Home Artikel Metode Teologi Pembebasan Amerika Latin sebagai Suatu Model Mengatasi Situasi Masalah Papua

Metode Teologi Pembebasan Amerika Latin sebagai Suatu Model Mengatasi Situasi Masalah Papua

Suroso  Kamis, 26 September 2019 21:21
Metode Teologi Pembebasan Amerika Latin sebagai Suatu Model Mengatasi Situasi Masalah Papua
1. Pengantar Istilah pembebasan, muncul sebagai istilah khas Amerika Latin. Istilah tersebut merupakan istilah yang dibakukan sebagai reaksi terhadap pembangunan di Amerika Latin. Pembangunan teologi pembebasan telah membawa misi sistem ekonomi, politik, liberal kapitalis, ketidakadilan, pelanggaran HAM, dll. Sistem liberal kapitalis, politik, ketidakadilan dan pelanggaran HAM justru menimbulkan jurang yang semakin dalam antara yang miskin dan kaya, yang sakit dan sehat, masyarakat Afrika dan non Afrika. Negara miskin semakin tergantung pada negara kaya, dalam hal hutang dan hubungan dagang internasional. Desa semakin menjadi pinggiran dan tergantung pada kota. Buruh semakin menggantungkan nasibnya pada majikan yang memerasnya (http://www.academia.edu/8373077/Teologi_Pembebasan_di_Amerika_Latin, diakses pada tanggal 18 September 2019 pukul 10.08.). Salah satu tokoh terkenal dalam teologi pembebasan adalah Gustavo Gutierrez. Pengalaman tinggal bersama orang-orang kecil yang tertindas mendorongnya untuk melakukan kontekstualisasi dalam berteologi. Menurut Gutierrez pendekatan Teologi Barat yang dia pelajari tidak dapat diaplikasikan dalam situasi masyarakat di Amerika Latin. Menurut dia, butuh pendekatan khas untuk berteologi dalam situasi yang sangat memprihatinkan di Amerika Latin waktu itu. Gustavo merumuskan teologi pembebasan sesuai konteks Afrika latin. Dilatarbelangi oleh pemahaman teologi pembebasan Gustavo ini, baiklah kita mendalami persoalan yang terjadi di tanah ini. Ada wadahnya untuk mengkontekskan teologi pembebasan dengan khas Papua. Surat Yakubus 2:14-26, menyatakan bahwa Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Keutmaan aksiologi sebagai perwujudan iman. Apalagi dalam koteks Papua, keimanan dan aksiologi sangat diharapkan menjadi panduan praksis untuk menjembatani beragam persoalan masyarakat. Sebab dengan demikian keselamatan yang diwartakan Tuhan itu sudah kita terapkan dalam hidup melalui pembangun komunitas sosial masyarakat (Bonum Comune) sesuai kehendak Tuhan (Imago Dei) 2. Metode Umum Teologi Pembebasan Amerika Latin Lonergan mengatakan bahwa metode adalah sebuah model baku dari kategori- kategori budi yang saling bertautan dan berjalan berulang-ulang, yang menghasilkan perolehan-perolehan yang semakin bertumpuk dan bersifat memperbaharui hal yang mendahuluinya (Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya [Jakarta: Sinar Harapan, 1987], 31. Bdk., pengertian metode dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memberi arti kata metode sebagai sebuah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud tertentu [di bidang ilmu pengetahuan). Istilah teologi pembebasan itu sendiri sudah ada lama dalam kazhanah ilmu teologi yang pada dasarnya mau merujuk pada inti pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah tentang warta keselamatan (Lih., E. Martasudjita, Pokok-Pokok Iman Gereja: Pendalaman Teologi Syahadat [Yogyakarta: Kanisius 2013], hal. 60 62). Sementara itu, istilah teologi pembebasan di Amerika Latin mendapat pemaknaan yang baru, yang lebih tranformatif. Penggunaan kata ‘di’ menjadi jelas bahwa istilah teologi pembebasan Amerika Latin berjalan karena berdasarkan konteks tempat dimana