Home Artikel Bocah Kampung dan Sepak Bola

Bocah Kampung dan Sepak Bola

Suroso  Minggu, 24 Maret 2019 7:15
Bocah Kampung dan Sepak Bola

Oleh: Nomen Douw

Cerita yang menyenangkan di sebuah kampung yang terdapat di kaki gunung Kemuge. Kemuge adalah sebutan orang di kampung itu, kepada gunung besar yang menjadi ekor gunung tertinggi di Papua, gunung Deiyai yang terletak di Kabupaten Deiyai, Papua. Lebih spesifiknya saya sebut kampung kecil itu “Kampung Ditiba” (Kampung Distrik Tigi Barat). Di kampung itu saya melihat, di pagi hari masyarakat beramai-ramai bepergian ke pusat kota untuk mencari bekal untuk hidup, ada pula yang berjualan apa yang mereka dapat dari kebun, danau dan hasil berburu, ada pula yang pergi mencari makan. Tentu hal ini demi mendapatkan sepeser uang untuk makan lebih elit (nasi dan ayam). Sungguh hidup yang terus dinamis kepada pola hidup yang menjadi ancaman bagi nilai-nilai budaya yang sebenarnya sudah menjadi dasar hidup bagi suku Mee yang sebetulnya lebih kaya akan hidup selamanya. Saya lahir di kampung, tumbuh hingga usia remaja di kampung. Dulu saya sangat mencintai kehidupan di kampung. Hidup nyaman tanpa ada tekanan dari pihak yang menggontrol keamanan di kampung, tidak ada orang mabuk, tidak ada orang bermain togel (Toto Gelap), tidak ada orang mati di jalan, tidak ada sakit penyakit. Suatu kehidupan yang damai. Makanan selalu disediakan dari kebun dan hasil ternak. Sungguh hidup yang menyenangkan, terasa surga ada di sana dan malas mendengarkan kata kiamat akan datang. Saya jujur sekali, saya sangat mencintai kehidupan kampung yang dulu. Di hari Sabtu sore yang ceria tanpa kehadiran hujan di kampung Ditiba, yang ada hanya mentari terakhir di pundak gunung Kemuge, mentari itu seakan menjadi efek cerah bagi bocah-bocah yang bermain-ramai bermain bola tanpa tiang gawang segi empat di halaman SD Ditiba yang kadang kala sekolahnya sering libur lebih dari dua bulan karena gurunya kadang cuti di kota. Saya menjadi saksi bagi mereka yang ceria bermain di halaman sekolah. menggiring bola kesana kesini menipu lawan, kebahagiaan mereka benar dan wajar karena mereka telah ada di surga bumi yang Tuhan berikan, walaupun hidup akan kesulitan telah menunggu mereka di kemudian hari yang akan datang melalui sistem yang ambur adul. Posisi duduk saya menjadi ragam rasa, sambil saya menyaksikan mereka berlari kesana-kesini, kadang saya senyum-senyum karena bahagia melihat mereka, kadang merasa sedih, kadang ada rasa rindu masa kecil ku dan terakhir saya bergumul dalam hati dengan kata hati saya ”semoga masa depan mereka lebih baik dari kehidupan masa kini dan punya harapan besar bagi keluarga, suku, daerah dan bangsa Papua.” Saya hampir lupa untuk memotret mereka sebagai objek yang punya cerita di lain waktu nanti. Dengan hati-hati saya memotret agar kualitas gambar lebih baik dari seorang ahli fotografi asal Amerika, Nadav Kander. Tidak menyangka dan saya tidak melihat karena posisi saya lagi fokus motret, ada bocah kira-kira umur lima tahun naik di pundak saya sambil berkata dengan santai dan ekspresi bocah kecil itu seakan saya kakak kandungnya. “Ee... kaka ko bikin apa?” tanya boca kecil itu. Wah, saya kaget. Saya balas, “Ee... ade ko siapa? Tanya saya sembari tebar senyum. “Abi, kaka” Bocah ini memperkenalkan. “Ade bikin apa sini?” “Main bola to,” jawabnya dengan  santai. “Booo.. mantap” sahut saya sambil beri jempol. Si bocah tampak tunduk. Dia tersenyum. “Tadi ko datang dengan siapa?” “Ikut saya punya kaka,” balas dia. “Oh, trus ko punya kakak dimana?” “Itu sana, ada main bola tu...” ucap si bocah sambil tunjuk kakaknya yang lagi main bola. Saya penasaran. “Ko bisa main bola ka?” “Bisa tendang bola,” jawabnya sambil dia tendang rumput. “Wah, coba ko main bola?” Dengar tanya saya, anak kecil itu berlari mengejar bola di tengah kakaknya yang sedang ramai mengejar bola. Saya nonton, ternyata dia tidak berhasil mendapatkan bolanya untuk menyentuh lantaran anak itu memang masih kecil, tidak kuat untuk merebut bola dari kakaknya. Karena gagal, bocah itu berlari kembali ke saya. Sambil duduk karena cape dia berkata, “Sudah kaka.” Napasnya terlihat belum stabil. “Mantap. Iya, benar ade bisa main bola,” sambil saya pegang pundaknya. Si bocah hanya tersenyum. Dia bangga dengar saya memuji. Tak lama kemudian bocah itu berdiri dan dia memperagakan cara tendang bola di depan saya, seakan dia menggurui saya karena saya mengakui dia bisa bermain bola. Sungguh bocah keren. Saya yakin dia anak yang luar biasa. Pergaulan si anak itu akan membawa menjadi pribadi yang sukses apabila hidupnya tidak dipengaruhi oleh setan zaman gila (miras, rokok, seks bebas, narkoba, ganja). Bocah ini merasa senang sekali. Dia bahagia sekali ketika bicara soal sepak bola, seakan Persidei, Persipani, Persido dan Persintan sudah naik kasta di Liga Satu. Kesenangan dia dengan harapan ketika besar dia akan menjadi pemain yang hebat dan memperkuat tim besar asal Meepago yang sudah beredar di liga satu. Namun sayangnya nasib sepak bola Meepago saat ini masih simpang siur, entah bagaimana dan kapan bangkitnya? Tidak tahu! Semoga saja di generasinya bocah itu, sepak bola sudah berubah jauh, seperti sepak bola Eropa saat ini. Hari sudah mulai sore. Sinar matahari yang tadi menerangi jagat sore di kampung Ditiba mulai menghilang dibalik gunung besar itu. Benar, gelap semakin menutupi kampung itu, tidak ada lampu selain tungku api di setiap masyarakat yang membumi di sana. Bocah-bocah itu berhenti bermain bola karena hari mulai gelap. Bola plastik seharga 50 ribu rupiah di kampung itu dan 20 ribu rupiah di kota berhenti dimainkan. Ketika mendengar cerita kemahalan harga di kampung dan di kota, saya menjadi heran, kok bisa begitu dan berpikir uang sebenarnya dari mana? Apakah dari kampung di Papua atau dari Jakarta. Entahlah. Semoga setelah berganti pemimpin, ada perubahan nanti. Kita doakan. Masyarakat di kampung bergegas untuk pulang ke rumah dengan cara masing-masing. Saya ikut pulang dan sepulangnya di jalan saya bertemu masyarakat di kampung itu pulang dengan hasil kebun. Saya melihat ada mama-mama membawa ubi, sayur, tebu dan ikan hasil tangkapan mereka. Ada juga saya melihat kakek-kakek membawa kayu ke rumah mereka. Kayu itu untuk dipasang di tungku dapur, ntuk masak dan menghangatkan badan. Sungguh, kehidupan ini bukan primitif. Tetapi justru sebaliknya dengan kehidupan baru. Kehidupan di kampung sangat sempurna. Kehidupan masyarakat adat sungguh sangat kaya raya. Kesempurnaan hidup di kampung lebih sempurna, tidak menyusahkan hidup, tidak tergantung dengan kebutuhan makan minum, tidak mudah sakit dan tidak mudah mati. Di sana di kampung adalah surga yang sebenarnya Tuhan titipkan bagi kita. Budaya hidup adalah agama kita dan Tuhan telah ada dalam budaya itu.  “Pendidikan bisa memberi Anda keahlian, tetapi pendidikan budaya mampu memberi Anda martabat” (Ellen Key, penulis, pendidik dan feminis dari Swedia 1849-1926). *) Penulis adalah pemain sepak bola dari Meepago.

