Home Nabire Sejumlah Usaha di Nabire Terancam Gulung Tikar

Sejumlah Usaha di Nabire Terancam Gulung Tikar

Suroso  Selasa, 2 Juni 2020 1:46
Sejumlah Usaha di Nabire Terancam Gulung Tikar

NABIRE – Pandemi Covid-19 di Kabupaten Nabire yang disikapi dengan adanya pembatasan-pembagatasan aktifitas sosial juga aktifitas bisnis, berdampak menurunnya pendapatan dari sejumlah usaha di wilayah ini. Bahkan, tidak sedikit badan usaha yang sudah merumahkan karyawannya karena untuk sementara tidak beroperasi. Jika kondisi seperti sekarang ini berlangsung dalam waktu yang berkepanjangan, bukan tidak mungkin sejumlah usaha di daerah ini terancam gulung tikar.

Bidang usaha jasa perhotelan merupakan salah satu bidang usaha yang sudah terdampak dari kondisi yang ada saat ini di Kabupaten Nabire. Sejumlah pemilik hotel diketahui sudah berhenti beroperasi dan telah merumahkan karyawannya. Penutupan akses transportasi diduga kuat menjadi salah satu penyebab tidak adanya tamu yang menginap di hotel. Tidak ada pemasukan mengakibatkan pemilik usaha harus mengambil “keputusan pahit” dengan merumahkan para karyawannya.

Hotel Karya Papua Nabire, tutup dan tidak ada aktifitas sejak sebulan yang lalu. Khusus untuk Hotel Karya Papua, karyawan yang tadinya bekerja di hotel, saat ini dikaryakan pada bidang usaha lain yang ada di Grup Karya Papua.

“Walapun ekonomi lagi susah kita bertahanlah. Kita tidak sampai hati untuk merumahkan karyawan. Kalau masih ada jalan ya kita jalan bareng-bareng. Karyawan yang tadinya kerja di hotel, kita alihkan bekerja di bidang usaha lain yang kami miliki,” tutur pimpinan Karya Papua, Yansen, saat diwawancara media ini, Senin (1/6) kemarin.

Ditanya harapannya sebagai seorang pengusaha pada masa seperti saat ini, kata Yansen, pihaknya berharap pemerintah segera membuka akses transportasi baik darat, laut maupun udara, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat. Karen jika tunggu Covid-19 ini selesai, kita tidak tahu kapan selesainya. Dibukanya akses dengan protokol kesehatan tentunya akan membantu ekonomi di daerah ini dan sekitarnya bisa berjalan lebih baik lagi.

Lanjut Yansen, semakin cepat dibuka akses transportasi akan semakin bagus. Karena jika semakin lama daerah ini tertutup, akan berimbas banyak terjadi PHK karyawan, semakin lama ekonomi juga semakin hancur.

“Kita juga tidak tahu bisa bertahan sampai kapan kalau kondisi seperti ini terus. Kalau sampai 3 bulan tidak buka akses, banyak usaha di daerah ini yang akan gulung tikar. Bahkan usaha kami Karya Papua juga bisa terpengaruh,” ujarnya.

Ditegaskan kembali, harapan para penguhaha Nabire agar akses transportasi dalam bulan ini bisa dibuka. Yang tentu saja tetap sesuai dengan protokol kesehatan, jaga jarak, dan protokol kesehatan lainnya.

“Nanti jam kerjanya diatur oleh pemerintah. Tapi kalau bisa jam kerjanya jangan hanya setengah hari, karena itu kita repot juga. Saya percaya jika para pengusaha akan taat pada aturan yang dibuat oleh pemerintah saat akses transportasi nantinya dibuka,” tuturnya.

Nasib yang sama juga dialami oleh Hotel Nusantara 1 dan Hotel Nusantara 2. Seperti disampaikan oleh penanggungjawab, Novi, pihaknya telah merumahkan 20an orang karyawan yang bekerja di Hotel Nusantara 1 dan Hotel Nusantara 2 per bulan April 2020.

