Raskin Belum Sentuh Masyarakat Menou

NABIRE - Kunjungan Kerja (Kunker) Sekretaris Komisi E DPRP Papua, Hagar Aksamina Madai dilakukan selama 2 hari. Selama dua hari itu dirinya melihat langsung kondisi masyarakat, berbagai fasilitas yang ada serta melakukan pertemuan dengan masyarakat 4 desa Distrik Menou menemukan sejumlah ppermasalahan yang dihadapi. Salah satunya adalan Raskin, dimana hingga saat ini Raskin belum sampai atau menyentuh masyarakat Menou.


“Setelah kami melakukan pertemuan diketahui bahwa Beras Untuk Masyarakat Miskin alias Raskin sampai saat ini belum ada, belum didrop di ibukota Distrik Menou padahal pesawat sudah masuk. Konsumsi masyarakat Menou sampai saat ini hanya makanan lokal yang ada seperti ubi dan keladi, padahal mereka juga berhak mendapatkan Raskin yang sudah diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia,” ungkapnya.
Dikatakanya, menurut keluhan masyarakat bahwa respek juga belum pernah sampai di kampung, dihabiskan oleh sekelompok orang yang berada di seputar Nabire.
Terkait adanya kantor distrik, Hagar Aksamina Madai menyayangkan bahwa hingga kini belum ada aktivitas pelayanan.
“Kantor Distrik sudah dibangun begitu megah, namun hingga kini belum ada fasilitas, kepala distrik dan stafnya juga tidak pernah ada ditempat, sehingga belum ada pelayanan pemerintahan distrik. Begitu pula dengan pelayanan kesehatan, Puskesmas sudah ada namun Kepala Puskesmas dan tenaga medis juga tidak ada ditempat, padahal masyarakat sangat membutuhkan pelayanan kesehatan, bagaimana kalau mereka sakit sementara untuk berobat ke kota sangat sulit transportasinya. Operasional yang ada hanya sekolah, aktivitas hanya belajar mengajar dan itupun masih terkendala karena para siswa banyak saja yang tidak masuk sekolah karena jauhnya tempat tinggal anak-anak dari sekolah. Begitu juga dengan tenaga pengajarnya. Belum adanya asrama siswa dan rumah kepala sekolah dan guru menjadi kendala yang serius. Sangat disayangkan juga bahwa menurut kepala sekolah tenaga pengajar yang ada hanya 3 orang itupun semuanya honorer. Dan kekuatiran kepala sekolah saat guru honorer itu tidak masuk, berarti hanya dirinya yang akan mengajar dari kelas 1 sampai dengan kelas 6,” tuturnya.
“Ini harus menjadi perhatian pemerintah daerah sumustinya tenaga-tenaga pengajar disebar diseluruh distrik-distrik dan bukan hanya terkumpul di sekitar Kota Nabire saja. Dibagi pemerataan di distrik-distrik utamanya di daerah terpencil dan tentunya dengan memberikan fasilitas berupa tempat tinggal,” ungkapnya.
Harapan masyarakat, semua gaji pegawai distrik, tenaga kesehatan, BOS dan begitu pula dilimpahkan pembayarannya ke distrik agar semua tenaga distrik, teanaga kesehatan betah tinggal ditempat tugas.
“Kami minta perhatian Pemerintah baik  daerah maupun provinsi agar semua itu dilimpahkan di Ibukota Distrik agar pusat pelayanan pemerintahan distrik dan kampung itu berjalan dengan baik. Sementara ini karena uang berkumpul dikota maka semua tenaga baik distrik, kampung, tenaga kesehatan selalu  berada di kota,” katanya.
Hagar Aksamina Madai juga meminta agar kedepan ada di buka cabang bank di distrik-distrik agar semua keuangan yang menyangkut gaji, dana Respek dan semua dapat dilimpahkan ke bank tersebut.
Terkait anak-anak sekolah, Sekretaris Komisi E DPRP juga melihat belum ada seragam sekolah.Para siswa SDN 1 Gokodimi Distrik Menou hanya masuk sekolah dengan pakaian seadanya, pakaian yang lusuh dan kumal.

Gizi Buruk Hantui Masa Depan Anak Menou

Bukan hanya permasalahan diatas, gizi buruk juga dihadapi anak-anak Menou. Bila kondisi itu tetap tidak ditangani secara serius maka masa depan anak-anak Menou akan terancam.bukan hanya pertumbuhan fisiknya yang tidak sehat tetapi daya pikir juga akan sangat terbatas.
Tidak ada serapan protein, vintamin, sayuran, lauk pauk yang dikonsumsi akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan anak-anak Menou.
“Bagaimana kita akan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) bila pasokan gizi nya saja tida ada. Masyarakat tidak pernah konsumsi sayur apalagi lauk, merka akan pelihara ayam tidak ada biaya untuk membeli bibitnya, tidak ada dana untuk membuat kandang akhirnya sumber protein tidak pernah mereka dapatkan. Ini bukan hanya di Menou tetapi juga di daerah-daerah terpencil baik di pegunungan dan pesisir. Mereka membutuhkan pasokan gizi untuk mencerdaskan otak. Bila kondisinyya terus begini lambat laun mereka akan kekurangan gizi, sakit terus meninggal. Masyarakat Papua akan terus berkurang karena kekurangan gizi,” terangnya. (iing elsa)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2