teologi itu diterapkan. Karya teologi pembebasan di Amerika Latin tidak terlepas dari para teolog seperti Gutierrez, Leonardo Boff, Segundo, dsb., yang kemudian secara umum memaknai pembebasan ke dalam tiga hal sebagai berikut (Wahono Nitiprawiro, hal. 16 – 17.): • Pembebasan dari belengu penindasan ekonomi, sosial, dan politik atau alienasi kultural atau kemiskinan dan ketidakadilan. • Pembebasan dari kekerasan yang melembaga yang menghalangi terciptanya manusia baru dan digairahkannya solidaritas anatar manusia atau lingkaran setan kekerasan yang menantang orang untuk berperanserta dalam kematian Kristus atau praktik-praktik yang menentang usaha pemanusiaan manusia sebagai tindakan pembebasan. • Pembebasan dari dosa yang memungkinkan manusia masuk dalam persekutuan dengan Tuhan dan semua manusia atau pembebasan mental, yakni penerjemahan dan penginkarnasian iman dan cinta dalam searah yang konkret yang ditandai oleh salib Kristus sebagai salib cinta yang mengalahkan kuasa dosa yang terjelma dalam situasi kekerasan. Di sisi lain Boff merumuskan kata pembebasan sebagai sebuah proses menuju ke kemerdekaan dari segala sistem yang menindas dan ke dalam bentuk pembebasan untuk realisasi pribadi manusia, memungkinkan manusia untuk menentukan bagi dirinya sendiri tujuan-tujuan hidup politis, ekonomis dan kulturalnya (Ibid, hal. 17.). Sementara itu, Gutierrez secara khusus merumuskan kata pembebasan bukan hanya sebagai sebuah proses, melainkan juga sebagai sebuah metriks (Metriks adalah istilah metematika. Metriks adalah inti perasaann dari suatu model struktur yang unsur- unsurnya berkaitan secara teratur dan oleh karenanya merupakan sebuah model yang baku) dari berbagai tataran arti yang saling bertautan (Wahono Nitiprawiro, Hal. 54 – 55.): • Pembebasan ekonomi, sosial, politik. • Pembebasan manusiawi, yang menciptakan manusia baru dalam masyarakat solidaritas yang baru. • Pembebasan dari dosa dan masuk dalam persekutuan dengan Tuhan Allah dan semua manusia. Ciri dari teologi pembebasan adalah berangkat dari tinjauan praktek hidup masyarakat yang dipengaruhi oleh aliran ilmu sosial “pertumbuhan ekonomi” atau “pembangunan” [development] dn Human Right, dll. Ciri yang khas tersebut dapat dijadikan sebagai suatu pembeda teologi pembebasan dari teologi barat yakni terutama terkait metodologi (Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti kata metodologi sebagai uraian tentang metode. Sedangkan dalam buku Teologi Pembebasan, Wahono Nitiprawiro memberikan bagian pokok dari metodologi dari teologi yang berisi: Materi subjek teologi, konteks kultural sezaman, pendengar atau publiknya, pelaku teologi, kategori penalarannya, dan arah tindakan teologi) yang digunakannya. Teologi barat mengawali metode teologinya dari iman yang diajarkan. Dalam arti tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan teologi melulu pada taraf rasional. Sedangkan pada teologi pembebasan bertolak dari reaksi [praksis] terhadap sistem yang tidak adil yang menjadikan manusia sebagai non person. Dalam arti tersebut maka teologi pembebasan hendak mengantar orang-orang tertindas untuk sampai pada pemahaman akan Allah dan memiliki harapan keselamatan melalui penghayatan religiusitas yang mendapatkan tantangannya dalam pengalaman hidup sehari-hari yang yang cenderung mengalami situasi ketertindasan dalam berbagai hal. Teologi pembebasan memberikan harapan baru dalam pengalaman hidup yang jauh dari ketidakpastian kebenaran, keadilan dan jauh dari keberpihakan pada mereka yang lemah dan tak bersuara. 