Home Artikel TANAH, SUMBER KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT ADAT DI MEEUWODIDE

TANAH, SUMBER KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT ADAT DI MEEUWODIDE

Suroso  Rabu, 17 Juli 2019 21:10
TANAH, SUMBER KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT ADAT DI MEEUWODIDE

 Oleh Ernest Pugiye

 

Ketika menyimak realitas kehidupana masyarakat adat di Meeuwodide, maka mereka masih tetap berhadapan dengan berbagai bermasalah kemanusiaan yang amat fundamental. Satu masalah fundamentalnya ialah adanya uang sebagai peganti tanah adat. Uang dianggap sebagai raja bagi mereka, yang sebenarnya menghancurkan kedaulatan martabat tanah adat secara substansial. Pentingnya mengumpulkan uang tanpa kerja menjadi satu pandangan modern yang lahir bagi masyarakat suku Mee setelah adanya pemekaran Kabupaten Dogiyai. Uang digunakan sebagai sarana yang dapat mengalahkan segala hak-hak masyarakat adat yang bermuara pada adanya realitas kehilangan tanah adat dan manusia Mee. Mereka dihilangkan secara sistematis di atas kepentingan ekonomi dan politik orang-orang pendatang dan pemerintah Jakarta. Maka sampai pada titik ini, rakyat Mee dibuat secara sengaja, sistematis dan terstruktural untuk masih mau dapat hidup dari uang, tetapi tidak dapat hidup dari tanah sebagai sumber KEHIDUPAN. Realitas kehilangan sumber kehidupan (tanah adat) ini dapat menjadi satu iklim masalah kemanusiaan yang amat memiluhkan hati rakyat Papua karena masyarakat pribumi dikondisikan dalam uang. Uang pengusaha non Papua masih dapat mengalahkan pemahaman mereka tentang betapa pentingnya tanah adat. Uang adalah segalanya bagi masyarakkat adat yang justru mengabaikan masa depan bangsanya. Tanah sebagai sumber kehidupan menjadi nilai dasar dan universal yang sudah lama dilupakan oleh setiap dan semua masyarakat adat ketika dihadapkan dengan adanya tawaran uang puluhan juta. Tawaran uang untuk membeli tanah adat masyarakat ini ditandai dengan berbagai kisah yang manis tanpa berisi sumber kehidupan bagi masyarakat adat. Mereka digiurkan oleh banyak kata dan bahasa manis yang terbukti mengandung realitas kematian generasi bangsanya. Jadi, menurut saya, tinddakan mereka menjual dan dibeli tanah itu sama dengan tindakan mematikan tanah sebagai sumber kehidupan, manusia suku Mee dan komunitas leluhur serta sama dengan tindakan mematikan masa depan generasi bangsanya. Bahkan tindak dan pandangan itupun justru memusnahkan suku Mee dari tanah adat. Filosofi Mama Belajar dari pengalaman sebelumnya, masyarakat suku Mee punya tanah adat yang melahirkan kehidupan yang baik dan sejati. Mereka memiliki suatu pandangan filosofi bahwa tanah adalah mama. Ia (tanah adat sebagai mama) itu adalah seorang manusia sejati dan baik. Sebagai manusia dan mama, ia sudah tentunya memiliki darah, rambut, kulit, tulang dan daging yang melahirkan kehidupan. Ia memiliki semua anggota tubuh manusia. Ia adalah mama Papua yang sejati, baik dan kudus.  Komunitas manusia Mee, udara, panas, komunitas hewan dan komunitas tanaman dan semua komunitas mahkluk hidup lainnya serta segala isinya dari setiap komunitas itu merupakan wujud konkret dari tanah sebagai sumber kehidupan. Kesemua realitas ini berasal dari dan bermuara pada eksistensi tanah adat sebagai mama (manusia Mee-Papua) yang melahirkan kehidupan. Sejatinya, kesemua unsur dasar ini tidak dapat dipisahkan dari tanah adat sebagai mama yang sejati dan baik. Menghadirkan dan hidup di tanah adat, setiap mereka tidak berkekurangan. Mereka dilahirkan oleh tanah adat, diasuh dan dibesarkan oleh tanah adat sebagai mama orang-orang Mee yang sejati dan baik. Dari waktu ke waktu, setiap dan semua mereka hidup dari tanah adat dan mengalami hidup berkelimpahan di situ. Kondisi demikian  sudah dapat dihayati dan dialami secara bersama dalam kehidupan mereka dengan tanah adat. Buktinya jelas bahwa setiap orang Mee biasanya mengambil air minum yang bening dari kali mereka. Juga mengambil kayu bakar, makanan asli dari hasil berkebun dan memelihara ternak babi dari warisan tanah adat mereka masing-masing. Mereka pandai memanah, berburu dan membuat kotekaa-mogee dari tanah adat. Mereka bangun rumah tanpa masalah. Mereka bahkan disebut orang-orang adat yakni masyarakat Kotekaa-Mogee. Semua kebutuhan mereka sudah dilahirkan dari tanah adat sebagai sumber kehidupan. Semua sudah disediakan oleh tanah adatnya masing-masing. Intinya, mereka mengambil satu kearifan lokal dari tanah adat justru bukan hilang satu, tetapi