Home Nabire Merasa Terancam, Tolak Mekar Papua Tengah

Merasa Terancam, Tolak Mekar Papua Tengah

Suroso  Selasa, 2 Juli 2019 20:51
Merasa Terancam, Tolak Mekar Papua Tengah
NABIRE – Kelompok massa yang mengaku berasal dari mahasiswa dan pelajar bersama masyarakat, perwakilan agama, LMA dan komunitas di Tanah Papua, menolak dengan tegas pemekaran Provinsi Papua Tengah. Aksi penolakan itu dilakukan dengan menggelar aksi demo damai yang diikuti ratusan massa dengan mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Nabire, Selasa (2/7) kemarin.Pantauan media ini di lapangan, sekitar pukul 10.00 WIT, massa dengan berjalan kaki tiba di depan pagar Kantor Dewan. Beberapa perwakilan sempat menemui dua anggota DPRD Nabire telah berkantor, menyampaikan maksud kedatangan massa. Setelah perwakilan massa berkoordinasi, ratusan massa pun bergerak masuk ke halaman Kantor Dewan dengan tertib.Terlihat massa membawa sejumlah spanduk dan pamflet yang isinya menolak pemekaran Provinsi Papua Tengah. Satu diantaranya spanduk bertuliskan “”Kami mahasiswa dan pelajar bersama masyarakat (agama LMA komunitas) di Tanah Papua dengan tegas tolak pemekaran Provinsi Papua Tengah. Pemekaran Papua Tengah bukan permintaan kami mahasiswa dan pelajar serta semua elemen masyarakat.”Aksi penolakan diwarnai dengan orasi yang disampaikan sejumlah orator baik itu dari perwakilan mahasiswa, pelajar, kaum perempuan, dan juga perwakilan agama.Sejumlah hal disampaikan oleh para orator saat berorasi. Menurut mereka, salah satu alasan menolak pemekaran karena akan banyak pelanggaran yang terjadi. Selama ini juga dinilai pemerintah yang belum memperhatikan nasib rakyat dengan baik. “Pemerintah duduk di kursi sofa dan kami mahasiswa jalan dengan kaki kosong. Tidak pernah perhatikan rakyat, baru mau mekarkan Papua Tengah. Pemekaran kabupaten saja masih bikin masalah kok mau mekarkan Papua Tengah,” ujar salah satu orator dalam orasinya.Dalam orasi lainnya juga disampaikan, kebijakan pemerintah ini akan mengancam eksistensi. Menurut pandangan mereka, Papua menuju kehancuran, dimana orang Papua akan tersisih.“Kami datang sebagai kaum yang sadar, bukan kaum pengacau. Pemekaran bukan kehendak rakyat, dan orang Papua akan punah jika ada pemekaran. Kenyataan kali ini orang Papua hanya jualan pinang, sementara alam sangat kaya akan kandungan emas, kayu dan sumber daya alam lainnya. Ancaman serius akan muncul jika ada pemekaran, karena itu keinginan segelintir orang dan bukan keinginan rakyat,” paparnya.Dalam aksinya, massa juga mengaspirasikan agar pihak DPRD Nabire bisa membentuk Pansus penolakan terhadap pemekaran Provinsi Papua Tengah yang dinilainya sebagai pintu bagi kapitalis. Masih menurut salah seorang orator, realita yang terjadi di Papua, sudah ada pemekaran kabupaten namun pemekaran itu belum bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat. “Kita lihat Nabire, warga tidur di atas sampah, jadi minta pemekaran itu untuk apa ? Kalo masyarakat mau tidak perlu pemekaran Papua Tengah,” ujarnya.Hanya 3 Anggota DPRD Terima MassaSaat aksi massa, hanya ada 3 anggota DPRD Nabire yang terlihat di kantor dan hadir di hadapan massa yang beraksi, masing-masing Yunus Tebai, Nelis Jawan dan Ev P. Asso, S.Th. Menanggapi aspirasi yang disampaikan massa, Yunus Tebai menyampaikan terima kasih kepada massa karena sudah mengalami dan tahu keadaan situasi di Papua apa yang sedang terjadi. Kata dia, aspirasi dari massa dirinya.“Kami juga minta maaf karena anggota DPRD lainnya belum masuk baru ada kami 3 orang yang lain belum ada. Aspirasi tolak Papua Tengah kami terima, tapi di belakang kami ada pimpinan. Kami hanya anggota sehingga kami tidak bisa ambil keputusan, aspirasi kami akan teruskan ke pimpinan,” ujar Yunus Tebai.Hal senada juga disampaikan anggota DPRD Nabire lainnya, Nelis Jawan. Katanya, aspirasi silahkan diserahkan. Namun permintaan massa agar DPRD melakukan rapat untuk membentuk Pansus, jawabnya, pihaknya belum bisa langsung rapat. Aspirasi akan diditeruskan sesuai mekanisme yang ada di lembaga Dewan.Di penghujung aksi, massa melalui koordinator lapangan juga telah menyiapkan petisi kualitatif penolakan pemekaran Provinsi Papua Tengah. Selain ditanda tangani oleh masing-masing perwakilan dari massa yang beraksi, diminta juga kepada anggota DPRD yang hadir untuk ikut membubuhkan tandatangannya. Namun seperti disampaikan oleh anggota DPRD Nabire, mereka membubuhkan tandatangan untuk kehadirannya dalam menerima massa yang malkukan aksi demo damai. Namun soal tindak lanjut dari aspirasi ini, akan dilanjutkan sesuai mekanisme di lembaga DPRD Nabire. Setelah ditutup dengan doa, sekitar pukul 11.45 WIT, massa dengan tertib meninggalkan Kantor DPRD Nabire. Dari awal hingga berakhirnya aksi dalam pengamanan pihak kepolisian Polres Nabire.Masyarakat Beraksi Tolak Pemekaran Beberapa peserta aksi yang ditanyai secara terpisah mengatakan, belum saatnya pemekaran provinsi dan kabupaten di kawasan Papua Tengah. Karena, sumber daya manusia untuk menghadapi pemekaran belum siap. Oleh sebab itu, sebaiknya mempersiapkan SDM lebih awal sebelum daerah ini dimekarkan. Karena kalau tidak demikian, untuk siapa daerah ini dimekarkan.Disamping penyiapan SDM OAP, mereka juga menilai, tugas yang perlu dipersiapkan oleh para bupati di wilayah Pegunungan Tengah adalah memberdayakan ekonomi masyarakat lokal. Karena, ketika daerah ini dimekarkan, masyarakat lokal akan tergilas dengan perputaran ekonomi yang begitu cepat. Sebab, masyarakat kita belum siap untuk menghadapi tantangan tersebut.Aksi protes pemekaran provinsi lewat demo damai di DPRD Nabire sebagai reaksi masyarakat rencana pemerintah yang tengah memperjuangkan pemekaran Papua Tengah, berkedudukan di Kota Nabire. Sumber yang enggan namanya dikorankan mempertanyakan, dari rencana pemerintah memperjuangkan pemekaran dan aksi penolakan tersebut, apakah Presiden Joko Widodo sudah mencabut moratorium pemekaran desa (kampung), kabupaten/kota dan provinsi. Kalau belum dicabut, pemekaran provinsi, kabupaten/kota dan kampung akan terjawab setelah Presiden Jokowi mencabut moratorium.Oleh sebab itu, ia menilai belum saatnya bicara tentang pemekaran. Karena kesempatan untuk pemekaran daerah otonom baru dibuka, sementara dalam status moratorium.Kalaupun moratorium dibuka, kata sumber tersebut, masih menunggu waktu agak lama. Karena, harus dibahas dan disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI hasil Pemilu legislatif 2019 yang akan dilantik dalam tahun ini. Kalaupun sudah dilantik, masih menunggu waktu lagi, karena tidak mungkin begitu selesai dilantik langsung membahas pembentukan daerah otonom baru di seluruh Indonesia, termasuk Provinsi Papua Tengah. (ros/ans)
Polling
Apakah anda setuju jika diberlakukan pembayaran parkir di sejumlah titik keramaian di dalam Kota Nabire ?
Suroso  Kamis, 13 Juni 2019 15:28
Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”
Oleh: Florentinus Tebai*)  Transaksi jual-beli tanah ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Transaksi jual beli t
Suroso  Minggu, 8 September 2019 21:59
Urgensi Aklererasi Implementasi E-Government di Kabupaten Intan Jaya
Oleh: Asir Mirip, S.Pd.M.Si*Urgensi dan RelevansiMakalah ini bertujuan untuk menawarkan salah satu solusi strategis untuk mengatasi persoala
Agenda Nabire
KEJUARAAN OLAHRAGA KABUPATEN
 Selasa, 20 Agustus 2019 22:0