3. Metode Teologi Gustavo Guiterrez (Bagian ini secara khusus kami rangkum dari: Martin Chen, Teologi Gustavo Guiterrez : Refleksi dari Praksis Kaum Miskin, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 25-49) Teologi adalah pembicaraan tentang Allah. Dalam hal ini, bagi Gustavo Guiterrez, teologi harus bertolak dari praksis yaitu pengalaman Allah dalam kontemplasi (ibadat/mistik) dan aksi (komitmen/politik). Hal ini dilatarbelakangi pemikiran Guiterrez yang menganggap bahwa orang dapat membicarakan Allah dengan tepat hanya dengan memulai dari tataran praksis. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa teologi sesungguhnya adalah kegiatan kedua (the second act) yang mengikuti praksis sebagai kegiatan pertama (the first act). Praksis adalah langkah pertama di mana orang menjumpai Allah dalam pergulatan hidupnya. Sedangkan teologi merupakan usaha lebih lanjut untuk merefleksikan secara kritis pengalaman akan Allah itu (praksis) dalam terang iman Gereja. 3.1 Kegiatan Pertama : Praksis – Saat diam di hadapan Allah Fokus dari kegiatan pertama dalam metode teologi Gustavo Guiterrez adalah praksis. Dalam hal ini praksis menjadi titik awal dalam teologi Gustavo Guiterrez. Terdapat dua hal yang menjadi point penting dalam praksis ini yaitu kontemplasi dan aksi. Bagi Gustavo Guiterrez, manusia menerima komunikasi dari Allah melalui kontemplasi dan aksi. Ia pun beranggapan bahwa berteologi tanpa media kontemplasi dan aksi tidak akan menemukan misteri Allah seperti yang dinyatakan di dalam Injil. Pembicaraan tentang Allah harus bertolak dari pengalaman akan Allah dalam kehidupan. Bagi Guiterrez, kontemplasi dan aksi merupakan ‘saat diam dihadapan Allah’. (silence before God). Hal ini dibedakan dari teologi yang disebut sebagai ‘saat berbicara tentang Allah’ (talking about God). Pembicaraan tentang Allah yang merupakan fase kedua hanya dapat dilakukan setelah fase pertama yaitu diam dihadapan Allah dilakukan. Diam dalam arti kontemplasi dimengerti sebagai manusia diresapi oleh karya penyelamatan dan pembebasan Allah. Dalam hal ini, manusia membiarkan diri diresapi oleh rahmat Allah. Melalui rahmat ini, manusia memperoleh kekuatan untuk melakukan perjuangan konkret di tengah-tengah dunia. Maka kontemplasi tidak dimengerti sebagai lari meninggalkan dunia, melainkan masuk dalam kesunyian untuk menghayati rahmat Allah yang mendasari, menginspirasi dan mengorientasi keterlibatan seseorang dalam sejarah (Hal ini dapat dibandingkan dengan apa yang disampaikan oleh L. Boff yang menyatakan bahwa: “Diam ini bukanlah diam dengan mata tertutup yang ditemukan dalam beberapa mistik kuno dan modern tetapi mistisisme dengan mata-mata yang menatap dunia, mistisisme dengan telinga-telinga yang mendengar jeritan kaum tertindas dan tuntutan-tuntutan Allah yang datang dari sejarah dan penderitaan orang-orang tidak bersalah.” M.H. Ellis dan Otto Maduro, hlm 40, dalam Martin Chen, Teologi Gustavo Guiterrez : Refleksi dari Praksis Kaum Miskin, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 49). Diam dalam arti aksi dimengerti sebagai keterlibatan diri dalam kehidupan bersama orang lain sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini tampak dalam solidaritas bersama kaum miskin dan tertindas dalam memperjuangkan pembebasan. Dua point ini saling menentukan dan membentuk fase diam dihadapan Allah. Dalam dua hal tersebut tidak ada kata-kata atau diskusi tentang Allah. Yang ada adalah perjumpaan kasih dengan Allah. Dalam hal ini, kontemplasi dan aksi merupakan mediasi mutlak dalam berbicara tentang