ganti seribu bibit unggul pada saat yang sama. Mereka sudah lama hidup dalam eksistensi tanah adat sebagai mama sumber kehidupan yang serba lengkap dan berkelimpahan. Sebagai mama, tanah adat memungkinkan mereka untuk terbangunnya relasi yang harmonis dan damai. Relasi mereka dengan tanah adat, tanah sakral dan para leluhur di tempat sudah terbangun harmonis dan tenang. Hanya melalui relasi harmonis ini, moral dan mental mereka sudah semakin nampak terbentuk secara permanen. Mereka dapat hidup atas dasar nilai-nilai adat yang berisi kekudusan dan kebaikan. Ada kesuburan hidup dari dan untuk mereka. Mereka sudah menyelengarakan hidup sebagai satu komunitas sorgawi di bumi. Namun semua kondisi surgawi ini hilang secepat mungkin ketika mereka dihadapkan dengan kondis baru, nilai-nilai baru yang dibawa datang oleh orang-orang pendatang dari dunia seberang sana. Agenda penjualan dan pembelian tanah adat dari antara para orang pendatang dan masyarakat pemilik tanah adat tadi mulai diperbolehkan sejak adanya penyebaran kondisi ini. Selain menjual dan dijual kepada orang-orang pendatang, tanah milik masyarakat adat juga terus digusur melalui adanya proses pembangunan pemerintah yang beriklim seragam kepentingan pemerintah Jakarta di Meeuwodide. Hal ini justru membuat masyarakat terasing dari hak kepemilikan atas tanah sebagai sumber kehidupan bagi mereka. Untuk itu, tulisan saya ini dapat menjadi suatu bahan pencerahan bagi orang-orang Mee agar mereka dapat mewarisi tanah adatnya sendiri sebagai sumber kehidupan. Makna Tanah Sebagai Sumber Kehidupan Makna tanah adat adalah sumber kehidupan bagi masyarakat adat suku Mee. Dikatakan sumber karena dari tanah mengalirkan kehidupan yang sejati, bahagia dan baik bagi mereka. Makna kehidupan yang sejati dan baik dapat dialami dan dirasakan hanya melalui dan dari tanah adat mereka. Tanpa uang pun, mereka (setiap masyarakat Mee) sudah bisa hidup dari tanah sebagai sumber dan puncak kehidupan. Mereka mau hidup karena sudah terbiasa hidup dari tanah adat Mee. Keseluruhan seluk-beluk kehidupan mereka sudah tentunya berasal dari dan berpuncak kepada tanah adat. Tanah adat menjadi sumber ajaran nilai-nilai kemanusiaan dan moral bagi orang Mee dalam hidup sehari-hari. Maka tanah adat adalah juga sumber dan puncak kehidupan dari seluruh kehidupan orang Mee dalam berbagai aspek. Dengan demikian, unsur-unsur kehidupan orang Mee seperti sejarah asal-usul, filosofi, sistem perkawinan dan kekerabatan, sistem teknologi, sistem ekonomi, sistem budaya, sistem kesehatan dan pendidikan serta sistem religi, sistem kesenian dan pembentukan nilai kehidupan dan kecerdasan Mee justu bersumber dari dan berpuncak pada tanah adat. Oleh karena itu, kesemua unsur ini sudah lama dihayati dan digunakan sebagai syarat utama dan pertama bagi masyarakat adat suku Mee dalam menyatakan filosofi kesejatian dan kebenaran eksistensial mereka di tanah leluhur.  Selain itu, tanah adat telah dapat membentuk pandangan sakralistik kepada semua masyarakat adat di sana. Kehidupan itu dapat dipandang sebagai sesuatu nilai yang kudus dan sakral. Dari perspektif sakralitasnya, mereka memandang eksistensi tanah sebagai realitas kekudusan. Kekudusan tanah adat itu merupakan suatu eksistensi HIDUP beradat yang amat bermakna dan bernilai tinggi bagi mereka. Mereka diadakan dari tanah adat dan hidup bersamanya di atas tanah adat. Dalam mempertahan hidup seperti ini, tanah adat dimaknai sebagai suatu eksistesi yang bersifat sakralitas dan keramat. Tanah sakral dan kramat yang secara tradisional sudah benar-benar menyatakan dirinya sebagai suatu subjek yang mengadakan, menghidupkan dan menyatukan mereka sebagai komunitas manusia Mee dalam sepanjang sejarah. Semangat kemanusiaan diri mereka sebagai komunitas masyarakat manusia Mee yang sakralitas terletak pada pewarisan eksistensi tanah sebagai sumber kehidupan. Warisannya melekat pada jiwa dan tubuh mereka. Karena jiwa akan berdiam di tanah adat, warisan ini bahkan berlaku abadi setelah adanya peristiwa kematian bagi mereka dan tubuhnya diburkan di tanah adat, bukan di Jakarta. Dari perspektif sakralitas, sumber kehidupan itu memiliki tindakan yang mengadakan kehidupan sejati dan baik bagi mereka.  