“VALENTIN Day, EVERY Day”

PARADIGMA PEREMPUAN PAPUA
(Ibu Costantin Wanaha-Duwiri, S. Th.)
Ketua Persekutuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kabupaten Nabire.
Dunia seperti berebutan demikian pula di Indonesia merayakan hari istimewa, hari kasih sayang ini.  Betapa tidak sepertinya ada sinyal sentral bagi dunia untuk melihat hari ini sebagai hari yang penting guna menyatakan keberadaannya dan nilai kehidupan yang diberikan Tuhan kepada manusia.  Nampaknya topic yang menghiasi berbagai layar TV dan media baca cenderung menghadirkan perempuan dengan kecenderungan yang diperlihatkan melalui berbagai kegiatan spontanitas yang terencana dan tontonan menarik lainya bernuansa perempuan.

  Sepertinya kehadiran perempuan di berbagai belahan bumi memiliki harapan baru, bahwa dunia sungguh peduli terhadap mereka sebagai bagian yang melekat sempurna dengan dunia dan kehidupan.  Ada kecenderungan lain dihari kasih sayang ini yang penuh dengan tuntutan dan harapan mereka.  Mereka konsen dan minta kepada dunia agar tidak lagi ada kekerasan dan tekanan serta manipulasi yang seolah memperdayakan kehidupan perempuan.  Harapan kami  agar tidak boleh ada manipulasi “kekayaan” yang Tuhan berikan melekat dengan diri perempuan itu sendiri.  Oleh Kasih Tuhan kita telah dipilih dan diberikan-Nya kepada kita masing-masing dengan “Nilai Kehidupan”.  Pertanyaan bagi kita sekarang ialah  “Seberapa besar kita memberikan “harga” kepada kekayaan Tuhan atas diri manusia?  Sementara perempuan masih cenderung diperhadapkan pada “dunia” dan bayang-bayang maut.  Ketakutan dan stima buruk lainnya.  Akankah kita hentikan manipulasi dunia yang cenderung menjadikan kaum penolong yang setara ini sebagai komoditi perdagangan yang memalukan itu?
Memperingati hari kasih sayang ini, saya ingin menawarkan sebuah paradigma sederhana bagi perempuan papua untuk menemukan kembali jatidirinya dan memberi “harga” bagi dirinya, sesama dan terutama kepada Tuhan Pencipta kita yang telah melengkapi setiap manusia dengan “Kekayaan-Nya”.  “Sebab hari demi hari akan berlalu, valentine day pun akan berlalu.  Tetapi Kasih Allah tidak akan pernah berlalu, Kasih itu kekal-abadi dan sempurna.  Kasih Sayang Setiap Pagi, Kasih Sayang Setiap Hari, Kasih Sayang Sepanjang Masa (Valentin Day, Every Day).  …..Mksh mm syg, slmt hr Kasih Sayang…memang dunia sedang krisis akan kasih, pj Tuhan, kt tlh memiliki Sumber Kasih yg tak prnah kering, Yesus Sumber Kasih Yang Sejati.  Hai perempuan kamu yang sakit dan menderita, bangunlah dihari Kasih Sayang ini dan datang pada-Nya.  Itulah pesan pendek SMS saya kepada kamu perempuan papua di pelusok negri, kampung dan pulau dan SMS yang saya terima dari berbagai sahabat.   Kasih Bapa yang sempurna menghadirkan segalanya dalam hidup kita.  Ada masalah, agar kita tahan uji, ada teman agar kita belajar berbagi, ada cinta agar kita belajar mengasihi, ada sukses dan gagal agar kita belajar bersyukur..!!  Tuhan Yesua memberkati segala tugas dan karya. GBU Tersenyumlah perempuan papua.  

Paradigma
Kata Paradikma berasal dari bahasa yunani yang berarti suatu model, teladan, arketif dan ideal.  Terdiri dari kata “Para”  dan “Deikma”.   Para yang berarti,  memperlihatkan dirinya.  Atau disamping disebelah dan dikenal  sedangkan Deigma berarti suatu model, teladan, arketip dan ideal.   Arti kata Para menurut Bhs. Inggris   artinya :  keadaan lingkungan.  Jadi pengertian kata Paradikma dapat dipahami sebagai berikut : Pertama :  adalah “kontruks berpikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan konseptual terhadap suatu permasalahan dengan menggunakan teori formal, eksperimentasi dan metode keilmuan yang terpercaya.  Kedua : adalah suatu pandangan terhadap dunia alam sekitarnya, yang merupakan perspektif umum, suatu cara untuk menjabarkan masalah-masalah dunia nyata yang kompleks.  Menurut Thomas Khun :  Paradikma merupakan landasan berpikir atau konsep dasar yang dianut atau dijadikan model, baik berupa model atau pola yang dimaksud para ilmuan dalam upayanya mengandalkan studi-studi keilmuan.  Selanjutnya,  Robert Friedrichs :  Paradikma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subyektif seseorang mengenai realita dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.
Adapun yang saya maksudkan dengan Paradikma disini, secara sederhana dapat dimaknai dan diartikan sebagai “cara pandang terhadap sesuatu”. (Misalnya, bagaimana melihat, merasakan, memikirkan, melakukan – terhadap sesuatu)  Paradikma baru artinya cara pandang yang baru terhadap sesuatu.  Bicara Paradikma Perempuan Papua.  Artinya, bicara tentang cara pandang kita terhdap perempuan papua dan nilai/harga/martabat yang diberikan oleh lingkungan  kepadanya. . Jadi sekarang kita mau menyoroti paradikma perempuan papua sebagai ciptaan yang utuh dan sempurna, walaupun dia masih terbungkus dengan paradikma lama.   Seperti zaman sebelum sekarang bicara tentang perempuan itu susah.  Tetapi sekarang sudah maju, kenapa kita masih membuatnya susah terus ?  Dulu susah karena Pertama, perempuan tidak mau memahami dirinya sendiri. Dia pasrah pada ketidakberdayaannya sebagai perempuan. Dia anggap dirinya lemah. Hana Hikoyabi (MRP) mengatakan : Masalah yang paling besar dihadapi perempuan papua adalah ketidakberdayaan  mereka.  Pemicunya ialah laki-laki.   Karena adanya kekuasaan yang sulit kita lawan.  Padahal sesungguhnya perempuan memiliki potensi unik. Dia tulus dan cerdik.   Artinya, bahwa ketika dia memahami dirinya sendiri, maka serentan dia atau mereka akan bangkit untuk berjuang membelah dirinya dan  menjadikannya sebuah kelahiran baru.   Abraham Zaleznik menyebutkannya sebagai orang yang “dilahirkan dua kali” Yaitu ketika mereka melihat di dalam dirinya kekuatan untuk menghadapi tantangan lingkungannya.     Kedua, bicara perempuan  tidak bisa dipisahkan dari lingkungan masyarakat dimana dia berada dan juga posisi dia dalam lingkungan rumah tangga yaitu apa yang dilakukannya dan perlakuan apa yang diperhadapkan/ dialaminya di dalam masyarakat termasuk laki-laki (suami). Lingkungan di papua memiliki karakter alamiah dari yang ekstrim kasar sampai lunak.  Jadi karakter perempuan papua cenderung keras dan kasar.  Tetapi bukan berarti kehilangan arah. Dia cenderung hidup dari hatinya.