Allah. Hal ini pun berlaku sebaliknya di mana teologi memperkaya kontemplasi dan aksi serta memberikan dimensi-dimensi baru di dalamnya. Dalam konteks Papua perlu memberi pendasaran melalui pewartaan tentang mengadari kehadiran Allah kemudian diwujudnyatakan dalam aksi nyata. Pewartaaan tentang nilai-nilai keselamatan perlu dikombinaksikan dengan aksi nyata. Aksi nyata itulah, orang sampai pada penyadaran diri sekaligus menemukan dirinya dan sesama yang lain merupakan wujud dari kasih Allah sendiri. Misi keselamatan dan pembebasan manusia dari segala persoalan yang terjadi di tanah ini merupakan misi Gereja. Gereja sebagai medium mengkotekskan misi Allah perlu belajar dari teolog Amerika Latin Gustavo Guiterrez yang mengantar masyarakat Amerika Latin mengalami kasih Allah secara nyata dan konkrit dalam kehidupan merekan. 3.2 Kegiatan Kedua : Berteologi – Saat Berbicara tentang Allah Dalam kegiatan kedua ini, terdapat tiga hal penting yang sangat menentukan proses berteologi. Ketiga hal tersebut adalah pertama perspektif teologi, kedua adalah praksis historis sebagai matriks teologi, ketiga adalah refleksi kritis. 3.2.1 Perspektif Teologi Dalam konteks Amerika Latin, berteologi berarti merefleksikan iman dalam penderitaan kaum miskin dan tertindas dengan bertitik tolak dari harapan dan perjuangan pembebasan mereka. Teologi Amerika Latin adalah teologi dari persepektif orang miskin dan tertindas yang selama ini tereksploitasi secara ekonomis, tertindas secara politis, termajinalkan secara sosial maupun terlecehkan secara cultural, dan pelanggaran HAM (Guiterrez menyebut orang-orang tersebut adalah mereka yang hilang dalam sejarah (absent in history)). Teologi pembebasan di Amerika Latin adalah teologi yang mengartikulasikan jeritan penderitaan maupun harapan orang-orang miskin yang selama ini dibuat bisu oleh sistem penindasan. Dalam konteks ini ada kemungkinan tiga konflik yang terjadi. Pertama, konflik dengan model teologi tertentu yang menggunakan orang-orang miskin dan situasinya sebagai alat legitimasi sistem sosial yang tidak adil. Kedua, konflik dengan institusi Gereja yang selama ini berhubungan erat dengan kelas dominan yang berkuasa. Ketiga, konflik dengan elite penguasa yang terancam kepentingannya. Namun Guiterrez menolak untuk menjadikan konflik tersebut sebagai alasan untuk mendiamkan ketidakadilan yang terjadi. Menurutnya, perdamaian hanya bisa terjadi karena dibangun di atas keadilan. Segala bentuk tatanan hidup bisa rusak karena tidak mengutamakan nilai keadilan, kejujuran, atau keterbukaan, dan tidak saling menerima sebagai saudara dan sahabat. Teologi pembebasan Amerika Latin hadir di tengah kehidupan masyarakat yang memprihatikan keselamatannya dari penindasan dan ketidakadilan. Teologi ini menjawab sekaligus memberikan harapan hidup bagi masyarakat Amerika Latin. Bila ditinjau kembali pengalaman hidup masyarakat Amerika Latin dan masyarakat Papua sedikit mirip walaupan perbedaan konteks dan masalahnya. Tokoh masyarakat, pemerintah dan Gereja hadir untuk menjawab sekaligus memberikan harapan hidup kepada masyarakat Papua. Harapan yang dimaksud di sini adalah harapan untuk bebas beraktivitas di tanahnya sendiri, bebas menyampaikan pendapat kepada yang berwajib, memberikan jaminan studi tanpa takut dan diteror, dll. Lebih dari semua itu perlu duduk bersama untuk meluruskan sejarah politik dan menyelesaikan semua bentuk pelanggaran HAM di tanah ini. 3.2.2 Praksis Historis sebagai Matriks Teologi (Acuan Refleksi) Pertanyaan awal yang muncul dalam praksis historis