38 Napi Terima Remisi Khusus Lebaran

NABIRE- Pada peringatan Hari Raya Idul Fitri 1436 H (Lebaran) Jumat (17/7) kemarin ini, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Nabire memberikan remisi khusus kepada Narapidana (Napi) dan anak pidana sebanyak 38 orang. Pada kesempatan itu, diharapkan kepada Napi yang belum dapat remisi kali ini kiranya dapat bersabar, lantaran berperilaku baik dan mengikuti sesuai aturan yang ditetapkan oleh Negara, tentunya kelak juga akan mendapatkan remisi nanti.

Acara pemberian remisi tersebut, Kepala Lapas Nabire Yosef Benyamin Sembise,SH.,MH dalam membacakan sambutan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Yasonna H.  Laoly mengatakan acara pemberian remisi khusus Hari Raya Idul Fitri 1436 H bagi Narapidana dan anak pidana yang beragama Islam di bulan Suci Ramadhan yang penuh berkah ini mari kita lepas dengan hati yang penuh haru.
Dikatakan Yusuf Yembise, berakal iman dan taqwa kita songsong hari-hari mendatang dengan optimis. Dengan ketakwaan yang dilahirkan oleh ibadah yang kita pupuk oleh iman, akan menjadi tenaga penggerak perilaku perbuatan kita yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa dan bermanfaat bagi umat manusia.
Puasa menghantarkan manusia menemukan jati diri menjadi pembakti dan pengabdi kepada pencipta-Nya sesuai dengan fitrahNya. Secara naluriah, manusia mempunyai insting yang kuat untuk  membaktikan diri dari perbuatan yang tidak terpuji. Ketakwaan yang diperoleh melalui puasa berfungsi sebagai motivator dan dinamisator bagi manusia dalam menjalankan tugasnya di muka bumi.
“Cita-cita ideal puasa sering berbenturan dengan realitas sosial. Kemenangan puasa pada dasarnya merupakan kemenangan hati nurani melalui pengayaan spiritualitas yang terwujud dalam pengedalian diri yang sempurna. Puasa akan sia-sia jika dimensi spiritualinya tidak mampu menerangi konflik etika sosial yang makin hari terasa makin kompleks,” terangnya.
Lanjutnya, walaupun demikian puasa bukan hanya semata untuk mencari solusi terjadinya konflik etika sosial dalam masyarakat, tetapi juga dapat memperkuat ketahanan spiritual individu untuk mengendalikan diri dalam menghadapi tantangan dan akibat terjadi konflik sosial dalam berbagai aspek kehidupannya. Pada hakekatnya puasa dapat menghaluskan budi pekerti, tidak melawan dengan kekerasan fisik, tetapi dengan contoh keteladanan yang menyejukkan kehidupan bersama.
Pada setiap perayaan hari besar keagamaan, pemerintah memberikan pengurangan hukuman tau remisi pada narapidana yang merayakannya, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan (dalam pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh Peraturan Pemerintah Nomor  99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan  Hak Warga Binaan) dan Keputusan Presiden Nomor 174 Tahun 1999  tentang Remisi.
Tambahnya, sistem permasyarakatan sebagai sebuah sistem perlakuan terhadap Narapidana menjadikan Reintegrasi Sosial sebagai tujuan yang ingin dicapai. Dalam pradigma Reintegrasi Sosial disebutkan bahwa kejahatan merupakan akibat dari dishormoni antara narapidana dengan masyarakat. Dengan demikian agar, narapidana mampu menginternalisasikan nilai-nilai masyarakat tersebut, jalan yang harus ditempuh adalah dengan mempercepat kembalinya mereka ke dalam kehidupan masyarakat dan keluarganya.
“Remisi merupakan salah satu hukum yang penting dalam mewujudkan tujuan sistem permasyarakatan. Tolak ukur pemberian remisi tidak didasarkan pada latar belakang pelanggar hukumnya akan tetapi didasarkan pada perilaku mereka selama menjalani pidana. Dengan demikian, remisi dapat dipandang sebagai sebuah intrumen yang penting dalam pelaksanaan sistem permasyarakatan yaitu, dalam kerangka untuk memberikan stimulus bagi narapidana untuk selalu berkelakuan baik,” tandasnya.
Atas upaya memperbaki diri inilah, pemerintah memberikan penghargaan bagi mereka yang dinilai telah mencapai penyadaran diri yang tercermin dalam sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma agama dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. “Bagi mereka yang memperoleh remisi, sepatutnya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab remisi merupakan nikmat yang layak saudara terima karena telah memenuhi persyaratan administratif maupun substantif yang telah ditetapkan, sedangkan bagi saudara-saudara yang belum memperoleh remisi karena belum memenuhi persyaratan, hendaknya bersabar dan terus memperbaki diri agar pada kesempatan berikutnya saudara juga dapat menikmati hal yang sama,” imbuhnya. (modes)

 

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2