Paradikma Perempuan Papua harus dibalik mulai dengan melihat diri kita, lingkungan kita dan dengan peluang “Modal” & “Model” dari Pemerintah/mitra pemberdayaan.   Karena kenyataannya sampai hari ini perempuan papua masih terikat pada pandangan yang keliru terhadap dirinya sendiri sebagai “penolong yang setara”, disamping pandangan sempit yang datang dari laki-laki terhadap dirinya.  Padahal sesungguhnya perempuan itu ibarat Tim Sar yang memiliki kelengkapan yang sempurna sebagai penolong. Sebagai penolong dia memiliki strategi dan kemampuan lebih untuk menantang bencana untuk sebuah kata yakni “selamat”.  Bagaimana kita balik paradikma itu ?  Saya pikir kita BALIK dari AKAR pandangan perempuan dari laki-laki.  Sehingga kita jangan terus terikat pada CARA dari mana perempuan itu tercipta, tetapi pandanglah kepada TUJUAN untuk apa dia diciptakan. Sebab jika tidak ada tujuan,  untuk apa “diciptakan-Nya mereka laki-laki dan perempuan…”  Rasul Paulus dalam I Korintus 11 : 3, mengatakan : “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan  ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah”.  (ay. 7-12)  “Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya : ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah.  Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.  Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.   Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.  Sebab itu perempuan harus memakai tanda wibawa dikepalanya oleh karena para malaikat.  Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.  Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan”.    Apa yang terjadi jika bumi ini hanya laki-laki saja atau sebaliknya perempuan saja.  Atau hewan saja atau gelap saja.  Oleh karena itu jika tidak ada pasangan maka pasti tidak ada sebuah pilihan.  Artinya :Pada hakekatnya “nilai” lahir dari sebuah tindakan/sikap memilih diantara baik atau buruk.  Pandangan seperti ini bisa menolong setiap kita untuk bertanggangjawab kepada Sang Pencipta.
Menyuarakan kapada dunia untuk memandang pada tujuan,  bukan baru hari ini kita bicara dan berjuang bagi diri kita sendiri, tetapi bahkan telah menjadi topic menarik sejak lama.   Di Perancis sejak abad XIX, yang dipelopori oleh Eugenie Mouchon Niboyet (1799-1883).  Di India oleh Bunda Theressa.  Di Indonesia oleh R. A. Kartini.  Di Papua kalau bukan kita, siapa lagi ?   Pada prinsipnya mereka mulai dengan sebuah gagasan dan tindakan pribadi untuk pemberdayaan kaum perempuan di daerahnya.  Gagasan dan kegiatan tersebut tergalang kedalam kekuatan kelompok informal dan kemudian menjadi organisasi formal. Kesamaan pikiran dan kegiatan mereka dipusatkan pada pendidikan perempuan. 
Niboyet berpendapat bahwa pendidikan adalah prakondisi bagi perempuan untuk mencapai status sebagai warga masyarakat yang bermartabat.  Ia juga menekankan supaya “perempuan harus diajar oleh perempuan…”   Perjuangan melawan tabiat laki-laki dan kebijakan yang tidak berpihak pada perempuan membuat Niboyet menderita.    Dalam salah satu surat sakti kepada pemerintah ia mengatakan : “Selama sebelas tahun saya telah memikul salibku tanpa mengeluh.  Kini habis sudah kekuatanku”.  “Habis sudah kekuatanku”.   Itulah harga yang harus dibayar Niboyet karena memperjuangkan hak dan kebebasan kaum perempuan.   
Hari ini dan di tempat ini saya pikir tidak ada yang berbeda dari kisah pahit mereka.  Sebab siapapun dia entah kemarin, hari ini atau besok mau memperjuangkan hak dan kebebasan kaum perempuan di Tanah Papua, tentu dia harus siap berkorban.  Sebab sekalipun berbagai elemen pemberdayaan telah tersedia,  namun kita tetap diperhadapkan pada suatu perbedaan hakiki antara laki-laki dan perempuan yang oleh mereka sendiri dipandang sempit.  Termasuk lingkungan budaya dan adat-istiadat yang diterapkkan salah pula.  Dan juga panggilan tugas serta pekerjaan yang diemban perempuan papua yang cenderung membawa dirinya untuk lupa mencari celah sebagai penolong sejati.  Tapi saya berharap seberapapun kesukaran yang kita hadapi, tetap berkomitmen atau sepakat membangun gagasas atau pemikiran baru dan memulai bekerja dengan sungguh untuk mewujutkan pikiran kita kedalam rencana yang realistis, terarah, dan berimbang serta berkesinambungan. Karena kenyataan bahwa hak asasi dan pemberdayaan kaum perempuan adalah sebuah harga mati bagi kesetaraan gender perempuan papua.
Makalah ini ingin Membalik Paradikma Perempuan Papua dari tidak bisa menjadi BISA, dari tidak mampu menjadi MAMPU, dari gelap menjadi TERANG…  Untuk itu kita mulai dengan memahami Pertama : “Siapa itu Perempuan Papua”. 
Kedua : “Mengapa Perempuan itu Penting”.  Ketiga : “Bagaimana  Seharusnya Perempuan Papua di mata Laki-laki di Papua”.  Keempat : “Apa Harapan Perempuan Papua”. 