“Hotel Nusantara 2 tutup total, kini fokus hanya di Hotel Nusantara 1 saja yang buka. Untuk saat ini yang standbye hanya 3 orang termasuk saya. Kita masih buka, hanya saja akses transportasi dari dan ke Nabire ditutup sehingga tamu tidak ada. Dalam kondisi seperti sekarang jika masih mempekerjakan semua pegawai, kasihan pemilik, mau bayar gaji pake apa,” tuturnya saat dikonfirmasi media ini, Senin kemarin.

Saat ini Hotel Nusantara 1 tetap buka, jika ada yang menginap akan dilayani tentu dengan menerapkan protokol kesehatan. Hanya saja, sampai saat ini belum juga ada yang menginap.

Ditanya harapan terhadap pemerintah daerah, kata dia, yang nomor satu adalah agar pemerintah segera membuka akses tranportasi dari dan ke Nabire. Minimal dalam seminggu ada dua atau tiga kali penerbangan dibuka.

Selain itu, pihaknya juga berharap pemerintah bisa membantu bicara dengan pihak PLN terkait pembayaran listrik. Dalam kondisi tidak ada tamu namun tagihan listrik terus berjalan. Dirinya berharap bisa mendapatkan keringanan pembayaran listrik.

Ditanya soal retribusi/pajak daerah, kata dia, dalam kondisi seperti ini dirinya mengakui sempat terlambat membayar retribusi, sehingga pihaknya sempat ditegur petugas. Padahal, dalam aturan yang tertulis dalam slip pembayaran tertulis denda 2% per bulan maksimal 24 bulan. Artinya, ada batas waktu ditoleransi terlambat membayar sampai 24 bulan dengan denda 2% per bulannya. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, saat pihaknya terlambat membayar satu bulan, terus ditagih untuk membayar.

“Kami terlambat oke kami terima konsekuensinya bayar denda. Itu kan maksimal keterlambatan 24 bulan, tapi ini baru terlambat 1 bulan sudah ditagih. Yang tagih ini bukan satu dua orang, tapi rame orang yang datang tagih. Masa dari pemerintah tidak ada pengertian, kita ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga,” ujarnya.

“Masa baru sebulan ini saja tidak bisa ada toleransi. Tapi akhirnya bos perintahkan saya untuk bayarkan saja retribusinya walaupun dalam kondisi seperti ini. Retribusi sebanyak 7 juta rupiah ini akhirnya kami bayarkan,” ujarnya.

Alasan terlambat bayar retribusi, kata dia, karena kita harus merumahkan karyawan maka kita harus bayar gaji dan THR lebaran. “Jadi uang yang ada itu kami putar dulu, kami utamakan dulu keperluan karyawan kami,” ujarnya.

Pilihan pahit untuk merumahkan karyawan juga diambil oleh pemilik Hotel Mahavira Nabire.

“Sejak bulan April awal kami rumahkan para karyawan karena hotel sudah tidak beroperasi dampak kondisi saat ini di Kabupaten Nabire. Sebagian pegawai yang dirumahkan adalah mereka yang berasal dari Kabupaten Nabire sebanyak 8 orang. Sementara pegawai yang berasal dari luar Nabire sebanyak 12 orang, saat ini masih ditampung di hotel karena mereka tidak punya keluarga di Nabire. Sementara biaya hidup dipenuhi dari hasil operasional rumah makan, walaupun hasilnya tidaklah seberapa saat masa sulit ini,” ujar pemilik Hotel Mahavira, Ibu Agus, kepada media ini.

“Pegawai yang dirumahkan kami berikan uang 300 ribu untuk 1 bulan dengan beras 25 Kg untuk 2 bulan,” tambahnya.

Dalam kondisi serba sulit saat Pandemi Covid-19 yang berdampak terhentinya usaha hotelnya, dia sempat mengeluhkan soal pajak/retribusi hotel. Dirinya mengaku jika ada dana setoran pajak hotel senilai 12 juta dari Hotel Mahavira 1 dan Hotel Mahavira 2 yang belum dirinya setorkan. Lantaran dana tersebut digunakan untuk membayar karyawan dan bayar listrik karena tidak bisa nunggak.

“Selama ini kami tidak pernah nunggak bayar retribusi daerah ke Kantor Badan Pendapatan Daerah Nabire. Ada orang yang datang tagih dan saya sampaikan saya mengerti dan selama ini saya tidak pernah menunggak pajak. Tapi karena kondisi seperti saat ini alokasi dana itu kami pakai untuk bayar karyawan dan membayar listrik. Dan saya siap untuk membayar tunggakan ini beserta dendanya nanti,” ujarnya.