Hidup itu menjadi sumber dari segala sumber realitas. Yang menjadi sumber hidup dan kehidupan inilah yang dapat disebut eksistensi sakralitas Mee yakni tanah adat, yang sudah menjadi milik masyarakat suku Mee dan warisan leluhur Mee dalam sepanjang sejarah. Eksistensi tanah adat yang daripadanya memiliki landasan sejarah mengawal, mengadakan  dan mengakhir sumber kedidupan sejati dan baik bagi mereka. Terhadap tanah sebagai sumber kehidupan, orang-orang Mee memiliki padangan sakralistik seperti ini. Berdasarkan ajaran adat, tanah sebagai sumber dan puncak kehidupan dapat digolongkan sebagai tanah sakral. “Tanah sakralnya mengundang mereka untuk melepaskan mantel-mantel kegelapan yang melekat dalam keseluruhan diri mereka dari waktu ke waktu. Tanah sakral ini hanya mau bergaul dan bersabahat kepada orang-orang kudus dan tidak bernoda. Orang-orang Mee atau entah siapaun orangnya, yang mau masuk di tanah-tanah sakral dari tanah adat, mereka sudah tentunya mengakui dosa terlebih dahulu”. Jadi jika tidak mengakui dosa-dosanya, mereka mati konyol sebelum dan atau setelah tiba di rumah. Kematian ini harus dialami dan diterima secara apa adanya oleh siapapun mereka karena tanah sakral memiliki hukum tersendiri yakni hukum naturalis untuk memiliki persahabatan dengan masyarakat adat. Di dalam tanah skral ini memiliki roh-roh baik. Roh-roh baik ini memilik hukum natural untuk mengadili setiap mereka mendatangi ke tanah sakral. Jika kita, entah siapapun, yang melewati tanah sakral, roh-roh baik ini hanya menerima orang-orang yang kudus, sejati dan baik. Orang-orang yang memiliki dosa banyak tidak bisa diperkenankan melewati dan bahkan mengijak di atas tanah sakral. Ada larangan keras dan tegas dalam ajaran adat orang-orang Mee yang bersumber dari tanah sakral dalam tanah adat. “Jadi yang namanya Sakral tetap diakui, ditepkan dan diwariskan sebagai tanah sakral yang melahirkan kehidupan yang kudus, sejati dan baik bagi setiap dan semua masyarakat adat.”  Semua dan setiap masyarakat adat mengakui bahwa ada banyak titik-titik sakral dari dalam tanah adat milik masyarakat suku Mee di Meeuwodide. Titik-titik tanah sakral dari tanah adat masyarakat Mee itu di antaranya ialah tanah Egaidimi yang berkedudukan di Bomomani Distrik Mapia, Homihai yang berkedudukan antara Pona dan Diyeugi Distrik Mapia Tengah, Maakewapa yang berkedudukan di Distrik Kamu Utara, Danau Jamur yang terlektak di Sukikai Selatan dan Gamei yang terletak terletak di kolomer 50-an adalah sejumlah tanah sakral yang diakui dan diawaiskan bersama dari perspektif tanah adat masyarakat adat. Titik-titik tanah sakral dari tanah adat itu dipilih, ditetapkan dan diwariskan secara bersama dari generasi yang terdahulu kepada generasi terdepan. Setiap dan semua orang, entah siapapun orangnya, sudah benar-benar dilarang keras dan tegas untuk tidak boleh masuk berjalan ke tempat-tempat sakral tersebut. Menghayati Tanah Sebagai Sumber Kehidupan Tanah sebagai suatu eksistensial mama sumber kehidupan. Ia adalah segalanya bagi kita karena kebaikan dan kesehatiaannya mendahuli eksistensi yang lain. Di dunia ini tidak pernah ada satu bangsa yang hidup dari uang. Uang itu adalah hanya satu buah “rayuan kematian” dari tanah adat sebagai mama yang memiliki sumber kehidupan yang sejati dan baik. Sebagai orang-orang Mee yang berbudi mulia dan baik, kita dipanggil oleh tanah sebagai mama sumber dari segala sumber realitas untuk menghayatinya demi keselamatan masa depan generasi bangsa Mee. Menghayati berarti kita dipanggil untuk menghidupkan dan mempertahankan tanah adat, bukan untuk menjual kepada para orang pendatang, tetapi menghidupkan komunitas Mee dan membuatnya (tanah adat) menjadi tempat pengambilan kebijakan pemerintah yang berwawasan tanah adat guna terciptanya Dogiyai bahagia. Menghayati juga berarti kita menyadari dan mengalami fungsi dari sumber tanah adat yang mengalirkan semangat bekerja dan bergotong-royong kepada kita untuk “mewariskan hukum kehidupan” nilai-nilai kecerdasan orang Mee yakni mewariskan HIDUP yang bahagia, sejati, baik, bijaksana, cerdas dan bertangjung jawab bagi masa depan Papua damai dan bahagia. Ideologi warisan kebaikan dan kebahagiaan bersama dari sumber hidup tanah adat inilah yang sudah seharusnya dikerjakan oleh pemerintah bersama masyarakat adat dengan menggunakan pendekatan budaya sakralitas terhadap eksistensi tanah adat dan manusia suku Mee di tanah Kotekaa-Mogee. Oleh karena itu, Dogiyai bahagia sudah tentunya akan terwujud dan dialami bersama sebagai suatu warisan leluhur Mee hanya apabila setiap kita tergerak hati dan jiwa untuk segera memulai menghayati dan melaksanakan hukum adat yang kudus ini. Penulis adalah Alumnus pada STFT “Fajar Timur” Abepura-Jayapura                     .