Pertama :  “Siapa itu Perempuan Papua”
Siapa itu perempuan ?  DIA adalah ciptaan Tuhan yang istimewa. Unik dan bersahaja.   Dia adalah ciptaan yang universal.  Sama di semua belahan bumi.  Dia tercipta dari rusuk Adam.  Bukan dari tulang kepala atau kaki.  Dia lahir dari sosok seorang perempuan juga.  Kemudian kembali dalam siklus kodrati-sejati dan memenuhi bumi dengan perempuan dan laki-laki.  Demikian mereka adalah sama dan setara untuk saling melengkapi satu sama lain.  Siapa itu perempuan papua ?  Apakah dia sama dan setara dengan laki-laki papua ?  Tanya pada diri, siapakah aku?
Saya punya pandangan tentang perempuan papua.  Dia adalah sekuntum “anggrek hitam”.  Dia indah tapi juga cantik dan manis.  Dia cenderung hidup dengan hati-nya serta penuh harapan.    Secara khusus di Nabire, tidak banyak berbeda dengan daerah lain di Papua.  Nabire itu kota kecil yang lahir sesudah kemerdekaan RI tapi menyimpan potensi perempuan papua yang bisa dibanggakan.  Beberapa diantaranya tampil meyakinkan dan penuh pesona dimasa yang berbeda-beda, namun telah hadir dengan jatidiri mereka dan melukiskan harapanya yang kita nikmati sekarang.  Mulai dari kehidupan rumah tangga, bidang social-kemasyarakatan, bidang pendidikan, bidang politik dan pemerintahan.    
Di dalam rana rumah tangga saya ingin sebut perempuan papua yang mungkin anda tidak mengenal parasnya, tetapi karyanya terlihat sekarang. Saya kenal dekat dengan kerakter mereka.  Ada yang dijuluki “nene putih” ada juga “nene hitam” julukan ini berdasarkan warna kulit mereka. Masih banyak yang lain, tetapi yang pasti dari mereka ialah ketegaran dan ketekunan yang nampak dari sikap mereka yang keras, tegas dan sangat disiplin.   Hasil yang bisa kita lihat sekarang, misalnya “nene putih” dengan karakternya yang tegas berdisiplin serta lemah lembut telah berhasil mendidik putra-putrinya dan salah satu diantara mereka adalah Nn. J. J. Rumadas yang memiliki karakter cenderung ikut ibunya. Ada juga perempuan Nabire generasi baru yang telah berhasil menduduki kursi 01 DPRD Nabire yaitu ibu Titi Marey.  Keberhasilannya tidak terlepas dari ketekunan dan kesabaran mamanya sebagai ibu rumah tangga yang ramah dan penuh senyum serta adalah istri dari figure suami sebagai tokoh karismatik di papua.  Keberadaan ibu Titi mungkin tidak lepas dari karakter kedua orangtuanya yang penuh pendirian itu.  Perempuan nabire tidak saja membentuk perempuan menjadi orang,  tetapi juga laki-laki.  Seperti “nene hitam” yang ramah dan suka menolong, ia tampil selalu rapih dan bersih dengan gaya kebaya ambon tapi bukan nyora.  Kesabarannya telah mendidik seorang tokoh laki-laki papua yang punya reputasi internasional, dan patut diteladani yakni Pendeta DR. Karel Phil Erari, M. Th. Sekarang sebagai salah satu Ketua PGI-Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia..    
Lain lagi dengan “Mama Bas” panggilan untuk ibu Magdalena Tawaru.  Perempuan Moor ini dikenal punya banyak anak, tapi dia tegar menghadapi mereka termasuk menghadapi suaminya sebagai PNS yang punya temperamen acuh tak acuh dan suka bergaul bebas.  Dikenal banyak pihak di Nabire.  “ya, bapa itu suka diajak teman miras…tapi saya selalu diam saja di rumah tidak mau ribut.  Ribut itu nanti memalukan keluarga dan istri”.  Sampil gurau mama bas bilang saya suka menjiwai Lagu Pance “kucoba bertahan mendampingi dirimu…walau kadangkala tak seiring jalan….agar jangan ada penyesalan dan air mata…”  ……“Ya tapi saya lahir untuk dia dan mengasihinya sampai di ujung pusara…supaya jangan ada luka di atas kuka”… Jangan lagi ada susah berganti susah…sambil tersenyum khas mama Magdalena mengenang janjinya dengan Bas untuk tetap satu.   Sekarang ketegarannya telah berbuah fakta keberhasilan anak-anak mereka.
Mama ini punya senyum khas dan tutur kata penuh makna.  Ini yang cenderung membawanya pada ketegaran, menghadapi suami dengan “model” di atas, sekaligus menjadi “modal” mama Bas membangun kesabaran dan nilai.    Katanya, jumlah anak/keluarga bukan halangan untuk menolong sesama perempuan pulau dan pesisir.  Mama bas disenangi banyak orang/mama-mama di nabire karena kepemimpinannya, beberapa periode sampai hari ini masih memimpin kelompok “Diaspora”.  Prestasinya dalam berbagai pelayanan telah membawa mereka sampai ke Batu Malang Jawa Timur dan ingin terus berjuang sebagai perempuan papua walau hanya dengan modal ijazah rendah pendidikan belanda. Sepertinya mama Bas memiliki tipe kepemimpinan karismatik yang begitu kuat mengikat kelompoknya, sampai tak jarang mama-mama itu bilang “Mama Bas jangan tinggalkan kami, nanti kami mati” maksud mereka soal organisasi yang dipimpinnya itu.  Mama bas, orangnya agresif dan selalu bertanya ingin tahu.  Dia minta generasi baru perempuan papua bangkit.  Ya saya juga mengingatkan, bahwa mereka yang lain juga bisa. 