Polling
Apakah anda setuju jika diberlakukan pembayaran parkir di sejumlah titik keramaian di dalam Kota Nabire ?
Suroso  Kamis, 13 Juni 2019 15:28
Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”
Oleh: Florentinus Tebai*)  Transaksi jual-beli tanah ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Transaksi jual beli t
Suroso  Rabu, 17 Juli 2019 21:10
TANAH, SUMBER KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT ADAT DI MEEUWODIDE
 Oleh Ernest Pugiye Ketika menyimak realitas kehidupana masyarakat adat di Meeuwodide, maka mereka masih tetap berhadapan dengan
Agenda Nabire
KEJUARAAN OLAHRAGA KABUPATEN
 Selasa, 20 Agustus 2019 22:0

Kejuaraan Olahraga Kabupaten Nabire tahun 2019 akan diselenggarakan MULAI TANGGAL 9 SEPTEMBER 2019

Cabang Olahraga Yang Dipertandingkan :

1. Bulutangkis

2. Bola Voley

3. Sepak Takraw

4. Pencak Silat

5. Karate

6. Taekwondo

Tempat Pendaftaran di Kantor KONI Nabire setiap jam kerja (09.00 WIT s/d 15.00 WIT)

HAHAEEE...
Nilai Raport
 Senin, 18 Februari 2019 1:28

Tinus : "Bapa.... belikan sa sepeda kah untuk pigi sekolah ? Sa pu teman-teman semua su naik sepeda kalo pigi sekolah"

Bapa : "Gampang itu anak. Yang penting ko pu nilai raport ada angka 9 minimal tiga. Kalau bisa, bapa langsung belikan ko sepeda baru."

Setelah ambil raport, Tinus pulang deng semangat. Tinus langsung cari dia pu bapa di rumah.

Tinus : "Bapa ini sa pu raport ada angka 9 ada tiga. Jadi bapa pu janji untuk belikan sa sepeda itu yang sa tagih."

Deng mata kabur-kabur sedikit, Tinus pu bapa liat Tinus pu raport. Memang di raport ada angka 9 ada tiga. Pace dia langsung tepati janji belikan Tinus sepeda baru.

Tapi pace dia rasa ada yang kurang pas di hati. Pace penasaran deng Tinus pur raport. Pace ko ambil kacamata dan perhatikan baik-baik nilai-nilai yang ada di dalam Tinus pu raport. Pace dia kaget tra baik punya waktu liat keterangan di depan angkat 9 yang ada tiga itu ternyata angka 9 itu bukan nilai mata pelajaran. Tapi angka 9 itu masing-masing ijin tidak sekolah 9, ijin sakit 9, dan alpa 9. Pace dia pu hati soak sampe.....

 

Info Loker