uangnya sudah dikembalikan ke kas dan ini jadi utang, kemudian masuk lagi untuk tahun depan. Apalagi sistem pengganggaran kita kan sekarang berbeda, tidak bisa lagi berutang," tekannya.Untuk itu ujar Yan,  perlu perencanaan lebih lama saat tahun anggaran baru. Kecuali multiyears yang masih bisa berlanjut, sehingga ini yang harus perlu diklarifikasi oleh rumah sakit ke pihak ke tiga. "Kalau pekerjaannya selesai 70 persen, maka yang dibayar 70 persen itu. Sisanya masukkan lagi di tahun depan supaya tidak jadi hutang," jelasnya.Dikatakan, karena jika pekerjaan hanya selesai 70 persen dan dibayar 100 persen, itu salah pemberi kerja dan menjadi beban utang."Kalau memang dalam ketentuan kontrak batas waktu yang di tentukan, dan pekerjaan itu tidak selesai, maka harus dibayar sesuai volume pekerjaan yang dihasilkan," tegasnya.Yan Mandenas menambahkan, ini supaya jangan sampai dia kembali kerja terus karena kita ikut tahun depan sesuai dengan mekanisme proses lelang yang baru lagi."Tapi dengan sistim ini memang agak susah dan itu memang sangat riskan sekali," kata Yan Mandenas. (Laporan: Tiara)
Suroso  Kamis, 13 Juni 2019 15:28
Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”
Oleh: Florentinus Tebai*)  Transaksi jual-beli tanah ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Transaksi jual beli t
Suroso  Minggu, 24 Maret 2019 7:15
Bocah Kampung dan Sepak Bola
Oleh: Nomen Douw Cerita yang menyenangkan di sebuah kampung yang terdapat di kaki gunung Kemuge. Kemuge adalah sebutan orang di kampung itu,
Agenda Nabire
Kapolres Nabire Champion Series
 Minggu, 17 Februari 2019 21:3

Grasstrack & Motorcross Kapolres Nabire Champion Series

Akan diselenggarakan pada tanggal 15 hingga 17 Maret 2019

Bertempat di Sirkuit Bumi Mulia SP C

Kelas yang diperlombakan : Bebek Standar pemula 110 cc s/d 125 cc, Bebek Modifikasi 110 cc 4Tak Non Kategori, Bebek Modifikasi 125 cc 4Tak Non Kategori,Sport & Trail 2Tak s/d 150 cc dan 4Tak s/d 200 cc, KLX s/d 200 cc, Bebek Modifikasi Mix 2Tak s/d 116 cc dan 4Tak s/d 125 cc, FFA Non SE, Special Engine, Exhibition Non Pembalap/Lokal Nabire, FFA + SE/Lokal Nabire, Bebek 4Tak 110 cc s/d 125 cc/Lokal Nabire.

Memperebutkan total hadiah 150 Juta Rupiah.

Hubungi : Irwanto 0852 5490 9827, Habibi 0811 4833 349

HAHAEEE...
Nilai Raport
 Senin, 18 Februari 2019 1:28

Tinus : "Bapa.... belikan sa sepeda kah untuk pigi sekolah ? Sa pu teman-teman semua su naik sepeda kalo pigi sekolah"

Bapa : "Gampang itu anak. Yang penting ko pu nilai raport ada angka 9 minimal tiga. Kalau bisa, bapa langsung belikan ko sepeda baru."

Setelah ambil raport, Tinus pulang deng semangat. Tinus langsung cari dia pu bapa di rumah.

Tinus : "Bapa ini sa pu raport ada angka 9 ada tiga. Jadi bapa pu janji untuk belikan sa sepeda itu yang sa tagih."

Deng mata kabur-kabur sedikit, Tinus pu bapa liat Tinus pu raport. Memang di raport ada angka 9 ada tiga. Pace dia langsung tepati janji belikan Tinus sepeda baru.

Tapi pace dia rasa ada yang kurang pas di hati. Pace penasaran deng Tinus pur raport. Pace ko ambil kacamata dan perhatikan baik-baik nilai-nilai yang ada di dalam Tinus pu raport. Pace dia kaget tra baik punya waktu liat keterangan di depan angkat 9 yang ada tiga itu ternyata angka 9 itu bukan nilai mata pelajaran. Tapi angka 9 itu masing-masing ijin tidak sekolah 9, ijin sakit 9, dan alpa 9. Pace dia pu hati soak sampe.....

 

Info Loker