Perempuan papua yang lain seperti yang kita sudah tahu misalnya Ibu Sipora Modouw (mantan SKPD Pemberdayaan Perempuan Kampung Provinsi Papua) dia tegas dan murah sapa dia selalu tampil dalam karya dengan teori “sapu lidi”.  Dan yang saya kutip dari hasil penelitian akurat, kerjasama Pemerintah Kabupaten Jayapura dengan Universitas Hasanuddin Makasar dalam buku “Derita, Karya Dan Harapan Perempuan Papua”.   Mereka ini telah mengekspresikan dirinya sebagai perempuan asli papua.  Seperti perempuan yang satu ini namanya Agnes Belau dari Sugapa, dia punya dorongan kuat dari diri untuk membuat perubahan, awalnya dia tidak bisa tapi “memaksa diri” membantu sesama perempuan sugapa yang juga tidak bisa. Akhirnya mereka bisa sukses di sugapa. (artinya, “memaksa diri supaya diri menjadi rela” – Teori DR. F. Ukur).   Buku DERITA…..diatas menampilkan pula perempuan papua dari berbagai kalangan dari ibu rumah tangga, pengusaha, guru, PNS, Pejabat, sampai sarjana yang punya title dari luar negeri.  Bahwa perempuan papua itu lincah dan sangat disukai.  Dia enerjik, tegar - kekar dan memiliki prinsip tepat waktu serta bekerja keras.  Dia punya impian dan tekat sejak kecil untuk menjadi yang terbaik.  Dia memiliki hati yang suka melayani, tekun dan menghargai waktu dalam kebesaran Tuhan.  Dia memiliki semangat pengabdian yang tinggi dan kepercayaan diri/pede, dia memiliki motivasi tinggi serta gigih menghadapi pangilah tugas dan pekerjaan yang diembannya.  Dia diajari kemandirian dan displin yang ketat sejak kecil. 
Perempuan papua pada dasarnya mempunyai keinginan yang tinggi untuk berprestasi, dan berorientasi pada perubahan dan kemajuan.  Seperti ada ungkapan dari orangtua Pdt. Jemima J. Mirino-Krey (Sekarang sebagai Wakil Ketua Sinode GKI) yang mengajarkan kemandirian pada anak-anak perempuannya, kepada mereka ia mengatakan : “kalian harus bersekolah sehingga mempunyai pegangan hidup.  Kalau kemudian suami tinggalkanmu…, kalian dapat mandiri, karena mempunyai gaji sendiri…. Tidak mempunyai sepatu bukan alasan untuk tidak ke sekolah.  Katanya lagi.   Kamu ke sekolah membawa otakmu, bukan sepatumu”.  Perempuan Papua punya potensi, jangan bawa ketakutan dan kelemahan…  Saya tidak sebut semua nama tetapi  mereka ini adalah bagian kecil dari perempuan papua berprestasi.  Pertanyaannya ialah : Bagaimana dengan mereka (Perempuan Papua) yang sekarang bagaikan fenomena “gunung es” di bawah laut ?  Sesungguhnya kita belum tahu seberapa besar dan dalamnya DERITA mereka di sana.  Mereka itulah yang mendorong saya untuk berdiri disini.  Di kampung, di pulau dan pesisir, gunung – lembah, di tepian sungai dan danau, sungguh terlalu banyak dari mereka yang amat memprihatinkan.  Saya berharap jangan kita terus berteori,  apalagi berlabuh manis diatas samudera  ketidakberdayaan mereka di sana.    Kepada mereka yang di bawah samudera derita itu,  saya berharap masih ada HARAPAN.  Yaitu bahwa mereka sama dengan kita, hanyalah waktu dan kesempatan yang memisahkan dan membedakan kita.  Contoh perempuan di atas juga berasal dari keluarga besar dan tentu mengalami tekanan ekonomi yang tinggi, demikian pula kita.  Tetapi kondisi itu telah memaksa peran orangtua untuk bekerja keras dan mendorong anak-anaknya agar berhasil di dalam pendidikan sebagai jalan keluar untuk memberdayakan diri mereka dikemudian hari.   Jalan kita berbeda tapi untuk tujuan yang sama.  Yaitu pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.     Saya juga memiliki keluarga yang besar dan hidup dari gaji orangtua yang paspasan sebagai seorang guru.  Namun demikian saya sepakat bahwa kesulitan hidup dapat menjadi sumber belajar, motivasi dan inspirasi yang memberdayakan bagi setiap kita yang sudah dipersiapkan melalui pendidikan pada usia dini di dalam keluarga dan yang dipilih TUHAN.  Tersenyumlah perempuan papua…..     
               
Kedua :  “Mengapa Perempuan Penting”
Sekarang apakah anda merasa diri anda tidak penting? Apakah anda merasa belum cantik? Apakah anda merasa belum siap melakukan perubahan ?  jika “Ya”.  Angkat jempol anda.   Tiga pertanyaan ini anda jawab dengan mengangkat jempol anda.  Dalam teori bisa saja DATA dimanipulasi tepapi FAKTA  adalah kenyataan dari sebuah HARAPAN.  Jempol anda adalah lambang sebuah kebenaran dan kebesaran yang telah lama ada pada diri anda yang mengekspresikan bahwa anda BISA anda penting, anda cantik dan anda telah melakukan sebuah PERUBAHAN.   Saya sadar dalam diri saya bahwa sekecil apapun, tetapi saya telah melakukan perubahan.  Saya mulai dari diri saya, suami, anak-anak, keluarga dan masyarakat.  Saya mulai juga dengan menggunakan sebuah metode yang saya sebut metode ( A ) atau (MPK = Metode Perempuan Kampung). Metode dimaksud kemudian dimodifikasi menjadi Metode Pemberdayaan Kemandirian.   Artinya Kemandirian harus di berdayakan dengan cara-cara edukasi/pembelajaran (aksi Belajar).  Tentu kita tidak sendirian.  Metode yang kecil inilah yang telah membuat perempuan itu penting di dalam lingkungan dimana dia berada.  Dan dia BISA untuk berbagai aspek kehidupan dan pembangunan.
Pemberdayaan kemandirian dan kesetaraan perempuan papua bukanlah sebuah kewajiban, tetapi adalah sebuah keharusan yang mendesak karena keberadaannya yang melekat pada dirinya untuk diberdayakan adalah KODRAT Allah yang pada hakekadnya adalah penolong.  Dia memiliki perangkat yang melekat dan membentuk sebuah sistem sel yang tidak dimiliki oleh laki-laki.   Saya imani bahwa tidak ada yang salah dari apa yang telah diciptakan-NYA dan selaku manusia kita tidak bisa melawan kodrat Allah itu.  Jadi, Perempuan diberdayakan itu adalah kodrad yang tidak boleh diabaikan apalagi dimanipulasi tetapi sebaliknya HARUS dimanifestasikan atau digandakan nilai eksistensinya..  “Kalau kita bicara tentang perempuan, jangan didramatisasi, seolah-olah Perempuan papua itu tidak punya harga, dipermainkan oleh laki-laki.  Kalau kita bicara tentang emansipasi perempuan, kita tidak bicara tentang persamaan hak, tetapi kesetaraan hak, yang saling mengisi.  Alkitab bicara begitu. (Pdt. Willem Maloali; mantan Ketua Sinode GKI). 
