Produksi Kakao Papua Alami Penurunan Drastis

NABIRE - Dalam kurun waktu 8 tahun terakhir produktivitas biji kakao Papua mengalami penurunan yang sangat drastis. Bila di tahun 2007, produksi biji kakao Papua mencapai 9.455 ton, maka di tahun 2013 produktivitas biji kakao Papua hanya 2.038 ton. Itu artinya dalam waktu itu biji kakao Papua mengalami penurunan sebesar 78,44 %.

Hal demikian terungkap dalam sambutan tertulis Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua Ir. Jhon Nahamuri yang dibacakan Kabid Produksi Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Papua Karel Yarangga, SP.,M.Si, pada acara pembukaan sosialisasi intensifikasi dan rehabilitasi tanaman kakao, Rabu (8/7) di Aula Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nabire.
Dikatakan John Nahamuri, subsektor perkebunan dapat menjadi andalan bagi perekonomian masyarakat Papua, kesesuaian argo ekonomi, ketersediaan sumber daya lahan dan sosial budaya masyarakat merupakan modal/potensi yang sangat berharga.
Dari potensi yang menjadi lahan perkebunan seluruhnya seluas 5.554.000 hektar, pemanfaatannya total secara keseluruhan baru mencapai kurang dari 300.000 hektar atau hanya sebesar 5,4 %.Dan khusus untuk Kabupaten Nabire, dari potensi lahan seluas lebih kurang 330.000 hektar pemafaatannya kurang dari 30.000 hektar termasuk perkebunan besar atau lebih kurang 9 %. Secara nasional, pemerintah telah menentukan komoditas perkebunan sebagai komiditi utama yang  berjumlah 15 komoditi.
Dari 15 komoditas itu, 5 diantaranya sangat cocok dikembangkan di Papua, yakni kakao, kopi, kelapa, karet dan kelapa sawit. “Oleh pemerintah Provinsi Papua, 5 komoditi tersebut sudah ditetapkan sebagai komoditas strategis untuk pemberdayaan masyarakat dalam rangka mewujudkan visi Gubernur Papua yaitu Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera,” ungkapnya.
Lanjutnya, khusus untuk komoditas kakao di Papua, sudah dikembangkan cukup luas. Ada beberapa sentra pengembangan kakao, antara lain, Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, Nabire, Waropen dan Kabupaten Kepulauan Yapen dengan luas area secara keseluruhan mencapai 32.492 hektar dan melibatkan 26.365 kepala keluarga petani.
“Kabupaten Nabire sendiri berada diurutan 4 dengan luas area 3.160 hektar dan melibatkan lebih dari 1.500 kepala keluarga petani. Tadi Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Nabire menyampaikan 2 ribu lebih, itu hanya areal yang menghasilkan, sedangkan jumlah ini mencakup total keseluruhan termasuk tanaman yang tidak menghasilkan seperti rusak atau mati,” tuturnya.
Terangnya, perkembangan harga kakao dipasar baik dalam maupun luar negeri terus mengalami kenaikan, 20 tahun terakhir seiring dengan permintaan yang terus meningkat. Kondisi ini merupakan peluang besar bagi perkebunan kakao di Papua. Namun disayangkan produksi kakao di Papua termasuk Nabire dalam 8 tahun terakhir mengalami penurunan bahkan sangat drastis. Sebagai gambaran pada tahun 2007, produksi kakao Papua mencapai 9.455 ton dan tahun 2013 hanya 2.038 ton atau mengalami penurunan sebesar 78,44 %.
Menurut Karel, penyebab utama dari penurunan produksi Kakao Papua adalah kondisi tanaman yang tidak terawat, terserang hama dan penyakit dengan tingkat serangan sedang sampai berat. Selain itu, rata-rata produktivitas tanaman rendah karena pemanfataan bibit yang asal-asalan.
Ungkapnya, untuk melakukan perbaikan kualitas produksi maka perlu perbaikan kondisi tanaman melalui rehabilitasi, insentifikasi, peremajaan dan pengendalian hama penyakit. Bagi pemerintah daerah dan masyarakat petani kondisi itu sangat memprihatinkan karena masyarakat petani kehilagan pendapatan yang berdampak pada kesejahteraan.
Oleh sebab itu, dibutuhkan terobosan, kebijakan dan program yang melibatkan semua steakholder agribisnis yang bermata rantai dalam perkakaoan. “Pemerintah daerah, baik tingkat provinsi dan kabupaten, sepatutnya bersama masyarakat petani dan semua pemangku kepentingan bersinergi membangun kembali kejayaan kakao Papua,” kata Yarangga.
Menyikapi hal ini, dalam pertemuan evaluasi pembangunan perkebunan se-Papua tahun 2014 bulan November di Serui, telah disepakti rumusan bersama Dinas Perkebunan Provinsi Papua dan Dinas Perkebunan Kabupten/Kota.
Terkait kegiatan sosialisasi intensifikasi dan rehabilitasi tanaman kakao di Nabire, Karel Yarangga menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Nabire yang telah mendukung kegiatan dimaksud dengan pengalokasian anggaran yang cukup besar.
“Gerakan nasional itu bukan hanya melihat aspek budidaya tanaman tetapi juga pemberdayaan petani dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan dan pendampingan,” pungkasnya. (iing elsa)

 

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2