Home Pemda Dogiyai Tak Dibelikan Motor Atau HP, Anak Ancam Keluar Sekolah

Tak Dibelikan Motor Atau HP, Anak Ancam Keluar Sekolah

Suroso  Selasa, 16 Juli 2019 3:55
Tak Dibelikan Motor Atau HP, Anak Ancam Keluar Sekolah
DOGIYAI – “Bapak mama, kalau tidak beikan motor atau HP, saya keluar dari sekolah,” pernyataan ini dikatakan salah seorang siswa SD baru saja naik kelas lima di Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai. Permintaan anak tersebut kepada orang tuanya jawanannya antara baik dan tidak. Untuk menunjang kegiatan harian dan memperlancar kegiatan dibutuhkan motor. Termasuk permintaan hand phone untuk berkomunikasi dengan teman termasuk dengan kedua orang tuanya. Tidak menjadi masalah, komunikasi dan informasi sudah masuk hingga di pedesaan. Orang tuanya sangat terpaksa mengeluarkan uang untuk membeli  motor atau HP. Dengan alasan anak kandung ini tidak boleh keluar dari sekolah. Muncul pertanyaan dibenak ayah dan ibu, bagaimana masa depan anak ini, terutama dalam bidang pendidikan ? Sementara ini pihak gereja dan pemerintah belum percaya sepenuhnya, orang tua di rumah sebagai penentu utama perkembangan pendidikan anak tersebut. Anak–anak sekarang sulit dibimbing dan dibina, lebih banyak minum dan mabuk menjadi anak jalanan malas menolong orang tuanya di rumah. Wajar terjadi, anak–anak dunia jaman sekarang ini pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Kalau jaman dulu, kami taat dan tunduk kepada orang tua kami. Rajin menimba air, mencari kayu api, menolog ayah dan ibu kasih makan ternak piaraan. Sifat kami anak–anak jaman dulu nurut rajin kepada ibu dan bapaknya. Kehidupan dulu beda dengan jaman sekarang. Mereka hidup dua budaya hidup sehingga tidak dibiarkan begitu saja. Jaman kami ada banyak manusia sejati pekerja keras dan iman kerpercayaannya kuat. Di halaman rumahnya penuh dengan tanaman seperti tebu, ubi dan ternak, lengkap kebutuhan yang diperlukan,” papar pensiunan TNI angkatan tahun 1978 Batalion 752 Sorong, Etmusdus Butu.Lanjutnya, sekarang pihak gereja mulai bicara keluarga sebagai tungku api supaya generasi sekarang anak–anak dengar nasehat orang tuannya. Program reuni munculkan kembali pola pembentukan manusia sejati. Mulai dari keluarga dengan polanya sendiri. Harus ditidak lanjuti dan dibuat fokus program pemerintah kampung, pemerintah distrik, juga pemerintah kabupaten.Hal itu, katanya, menjadi kekuatan ditingkat basis mendorong pola kehidupan penyelamatan generasi berikutnya. Sebagai manusia sejati yang timbul dari peradaban husup bahasa “kabo mana“. Tugas kebudayan dan pariwisata harus direncanakan baik. Membangun rumah adat disetiap daerah, mengumpulkan benda–benda budaya seperti koteka, moge dan lain bercirikan warga Mee di daerahnya sendiri. “Didepan mata kita ada pegeseran budaya, maka untuk mengatasi pengaruh kita berupaya mendukung pihak gereja menetapkan keluarga sebagai tungku api. Ana– anak kita dididik dari rumah adat kita. Anak–anak kita mesti dibebaskan dari dua budaya kehidupan ini. Gereja, pemerintah dan pihak lembaga sekolah mesti bersatu untuk keselamatan generasi kita ke depan,” tambahnya. (don)
Polling
Apakah anda setuju jika diberlakukan pembayaran parkir di sejumlah titik keramaian di dalam Kota Nabire ?
Suroso  Kamis, 13 Juni 2019 15:28
Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”
Oleh: Florentinus Tebai*)  Transaksi jual-beli tanah ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Transaksi jual beli t
Suroso  Rabu, 17 Juli 2019 21:10
TANAH, SUMBER KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT ADAT DI MEEUWODIDE
 Oleh Ernest Pugiye Ketika menyimak realitas kehidupana masyarakat adat di Meeuwodide, maka mereka masih tetap berhadapan dengan
Agenda Nabire
KEJUARAAN OLAHRAGA KABUPATEN
 Selasa, 20 Agustus 2019 22:0

Kejuaraan Olahraga Kabupaten Nabire tahun 2019 akan diselenggarakan MULAI TANGGAL 9 SEPTEMBER 2019

Cabang Olahraga Yang Dipertandingkan :

1. Bulutangkis

2. Bola Voley

3. Sepak Takraw

4. Pencak Silat

5. Karate

6. Taekwondo

Tempat Pendaftaran di Kantor KONI Nabire setiap jam kerja (09.00 WIT s/d 15.00 WIT)

HAHAEEE...
Nilai Raport
 Senin, 18 Februari 2019 1:28

Tinus : "Bapa.... belikan sa sepeda kah untuk pigi sekolah ? Sa pu teman-teman semua su naik sepeda kalo pigi sekolah"

Bapa : "Gampang itu anak. Yang penting ko pu nilai raport ada angka 9 minimal tiga. Kalau bisa, bapa langsung belikan ko sepeda baru."

Setelah ambil raport, Tinus pulang deng semangat. Tinus langsung cari dia pu bapa di rumah.

Tinus : "Bapa ini sa pu raport ada angka 9 ada tiga. Jadi bapa pu janji untuk belikan sa sepeda itu yang sa tagih."

Deng mata kabur-kabur sedikit, Tinus pu bapa liat Tinus pu raport. Memang di raport ada angka 9 ada tiga. Pace dia langsung tepati janji belikan Tinus sepeda baru.

Tapi pace dia rasa ada yang kurang pas di hati. Pace penasaran deng Tinus pur raport. Pace ko ambil kacamata dan perhatikan baik-baik nilai-nilai yang ada di dalam Tinus pu raport. Pace dia kaget tra baik punya waktu liat keterangan di depan angkat 9 yang ada tiga itu ternyata angka 9 itu bukan nilai mata pelajaran. Tapi angka 9 itu masing-masing ijin tidak sekolah 9, ijin sakit 9, dan alpa 9. Pace dia pu hati soak sampe.....

 

Info Loker