Saya pikir pada hakekatnya perbedaan itu ada antara perempuan dan laki-laki. Namun apabila kita bicara emansipasi perempuan papua maka pandangan diatas adalah sebuah manifestasi penggandaan nilai martabat dari karakteristik keberadaan perempuan papua.   Bahwa dia memiliki potensi yang unik yang sama dengan perempuan lain yang sudah maju dan kemudian bisa diberdayakan setara dengan kaum laki-laki.  Kehadiran perempuan papua bukan “pelengkap penderita” tapi adalah penolong yang setara karena “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”.
Selanjutnya, keberadaan perempuan papua juga digandakan dari aspek kemandirian dan partisipasi pembangunan oleh Bapak Pdt. F. J. S. Rumainum (Alm), ketika masih bekerja ia mengatakan : “Celakalah suatu bangsa, di mana kaum laki-laki maju dalam pengetahuan, sedangkan kaum perempuannya tidak ikut serta dalam perubahan zaman.  Artinya, jika kita tidak memberdayakan potensi perempuan agar setara dengan laki-laki dan ikut sertakan mereka kedalam aspek kehidupan dan pembangunan maka cepat atau lambat akan berpengaruh pada sendi kemanusiaan dan terutama pada proses pembangunan itu sendiri.  Ini artinya ada tekanan yang kuat secara konseptual bahwa perempuan itu penting.  Sekarang pertanyaannya ialah “Bagaimana kita aktualisasikan potensi perempuan papua kedalam rana kehidupan nyata baik di bidang pendidikan, social, politik, hukum,  ekonomi maupun teknologi.  Sehingga dia dapat mengekspresikan dirinya secara nyata dan diakui ?
Apabila kita kembali melihat metode ( A ) yang saya maksudkan diatas adalah sebuah metode parempuan kampung.   Metode ini diterapkan oleh seseorang ibu kepada anak BATUTA (anak dibawah satu tahun) yang mulai belajar merangkak dan berjalan, maka ibunya (orangtua) menyiapkan 3 potong kayu lalu dibentuk seperti “hurup A” kemudian digunakan untuk menolong anak berjalan.  Metode sederhana ini lebih menekankan pada konsep belajar individu yang sarat dengan aspek kemandirian melalui aksi belajar dan dituntun. 
Saya pikir dapat kita perluas metodenya, sebagai solusi menjawab fenomena gunung es perempuan papua yang belum terjangkau.  Sehingga bukan saja perempuan kota yang terus menikmati perubahan,  kesetaraan dan kemajuan.  Tersenyumlah perempuan papua….
       
Ketiga :  “Bagaimana Seharusnya Perempuan Papua di mata Laki-laki di Papua”
Di Tanah Papua umumnya perempuan papua punya kisah tersendiri baik dimata laki-laki papua maupun laki-laki di Papua (bukan papua).  Keberadaan mereka ada gaya timur karena keduanya dari timur, ada gaya barat karena laki-laki dari barat, tapi ada juga yang kebarat-baratan.   Ya itu Dinamika.  Bagaimana seharusnya perempuan papua di mata laki-laki papua atau pun laki-laki non papua ? Tentu Jawabannya relative berbeda satu sama lainnya. Tetapi contoh,  seperti ada kecenderungan beberapa artis indonesi yang memulai “kunci pertama” dan mengakhirinya begitu gampang hanya dengan kata “Tidak Pas” lalu mereka pisah cerai.  Kalau kita semua mengatakan “tidak pas”, apa jadinya dunia ini ?    Saya pikir pertanyaan yang sekaligus menjadi topic bahasan ini,  adalah salah satu inti dari fenomena perempuan papua yang fenomenal.  Bahwa jawabannya adalah taruhan jiwa & raga.   Artinya sebagian dari hidup perempuan dipertarukan untuk menghadapi fakta adanya KDRT, Prestasi dan Panggilan Tugas serta laki-laki sebagai Suami.  Fakta ini terjadi di semua lapisan dari kampung sampai kota besar, dan dari yang tidak sekolah sampai yang bertitel sarjana dst.  Namun perempuan diminta bagaimana seharusnya dia berpikir, bersikap dan bertindak.  Jadi disanalah Jatidiri dan kelakuan perempuan papua dipertaruhkan.  Dalam hal ini taruhan kita terutama pada laki-laki yang adalah suami dan anak-anak kita, keluarga kita dan kampung kita juga.   
Jika itu taruhannya, maka salah satu yang perlu kita pahami adalah “siapa itu laki-laki”.  Kita perlu memahami : Pertama, dia (laki-laki) sebagai suami bagi isterinya.  Kedua, dia sebagai bapak/ayah bagi anak-anak.  Dan Ketiga, dia sebagai kepala keluarga bagi rumah tangga mereka.  Bertalian dengan hal ini saya punya pandangan tentang bagaimana seharusnya perempuan papua di mata laki-laki di papua.  Seperti ini : “Perempuan papua itu ibarat cacing tanah yang ingin mencari matahari”. Pandangan ini lahir untuk menepis tekanan orangtua saya agar tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.  Nanti suami yang atur kamu.  Artinya berawal dari saya sebagai perempuan dari kampung mulai bangkit untuk buktikan diri di mata orangtua bahwa saya tidak seperti yang mereka kuatirkan dan katakana itu.  Lama kemudian saya buktikan itu di mata suami, dengan susah payah saya harus perjuang mencari celah untuk melihat terang atau kebaikan.  Ini sesudah saya tamat pendidikan di Malang-Jawa Timur.   Kiranya tidak berlebihan.  Tetapi di mata hati saya,  selalu ingin mencari celah untuk berpikir yang rasional, berlaku bijaksana sebagai penolong yang setara dan menghindari ketidak-adilan di mata dia sebagai suami, sebagai bapak bagi anak-anak kami dan sebagai kepala dalam runah tangga kami. Itu perjuangan berat. 