adalah ‘sejauh mana praksis dalam sejarah dapat menjadi pertimbangan dalam refleksi iman? Hal ini menjadi menarik ketika membandingkan teologi pada umumnya diambil dari Kitab Suci dan Tradisi Gereja. Dalam hal ini, Guiterrez memberikan tiga dasar pembenaran. Pertama, dalam iman Kristiani praksis historis yang dimaksud adalah perbuatan cinta kasih (Lih. 1Yoh 4:8 : Allah adalah kasih). Oleh karena itu, setiap kasih mengungkapkan kehadiran Allah. Karena kasih menyatakan kehadiran Allah, maka setiap praksis historis yang berlandaskan kasih juga memiliki signifikansi teologis. Dalam konteks Amerika Latin, kasih yang dimaksudkan adalah kasih dalam arti sosial yakni kasih yang hidup dalam struktur-struktur sosial masyarakat. Kedua, praksis historis berkaitan dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang diwartakan dan dihadirkan Yesus dalam kehidupan-Nya di dunia sudah mulai terlaksana di dalam sejarah meskipun realitas kepenuhannya terjadi di akhir zaman. Kerajaan Allah terwujud dalam nilai-nilai kehidupan, kebenaran, keadilan, perdamaian dan sebagainya. Hal-hal yang bertentangan dengan hal tersebut seperti penindasan, ketidakadilan dsb adalah perwujudan anti Kerajaan Allah di tengah dunia. Dalam hal ini, praksis historis penting untuk menjadi sebuah objek pertimbangan teologis. Ketiga, praksis historis bertolak dari peristiwa inkarnasi. Bagi Guiterrez, Allah tidak hanya tinggal di dalam sejarah melainkan juga menjadi sejarah. Melalui inkarnasi, setiap manusia, umat manusia dan sejarah menjadi kenisah yang hidup dari Allah. Yang profan yang berada di luar kenisah itu tidak ada lagi. Sejarah tidak pernah lagi hanya bersifat sekular tetapi merupakan medan karya Allah dan karena itu harus ditafsir melalui refleksi teologis. Di sini, 3.2.3 Refleksi Kritis Praksis historis yang menjadi matriks teologi harus direfleksikan secara kritis dalam terang iman. Dalam hal ini, teologi tidak hanya merefleksikan kehidupan komunitas Gereja tetapi juga isu ekonomi, sosio-kultural yang mewarnai kehidupan Gereja. Guiterrez memandang terdapat dua tugas teologi. Pertama, teologi bertugas menganalisis situasi masyarakat. Dalam situasi yang tidak adil, teologi harus menghubungkan kehidupan iman dengan kebutuhan konkret untuk membangun masyarakat yang adil dan manusiawi. Karena itu teologi perlu bersifat kritis profetis terhadap bentuk tindakan sosial politik yang terarah kepada kepentingan elite yang berkuasa. Teologi pun perlu bersifat kritis terhadap setiap ideologi yang melegitimasi tatanan sosial yang tidak adil. Secara singkat dapat dikatakan bahwa teologi harus mengartikulasikan penderitaan dan harapan kaum miskin sekaligus perjuangan pembebasan mereka dari belenggu penindasan dan kemiskinan. Kedua, teologi bertugas menganalisis situasi Gereja baik dalam arti keseluruhan sebagai umat Allah maupun berbagai segmen yang ada dalam Gereja seperti klerus, awam dll. Dalam hal ini perlu dlihat relasi Gereja dengan masyarakat yaitu apakah Gereja mendukung kekuasaan yang menindas ataukah terlibat dalam perjuangan pembebasan kaum miskin? Dalam hal ini, dengan bersumber pada wahyu Ilahi, teologi membantu mengarahkan aktivitas pastoral Gereja yang sesuai dengan semangat injil dan relevan dengan situasi social masyarakat Papua. 