Pihaknya berharap kepada pemerintah daerah melalui instansi terkait untuk bisa memahami persoalan yang sedang dialami oleh pengusaha hotel ini. Terkait pembayaran retribusi hotel, dirinya berharap ada kebijaksanaan dari instansi terkait agar pembayaran bisa dilakukan pada saat kondisi sudah membaik. Dan pembayaran retribusi akan dilakukan sekaligus ditambah dengan denda yang harus dibayar. Hal yang sama juga terjadi di Hotel Getz Nabire.

Seperti disampaikan oleh pemilik, walaupun hotelnya masih beroperasi namun sejauh ini tidak ada tamu yang menginap. Dalam kondisi seperti ini, pihaknya juga telah merumahkan sebagian karyawannya.

Saat dikonfirmasi terkait retribusi/pajak hotel yang dihimpun melalui Badan Pendapatan Daerah Nabire, Kepala Badan Ganis Komarianto, SE, M.Si, mengatakan, dalam kondisi seperti sekarang ini pihaknya pihaknya tidak terlalu memaksakan. Yang penting, para pemilik atau pimpinan hotel memberikan laporan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

“Agar kami ada bukti sehingga tidak disalahkan oleh tim pemeriksa dan pantauan KPK,” ujarnya melalui pesan singkatnya. (ros)

Polling
Apakah anda setuju jika diberlakukan pembayaran parkir di sejumlah titik keramaian di dalam Kota Nabire ?
Suroso  Jumat, 26 Juni 2020 2:57
Rasialisme dan Penyelesaian Akar Masalah Papua
DALAM dua minggu terakhir isu rasialisme Papua kembali marak. Paling tidak, hal itu dipicu oleh putusan jaksa terhadap 7 pemuda Papua dalam
Suroso  Selasa, 30 Juni 2020 21:54
Sejarah Polri, Mengapa 1 Juli Diperingati Hari Bhayangkara *Sebelum Kemerdekaan Indonesia
Jaman Kerajaan PADA zaman Kerajaan Majapahit Patih Gajah Mada membentuk pasukan pengamanan yang disebut dengan Bhayangkara yang bertugas mel
Agenda Nabire
JADWAL BIMTEK PPS
 Sabtu, 27 Juni 2020 2:6

BIMBINGAN TEKNIS (BIMTEK) PANITIA PEMUNGUTAN SUARA (PPS)

DAN PANITIA PEMILIHAN DISTRIK (PPD) PILKADA NABIRE TAHUN 2020

GELOMBANG IV (EMPAT)

Hari/tanggal : Sabtu, 27 Juni 2020

Jam : 09.00 WIT - Selesai

Tempat : Aula Gereja Sion, Karang Tumaritis, Nabire

Peserta : PPS dan PPD Distrik Uwapa, Siriwo, Dipa, Menou

HAHAEEE...
Tanah milik KODIM dan POLRES
 Rabu, 29 Januari 2020 1:16

  Ada Pace dua dong pasang Patok di dorang pu lahan. Pace yang satu de tulis : “Tanah ini milik KODIM”. Pace yang satu lagi tulis : "Tanah ini milik POLRES"

Satu kali begini, Komandan Kodim dan Kapolres yang baru menjabat pi lihat lahan itu dan truss merasa bertanggung jawab. Jadi masing-masing kerahkan dong pu anggota bersihkan lahan. Pas lahan su bersih dan rapi, Pace yang pu tanah datang ucap terima kasih.

“Adoo Bapa Komandan hormat… terima kasih su kasi bersih tong dua pu lahan… perkenalkan sa pu nama KOrneles DIMara.. disini dong biasa panggil sa KODIM. Sa yang pu lahan ini. Yang di sebelah tuu sa pu teman punya dia pu nama POLy RESubun biasa dong panggil dia POLRES

Info Loker

Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
POLLING CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI NABIRE 2020-2025
Menurut anda siapa yang cocok diusulkan menjadi Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Kabupaten Nabire 2020-2025 ?

Ikut Polling