Banyak perempuan diantara kita sudah berprestasi dan sukses.  Tetapi lebih banyak perempuan papua yang masih di bawah lautan yang bergelora.   Hal semacam ini seperti “Bencana Takdir” ada yang lolos tapi banyak yang tidak.  Terutama bencana di bawah tekanan kekuasaan.  Buku “Derita, Karya Dan Harapan Perempuan Papua”  memuat bagaimana pandangan mereka berikut ini :   Pdt. Jemima J. Mirino-Krey : “Saya tidak mau menangis kalau menghadapi tantangan.  Kata ibu saya, jangan pernah menangis di depan orang.  Kalau menangis, itu berarti sudah kalah sebelum bertempur.  Saya tidak mau menangis, apalagi menangis di depan laki-laki.  Tetapi kita juga harus mengampuni orang yang bersalah.  Mengampuni akan memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap berjalan dengan tegar”. 
Keharusan perempuan papua di mata laki-laki tidak serta-merta berjalan tanpa tantangan, selain prestasi tinggi dan kesuksesan yang diraihnya tetapi juga  KDRT.  Seperti di-kisah-kan oleh DR. Yohana Yembise, perempuan papua pertama yang meraih gelar akademik tertinggi bidang linguistic di Australia, katanya :  “saya punya teman akrab perempuan papua, akhirnya menikah dengan laki-laki papua.  Suami-isteri punya gelar dari luar negeri.  Kata suami itu, istri harus patuh pada suami, dan peranan istri adalah mengurus rumah tangga, bukan menghabiskan waktunya di luar rumah tangga. Mereka sering berbeda pendapat yang berakhir dengan caci-maki dan memukulan”.  Mengetahui akan hal itu yang sering berulang, DR. Yohana punya kesimpulan bahwa “kita harus mulai dengan memahami, siapa itu perempuan papua, dan siapa itu laki-laki papua ?  Apa pandangan keduanya tentang peranan masing-masing dan kedudukannya terhadap pihak lainnya ?  Dengan menjawab pertanyaan ini, kita bisa turunkan kecenderungan dari laki-laki papua yang berpikir sempit dan terikat dengan adat-istiadat yang ketinggalan zaman.  Katanya, adat-istiadat harus dilawan, jika orang mau maju”.  
Lain lagi dengan cerita ibu Ruth dari kampung.  Berulang kali suaminya mengatakan padanya “mama (panggilan untuk istrinya), kitadua ini hidup seperti adik-kakak saja”.  Suami-istri model apa ini ?  Mama ini seperti loundri mencucu dari rumah ke rumah.  Seperti petugas social, sibuk dari pagi sampai malam.  Seperti perikanan laut, waktu bisa habis untuk mancing.  Ya kata Ruth, saya lakukan semua itu agar bisa beli seragam dan sepatu untuk empat anak kami yang masih sekolah. Tidak jarang saya disiksa karena hal sepele, sebagai dendam dari kebiasaannya yang berkedok adat-istiadat itu. Sengaja saya lakukan “hukuman” itu sebagai senjata pamungkas untuk menuntut keadilan bagi saya dan anak-anak.  Suami tidak tahu diri.
Hal di atas berbanding terbalik dengan seorang keturunan cina yang bercerita pada kami begini : “Kalau bukan perempuan ini, saya tidak akan kawin dengan perempuan papua”.  Ini kisah sejoli laki-laki cina dengan perempuan papua yang kemudian menjadi suami-istri.  Dan kesuksesan bisnis mereka tidak terlepas dari peran istri yang adalah ibu rumah tangga. Si mata cipit ini bilang istrinya juga cenderung ingin kebebasan, tetapi dalam setiap kesempatan saya beritahu dia (istri) supaya tahu juga bahwa saya percaya padanya. Ibu mertua perempuan Moor itu bilang “saya tidak minta mas kawin, tepi tolong jaga anak perempuan saya dengan baik” Bapa mantu taat agama. Dan suka mengajar Ahklak pada anak – istri.    Ada juga Pdt. Lawalata (alm) - Bandung,  menjuluki ibu Nelly Elisabeth (papua) sebagai “Mesin Doa”.  Kata suaminya (papua-nabire)   “saya ini selamat karena istri.  Dan anak-anak kami pun selama karena ibu (mama) mereka”.  Kesehariannya selalu berdoa dari kamar ke kamar dan dari kaki ke kaki, setiap kami disentuh dengan tangannya dan berdoa ketika kami, saya dan anak-anak pulas dalam tidur malam kami. Pesannya kepada kami, jangan pernah menipu, sekali menipu akan menjadi kebiasaan”.  Itu resep ketahanan rumah tangga kami.    Sampai ajal menjemputnya.  Kenang suaminya.    Saya harap ibu-ibu teruskan pesan saya ini Saya mau katakan dengan tegas kepada laki-laki dan pastikan bahwa tidak ada perempuan papua yang ingin menderita dibawah tekanan.  Jadi kami butuh pengertian dari laki-laki sekaligus berikan kepada kami kesempatan.  Dan saksikanlah bahwa kami bisa.  Ini ketegasan yang mengingatkan kita pada panggilan jiwa dalam doa “berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya……. !!”  Tersenyumlah perempuan papua….

Keempat :  “Apa Harapan Perempuan Papua”
Atas nama sejarah saya minta jangan lupa jasa Perempuan Papua.  Apalagi memanipulasi perjalanan sejarah itu untuk kepentingan pribadi.   Mata Sejarah kota nabire terbuka juga karena salah satu tokoh terkemuka perempuan nabire.  Mama asal Napan ini karya tangannya memberi makan para pionir pembangunan kota nabire dulu,  termasuk menjadi Juru Masak Bagian Rumah Tangga Bupati Nabire I (dulu Paniai) Surajotanoyo.  Masa tuanya sampai akhir hidup dia habiskan di Pulau Nusi seperti pahlawan tanpa jasa.  Ironisnya ketika “tutup mata” jazat almarhumah mama Kipu Marey itu “dilarikan” dari Sejarah Hidup dan Pulau tempat beliau tinggal. Jagalah dan jangan putuskan Mata Rantai Sejarah Perempuan Papua.  Ketika hidupnya almarhumah memiliki “mata kepala” yang tajam untuk melihat masalah. Memiliki “mata hati” yang bisa ikut merasakan penderitaan orang lain dan memiliki pula “mata kaki” yang kuat untuk mencari jalan terbaik dan menopang tangannya melayani sesama.     Kembalilah ke jalan yang benar, terarah dan terukur.