Kejuaraan Olahraga Kabupaten Nabire tahun 2019 akan diselenggarakan SEPTEMBER-OKTOBER 2019

Cabang Olahraga Yang Dipertandingkan :

1. Bulutangkis

2. Bola Voley

3. Sepak Takraw

4. Pencak Silat

5. Karate

6. Taekwondo

Tempat Pendaftaran di Kantor KONI Nabire setiap jam kerja (09.00 WIT s/d 15.00 WIT)

HAHAEEE...
Nilai Raport
 Senin, 18 Februari 2019 1:28

Tinus : "Bapa.... belikan sa sepeda kah untuk pigi sekolah ? Sa pu teman-teman semua su naik sepeda kalo pigi sekolah"

Bapa : "Gampang itu anak. Yang penting ko pu nilai raport ada angka 9 minimal tiga. Kalau bisa, bapa langsung belikan ko sepeda baru."

Setelah ambil raport, Tinus pulang deng semangat. Tinus langsung cari dia pu bapa di rumah.

Tinus : "Bapa ini sa pu raport ada angka 9 ada tiga. Jadi bapa pu janji untuk belikan sa sepeda itu yang sa tagih."

Deng mata kabur-kabur sedikit, Tinus pu bapa liat Tinus pu raport. Memang di raport ada angka 9 ada tiga. Pace dia langsung tepati janji belikan Tinus sepeda baru.

Tapi pace dia rasa ada yang kurang pas di hati. Pace penasaran deng Tinus pur raport. Pace ko ambil kacamata dan perhatikan baik-baik nilai-nilai yang ada di dalam Tinus pu raport. Pace dia kaget tra baik punya waktu liat keterangan di depan angkat 9 yang ada tiga itu ternyata angka 9 itu bukan nilai mata pelajaran. Tapi angka 9 itu masing-masing ijin tidak sekolah 9, ijin sakit 9, dan alpa 9. Pace dia pu hati soak sampe.....

 

Populer

Pasangan Papuapos Juarai Kategori B
Suroso  Selasa, 23 Juli 2019 10:20
Ribuan Kartu Kis Akan Dibagikan Kembali ke Warga
Suroso  Jumat, 9 Agustus 2019 3:17
Massa Minta Mahasiswa Papua Dipulangkan
Suroso  Selasa, 20 Agustus 2019 21:54
Bupati Himbau Aksi Demo Dilakukan Damai Tak Anarkis
Suroso  Kamis, 22 Agustus 2019 5:58

Info Loker