Polling
Apakah anda setuju jika diberlakukan pembayaran parkir di sejumlah titik keramaian di dalam Kota Nabire ?
Suroso  Kamis, 13 Juni 2019 15:28
Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”
Oleh: Florentinus Tebai*)  Transaksi jual-beli tanah ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Transaksi jual beli t
Suroso  Rabu, 17 Juli 2019 21:10
TANAH, SUMBER KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT ADAT DI MEEUWODIDE
 Oleh Ernest Pugiye Ketika menyimak realitas kehidupana masyarakat adat di Meeuwodide, maka mereka masih tetap berhadapan dengan
Agenda Nabire
KEJUARAAN OLAHRAGA KABUPATEN
 Selasa, 20 Agustus 2019 22:0

Kejuaraan Olahraga Kabupaten Nabire tahun 2019 akan diselenggarakan MULAI TANGGAL 9 SEPTEMBER 2019

Cabang Olahraga Yang Dipertandingkan :

1. Bulutangkis

2. Bola Voley

3. Sepak Takraw

4. Pencak Silat

5. Karate

6. Taekwondo

Tempat Pendaftaran di Kantor KONI Nabire setiap jam kerja (09.00 WIT s/d 15.00 WIT)

HAHAEEE...
Nilai Raport
 Senin, 18 Februari 2019 1:28

Tinus : "Bapa.... belikan sa sepeda kah untuk pigi sekolah ? Sa pu teman-teman semua su naik sepeda kalo pigi sekolah"

Bapa : "Gampang itu anak. Yang penting ko pu nilai raport ada angka 9 minimal tiga. Kalau bisa, bapa langsung belikan ko sepeda baru."

Setelah ambil raport, Tinus pulang deng semangat. Tinus langsung cari dia pu bapa di rumah.

Tinus : "Bapa ini sa pu raport ada angka 9 ada tiga. Jadi bapa pu janji untuk belikan sa sepeda itu yang sa tagih."

Deng mata kabur-kabur sedikit, Tinus pu bapa liat Tinus pu raport. Memang di raport ada angka 9 ada tiga. Pace dia langsung tepati janji belikan Tinus sepeda baru.

Tapi pace dia rasa ada yang kurang pas di hati. Pace penasaran deng Tinus pur raport. Pace ko ambil kacamata dan perhatikan baik-baik nilai-nilai yang ada di dalam Tinus pu raport. Pace dia kaget tra baik punya waktu liat keterangan di depan angkat 9 yang ada tiga itu ternyata angka 9 itu bukan nilai mata pelajaran. Tapi angka 9 itu masing-masing ijin tidak sekolah 9, ijin sakit 9, dan alpa 9. Pace dia pu hati soak sampe.....

 

Info Loker