4. Tanggapan Kritis Atas Metode Teologi Pembebasan Amerika Latin dan Situasi Papua saat ini Teologi Pembebasan mendasarkan dirinya pada pengalaman yang dialami oleh masyarakat. Dalam hal ini, teolog diawali tidak dari hal yang hanya berasal dari tataran ratio melainkan justru dari sesuatu yang ‘nyata’ dan dialami oleh manusia. Dilihat dari konteks Papua, teologi pembebasan perlu dikembangkan di Papua. Masalah yang dihadapi di konteks Amarika latin dan Papua ada kemiripan maka teologi pembebasan bisa menjadi solusi. Dalam situasi yang tidak adil, teologi harus menghubungkan kehidupan iman dengan kebutuhan konkret untuk membangun masyarakat yang adil dan manusiawi. Karena itu teologi perlu bersifat kritis profetis terhadap bentuk tindakan sosial politik yang terarah kepada kepentingan elit yang berkuasa. Sejarah pengalaman hidup masyarakat Papua hingga kini mengalami situasi hidup yang jauh dari ketidakpastian kebanaran, keadilan dan jauh dari keberpihakan kepada mereka yang lemah maka perlu memastikan kebanaran, keadialan dan keberpihakan yang menyeluruh. Kepastian kebanran, keadailan dan keberpihakan yang menyeluruh dapat mengantar setiap pribadi memiliki harapan hidup. Metode yang saya tawarkan dalam konteks Papua adalah teologi aksi. Teologi aksi yang dimaksud di sini adalah pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama keluar dari zona nyamannya untuk menyatakan misi Allah secara nyata dan konkrit kepada masyarakat yang menantikan kedamaian, kebebasan dan keadilan. Pewartaan nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Allah yang dapat diwartakan oleh Gereja perlu diimbangi dengan aksi nyata. Metodenya adalah refleksi atas situasi persoalan hidup masyarakat, pewartaan misi Allah dan aksi nyata. Hingga saat ini lebih banyak orang beropini baik di media elektronik maupun surat kabar namun belum mewujudnyatakan opini yang bagus itu secara nyata kepada masyarakat. Sampai kapanpun bila tidak ada aksi nyata kepada masyarakat dan menyentuh hati masyarakat masalah ini terus bertumbuh sumbur dari generasi ke genarasi. Pemahaman ini mau mencerakan kepada kita tentang situasi di Papua. Apakah Papua butuh pendekatan khas untuk berteologi dalam situasi ini? Seharusnya sangat bisa apabila STFT Fajar Tumur, STT GKI serta beberapa sekolah tinggi yang ada di Papua untuk duduk bersama merancang model teologi kontekstual Papua yang dapat mengangkat harkat dan martabat manusia Papua. 5. Sebuah refleksi Teologi Pembebasan Amerika Latin untuk Konteks Kita 1. Kita banyak belajar dari Teologi Pembebasan Amerika Latin, yaitu kebutuhan untuk teologi yang berdasarkan pada konteks. Sebab, teologi tidak menjadi efektif kecuali jika diformulasikan untuk berfungsi dalam situasi yang nyata dan spesifik. Karl Barth, misalnya, pernah berkata bahwa “teologi terbaik adalah berkreasi dengan Alkitab pada satu tangan dan surat kabar pada tangan yang lain”. Kita perlu mempelajari teologi yang kontemporer dan relevan dengan keadaan kita masing-masing, agar dapat mengintegrasikan iman dalam doktrin yang benar. Eksegese harus berdasarkan suasana zaman (contemporary scene), dan teologi pembebasan, dengan ketiga metodenya berhasil melakukan hal ini dengan baik (Bdk. David L. Smith, A Handbook of Contemporary Theology (Grand Rapids: Bridge Point Books, 1992). 2. Meskipun kontekstual, teologi pembebasan juga mampu menginspirasi teologi-teologi secara universal dalam hal memberikan perhatian untuk situasi kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan dan pengasingan. Leonardo Boff, misalnya, berkata, “Dasar Teologi Pembebasan adalah suatu nubuatan dan komitmen persaudaraan terhadap hidup, tujuan, dan perjuangan. Ini merupakan suatu komitmen bersama untuk mengakhiri ketidakadilan suatu sejarah sosial, penindasan dan pelanggaran HAM” (Ibid. Grand Rapids). 