Supaya jangan celaka.  mesti ada yang bertindak untuk meningkatkan keberdayaan perempuan di papua.  Sebagaimana harapan metalik bagi perempuan papua dari almarhum Pendeta   F. J. S. Rumainum di atas.   Apa lagi yang masih kurang dari perempuan papua ? Pengetahuan, akal budi, hikmat, sudah ada.  Perangkat pemberdayaan dan fasilitas pengembangan kemandirian telah tersedia.  Sekarang tinggal bagaimana kita semua bersatu hati dengan teori “sapu lidi”, lalu membuat gerakan dengan komitmen yang kuat,  supaya perempuan dapat menolong perempuan lain.  Kita harus membuat perubahan besar dan itu harus lahir dari perempuan sendiri untuk perempuan.  Sehingga perempuan yang tadinya ditindas dan diperlakukan tidak adil oleh orang lain, itu bisa kita atasi bersama. 
Memang sudah ada yang bertindak sendiri-sendiri, secara pribadi, sebagaimana sudah kita bicarakan di atas.  Namun tindakan-tindakan menuju pemberdayaan kemandirian perempuan itu akan lebih efektif jika dilakukan bersama-sama secara melembaga, berimbang dan terarah.  Ketajaman berpikir dan bertindak dari seorang Eugenie Mouchon Niboyet, kiranya menjadi inspirasi bagi kaum perempuan papua untuk mengasah pola pikir, pola sikap dan pola laku dalam sebuah paradikma baru agar lebih tajam, terarah dan berkesinambungan dalam mendukung kegiatan pemberdayaan perempuan di papua.
Bahwa pendidikan adalah prakondisi bagi perempuan untuk mencapai status sebagai warga masyarakat yang bermartabat.  Oleh karena itu perempuan harus diajar oleh perempuan.  Hal yang paling mendesak ialah memulihkan pengajaran bagi kaum perempuan, mendorong ujian, guru-guru, dan para murid, untuk membuat kaum perempuan dan laki-laki berjalan bersama-sama di jalan yang berbada tetapi menuju tujuan yang sama.  Jika penting mengajarkan kebebasan kepada anak laki-laki, lebih penting lagi untuk mengajarkannya kepada anak perempuan.
Sudah banyak metode dipakai, sudah banyak dana terkuras habis, sudah ada perempuan papua yang siap berkorban demi sesama perempuan.  Oleh karenanya jangan berhenti berjuang.  Sebab “tindakan pemberian kebebasan kepada perempuan adalah thermometer dari kebebasan dan kebahagiaan bagi kaum laki-laki”.  Demikianlah keyakinan Niboyet, yang juga keyakinan kami. Bahwa pemberdayaan kemandirian kaarah kesetaraan gender adalah keharusan kodrati, melalui prinsip manifestasi dan bukan manipulasi.  Sebagaimana harapan pendeta Maloali diatas.   Perempuan papua punya potensi.  Dan jangan mengharapkan perubahan yang siknifikan tanpa pemberdayaan kepada kaum perempuan dengan metode tepat-guna dan tepat sasaran. 
Pendidikan berpola asrama yang terarah telah menjadi solusi positif pemberdayaan perempuan papua.  Tetapi adalah lebih baik jika kita memulai dengan memperhatikan metode rekrutmen dalam rencana pengembangan dan pemberdayaan perempuan papua kedepan.  Pola rekrutmen terhadap gerakan pendidikan usia dini bagi perempuan  papua yang tepat-guna dan tepat sasaran akan memberi dampak KESEIMBANGAN yang diharapkan kemudian akan tercipta pemerataan kesempatan belajar bagi perempuan papua berbasis kampung, keret dan suku di papua.
Pengembangan terhadap MPK = Metode Perempuan Kampung atau Metode Pemberdayaan
Kemandirian ini merujuk pada metode ( A ) yaitu metode dengan prinsip belajar dan dituntun.  Sasaran dan tujuan metode ini adalah kemandirian rumah tangga. (keret, kampung dan suku).  Tentu kita tidak sendirian, tetapi misalnya melalui penelitian lembaga pendidikan, unit instansi pemerintah/SKPD Pemberdayaan Kampung guna mendeklarasikan program rekrutmen Anggrek Hitam sebagai “Bintang Rumah Tangga” agar kelak menjadi pendukung generasi dalam keluarga.  Model Pemberdayaan Perempuan Papua ini berbasis pada Mata Rumah.  Artinya, satu perempuan satu mata rumah tangga tidak mampu.  Dengan demikian Pemberdayaan Kemandirian Perempuan Papua dipandangnya sebagai barometer bagi pembangunan bangsa.  
Sekarang atas nama pribadi sebagai salah satu perempuan papua di nabire.  Kiranya tidak berlebihan, saya sampaikan bahwa kita sekarang banyak mengalami “kehilangan” dan “ketakutan”.   Kita telah kehilangan “taman eden” dan membuat kita takut pada bayangan diri sendiri.  Kita takut kedatangan sesama, jangan-jangan mereka minta upeti, sampai-sampai kita kehilayang kesempatan untuk membagi pengalaman dan ilmu kepada mereka.  Ini “berita kehilangan”  yang membudaya dikalangan para Pejabat dan Tokoh.   Mari kita cari TRENT  beru agar peluang dan kesempatan yang ada pada kita bisa menjadi ruang informasi dan pembelajaran bagi kita untuk tidak menutup diri tanpa alasan dan pembelajaran kepada mereka yang cenderung menganggap pejabat dan tokoh sebagai “mesin upeti”.   Budaya pintu terbuka itu adat kepala kampung dan tercermin pula di rumah bapak guru dan mama nyora di pesisir dan lembah.  Adat bilang kalo ada,  mari kita makan.  Kalo tidak,  mari kita menyanyi wor. Itu “nyanyian” budaya.  Tersenyumlah perempuan papua…..
       
Penutup
Kita memang enggan dan selalu terlambat memberikan kemerdekaan kepada perempuan untuk meraih harapannya.   Tetapi itu bukan harga mati.  “Dunia” telah membuka dirinya kepada perempuan untuk meraih harapannya.  Demikian pula kepada perempuan papua.   Apa sesungguhnya yang diharapan perempuan papua ?  Tidak berlebihan.  Saya pikir cuma separuh saja dari apa yang dimiliki laki-laki papua.  Karena perempuan tidak menuntut kesamaan hak, hanya kesetaraan hak dari banyak hak yang diberikan Tuhan Allah kepada Adam.  Perbedaan kita hanya pada “berat – ringan” dari harapan itu.  Bukan soal bisa atau tidak,  harapan itu diembannya.      Solusinya sederhana saja yaitu : “Berikanlah kami kesempatan”.    Bahwa kemerdekaan dapat kita raih setara dengan kaum laki-laki yaitu ketika kita memahami bahwa  Pemberdayaan Kemandirian dan Kesetaraan bagi kaum penolong adalah kodrat (kehendak Allah).  Serta  marilah kita balik fenomena “gunung es” perempuan papua, dengan program rekrutmen peserta didik usia dini   yang berbasis “mata rumah” dan pendidikan berpola bimbingan atau asrama terarah akan memperkecil gunung es sehingga di atas permukaan menjadi besar.