3. Pengakuan bahwa gereja tidak hanya merupakan hierarki, tetapi juga mencakup dan melibatkan umat Allah, bahkan yang paling marjinal. Praksis teologi pembebasan yang bertolak dari kaum awam, secara khusus kaum miskin ini, menegaskan pandangan Gereja pasca Konsili Vatikan II (paradigma gereja baru dengan model siklis yang bersifat “kristosentris” memperbarui model institusional piramidal yang bersifat “hierarkisentris”). Membumikan teologi secara kontekstual sesuai harapan Konsili Vatikan dan dan teologi pembebasan perlu berangkat dari siatuasi kehidupan masyarakat soasil. Memberikan pembobotan teologi dengan aksi nyata yang berangkat dari situasi kehidupan masyarakat. 4. Mendobrak kenyamanan gereja di masa lampau yang terkesan asyik di pihak penindas dan ikut menjadi kaya dan berkuasa di tengah-tengah kemiskinan. Teologi pembebasan membenahi/mereformasi cara hidup menggereja, membawa Gereja kembali pada bagaimana ia seharusnya, yakni “berorientasi kepada” dan “berada bersama” seluruh umat Allah, termasuk yang paling miskin, diabaikan, dihina, dan situasi masyarakat yang mengalami ketidakadilan dalam bentuk apapun. Sangat tepatlah Gereka memberikan pengharapan kepada masyarakat Papua yang telah, sedang dan akan mengalami ketidakadilan dan penindasan di depan mata Gereja. 5. Teologi Pembebasan, melalui metode praksis, kritis, dan transformatif-nya, mengimbau kita untuk menerapkan kebenaran firman Tuhan di dalam tindakan yang nyata. Ia kembali mendengungkan panggilan luhur gereja untuk melakukan tindakan kasih sebagai perwujudan teologi (berdasarkan firman Tuhan), agar Kristus dipermuliakan (Mat. 5:13-16; Yak. 2:14-26). Orang Kristen seharusnya tidak hanya dapat berkhotbah kepada orang-orang tertindas, namun juga harus mengulurkan tangan kasih sebagai perwujudan nyata dari firman yang diberitakan. Lima bentuk keunggulan teologi pembebasan ini mengajak kita untuk berteologi secara kontekstual. Mari kit belajar sekaligus menhadirkan teologi pembebasan ara Papua. Agar Gereja dapat memberikan satu titik terang dan pengharapan kepada masyarakat atau umat yang mengalami krisis kedamaian, keadialan, penindasan di tanah ini. Daftar Pustaka 1. http://www.academia.edu/8373077/Teologi_Pembebasan_di_Amerika_Latin, diakses pada tanggal 29 Agustus 2019 pukul 10.08. 2. Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya [Jakarta: Sinar Harapan, 1987]. 3. ,E. Martasudjita, Pokok-Pokok Iman Gereja: Pendalaman Teologi Syahadat [Yogyakarta: Kanisius 2013]. 4. Martin Chen, Teologi Gustavo Guiterrez : Refleksi dari Praksis Kaum Miskin, (Yogyakarta: Kanisius, 2002). 5. M.H. Ellis dan Otto Maduro, hlm 40, dalam Martin Chen, Teologi Gustavo Guiterrez : Refleksi dari Praksis Kaum Miskin, (Yogyakarta: Kanisius, 2002). 6. Bdk. David L. Smith, A Handbook of Contemporary Theology (Grand Rapids: Bridge Point Books, 1992. Penulis: Pastor Hubertus Magai, Pr.
Polling
Apakah anda setuju jika diberlakukan pembayaran parkir di sejumlah titik keramaian di dalam Kota Nabire ?
Suroso  Kamis, 13 Juni 2019 15:28
Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”
Oleh: Florentinus Tebai*)  Transaksi jual-beli tanah ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Transaksi jual beli t
Suroso  Kamis, 26 September 2019 21:21
Metode Teologi Pembebasan Amerika Latin sebagai Suatu Model Mengatasi Situasi Masalah Papua
1. Pengantar Istilah pembebasan, muncul sebagai istilah khas Amerika Latin. Istilah tersebut merupakan istilah yang dibakukan sebagai rea
Agenda Nabire
KEJUARAAN BULUTANGKIS YUNIOR 2019
 Senin, 21 Oktober 2019 21:40

Dalam rangka menjaring bibit-bibit muda atlet bulutangkis di Kabupaten Nabire, PBSI Pengkab Nabire menggelar Kejuaraan Bulutangkis Yunior tahun 2019. Kelas yang akan dipertandingkan 1) Perorangan putra dan putri di bawah 9 tahun, 2) Beregu di bawah 12 tahun.

Kejuaraan akan dilaksanakan mulai tanggal 26 Oktober 2019 sampai dengan selesai, di GOR Kotalama

 
HAHAEEE...
Nilai Raport
 Senin, 18 Februari 2019 1:28

Tinus : "Bapa.... belikan sa sepeda kah untuk pigi sekolah ? Sa pu teman-teman semua su naik sepeda kalo pigi sekolah"

Bapa : "Gampang itu anak. Yang penting ko pu nilai raport ada angka 9 minimal tiga. Kalau bisa, bapa langsung belikan ko sepeda baru."

Setelah ambil raport, Tinus pulang deng semangat. Tinus langsung cari dia pu bapa di rumah.

Tinus : "Bapa ini sa pu raport ada angka 9 ada tiga. Jadi bapa pu janji untuk belikan sa sepeda itu yang sa tagih."

Deng mata kabur-kabur sedikit, Tinus pu bapa liat Tinus pu raport. Memang di raport ada angka 9 ada tiga. Pace dia langsung tepati janji belikan Tinus sepeda baru.

Tapi pace dia rasa ada yang kurang pas di hati. Pace penasaran deng Tinus pur raport. Pace ko ambil kacamata dan perhatikan baik-baik nilai-nilai yang ada di dalam Tinus pu raport. Pace dia kaget tra baik punya waktu liat keterangan di depan angkat 9 yang ada tiga itu ternyata angka 9 itu bukan nilai mata pelajaran. Tapi angka 9 itu masing-masing ijin tidak sekolah 9, ijin sakit 9, dan alpa 9. Pace dia pu hati soak sampe.....

 

Populer

LHKPN Disosialisasikan di Intan Jaya
Suroso  Minggu, 3 Nopember 2019 5:20
Sudah Pensiun, Sekda Nabire Diganti
Suroso  Minggu, 3 Nopember 2019 4:59

Info Loker