Tantangan selalu dihadapan kita.  Ada kekuatiran lebih tapi,  bukan tidak beralasan.  Kemana saja perempuan itu pergi selalu diintai bahaya.  Itu adat,  benar kah ?  Tetapi bahaya yang dihadapi tidak seperti dulu.  Kata Pendeta Jemima J. Mirino-Krey.  dilingkungan gereja orang mulai percaya pada kemampuan perempuan.  Maka perempuan harus pintar dan bijak menanggapi lingkungannya.  Harus ada perpaduan pikiran dan perasaan, yang bermuara pada tindakan.  Tindakan yang lahir dari kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki. Saya memandangnya sebagai teori “cacing”.  Dimana didalam setiap kesempatan bersama suami selalu berusaha mencari celah keseimbangan dalam menghadapi perbedaan.   Dengan mengenal siapakah itu perempuan papua, mengapa perempuan itu penting, bagaimana seharusnya perempuan dimata laki-laki serta apa peranan dan kedudukan masing-masing terhadap pihak lainnya, maka   perempuan papua juga bisa.
Bukan saja mengahadapi laki-laki yang kadang-kadang masih memandang miring terhadap perempuan.  Tetapi sekarang yang paling menantang ialah pengaruh globalisasi dan teknologi.  Kita tidak boleh terlambat menanggapi pengaruh yang datang karena kemajuan zaman ini.  Saya menyaksikan bahwa sendi-sendi dasar untuk menggali potensi perempuan sudah ada diambang kelumpuhan.  Tidak saja generasi laki-laki, namun lebih berpontensi merusak jiwa dan raga generasi perempuan papua.  Oleh sebab itu saya tegas himbau kepada Pemerintah, Gereja, LSM termasuk organisasi perempuan papua untuk sesegera mungkin wujudkan langkah nyata menolong perempuan papua  diambang bahaya penggunaan internet, fesh book, HP dan lainnya yang nyata-nyata disalahgunakan.   Bukankah surga itu ada di bola mata ibu ?  Bukan di telapak kakinya.  Tersenyumlah perempuan papua…….
       
 “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.  Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpancar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi”.     (Mazmur : 19 : 1-5).

Add comment


Security code
Refresh

Pemkab Intan Jaya Siapkan 10 Miliar Dana Perdamaian
Senin, 27 Maret 2017
JAKARTA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Intan Jaya menyatakan, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp.10 miliar, untuk penanganan konflik Pilkada yang terjadi di daerah itu.Bupati Intan Jaya, Natalis...
Amos Edowai: Terima Kasih Masyarakat Distrik Tigi Barat
Rabu, 22 Februari 2017
DEIYAI – Ketua DPC PKB Kabupaten Deiyai, Amos Edowai, menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Distrik Tigi Barat, khususnya masyarakat di empat desa/kampung, yaitu Kampung Diyai, Diyai...
Masyarakat Intan Jaya Jangan Terprovokasi Isu Oknum KJ
Rabu, 22 Februari 2017
INTAN JAYA - Frans Dendegau sebagai mahasiswa mengajak masyarakat Intan Jaya tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi tentang isu dan kabar miring yang dihembuskan oknum Kurang Jelas (KJ) kandidat...
KPU Independen dan Apkam Kerja Maksimal
Rabu, 22 Februari 2017
DOGIYAI – Pelaksanaan pemungutan suara pada Pilkada Kabupaten Dogiyai telah berjalan dengan lancar dan aman. Suksesnya penyelenggaraan pesta demokrasi di Kabupaten Dogiyai ini tidak terlepas dari...
Tiga Kadistrik di Deiyai, Diambil Sumpah Janji
Rabu, 22 Februari 2017
DEIYAI – Tiga Kepala Distrik (Kadistrik) di Kabupaten Deiyai, diantaranya Kadistrik Tigi Barat, Bouwobado dan Kapiraya mengambil sumpah janji, didampingi rohaniawan, ditandai dengan...
Tiga Paslon Pilkada Dogiyai Nyatakan Sikap ke KPU
Rabu, 22 Februari 2017
DOGIYAI – Tiga pasangan calon (Paslon) Pilkada Kabupaten Dogiyai, masing-masing pasangan nomor urut 2 Anton Iyowau - Yanuarius Tigi, S.IP, pasangan nomor urut 3 Francesco Tebay, SH - Benediktus...
Dikhawatirkan Rawan, Pilkada Intan Jaya Aman
Rabu, 22 Februari 2017
SUGAPA – Sebelumnya, pelaksanaan Pilkada Kabupaten Intan Jaya dikhawatirkan tidak berjalan dengan baik alias rawan. Namun akhirnya pesta demokrasi di kabupaten pegunungan ini bisa berjalan dengan...
Sekitar 300 Pejabat Struktural Pemda Deiyai Dilantik
Selasa, 21 Februari 2017
DEIYAI - Pejabat struktural esalon IIIa, IIIb, IVa di lingkungan Pemerintah Daerah Deiyai telah dilantik. Ada sekitar 300 lebih pejabat  pada tanggal 17 Februari 2017 yang dilantik di Aula Sekwan...
Masyarakat Deiyai Nikmati Listrik
Jumat, 17 Februari 2017
WAGHETE – Distrik Tigi Kabupaten Deiyai, kini para warganya bisa menikmati listrik (penerangan). Hal ini seiring langkah PT PLN (persero) Manokwari cabang Deiyai yang perlahan membuka aliran...
Natalis Tabuni Menjabat Lagi Setelah Cuti
Kamis, 16 Februari 2017
SUGAPA – Natalis Tabuni, SS,M.Si kembali menjabat sebagai Bupati Intan Jaya pada Sabtu (11/2) pekan lalu, setelah yang bersangkutan menjalani cuti selama 3 bulan. Serah terima dari Plt. Bupati...

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2