Gedung SD Sepanjang Jalan Trans Papua Terlantar

NABIRE – Gedung-gedung Sekolah Dasar (SD) yang dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire di sepanjang jalan Trans Papua khususnya di wilayah Distrik Siriwo terlantar.  Gedung yang berdiri megah di tengah perkampungan dan dibiayai dengan nilai anggaran yang besar yang berada di pinggir Jalan Poros Nabire - Enarotali tak pernah disentuh bagaikan rumah hantu di tengah perkampungan. Hitungannya, Pemkab Nabire menelantarkan bangunan yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Pemkab Nabire dinilai menghamburkan miliaran rupiah dengan menelantar sejumlah gedung karena pembangunan gedung-gedung SD tersebut tidak dibarengi dengan penempatan tenaga guru yang betul-betul mengabdi dan melaksanakan tugasnya di tempat.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire, Obed Senapa di ruang kerjanya, Selasa (11/8) mengatakan gedung terlantar yang kondisinya lebih parah justru SD Negeri Inpres Epomani dan Iyaimaida atau lebih populer pemukiman Diyaikunu, Distrik Siriwo. 
Karena, beberapa waktu lalu, Obed menyaksikan sendiri, rumput sudah menutupi  dinding gedung dan sudah menjalar ruang dalam gedung yang dipersiapkan untuk ruang kelas bagi berlangsung proses belajar mengajar di sekolah. Gara-gara tidak disentuh, tidak ada guru yang ‘mampir’, gedung sekolah terlantar, dan rumput masuk ruang kelas.
Padahal, kata Obed Senapa, gedung sekolah sudah dibangun dengan biaya besar, anak-anak usia sekolah di Kampung Epomani banyak dan bodinya sudah ada yang besar. Tetapi karena tidak ada guru anak-anak yang besar saja tidak sekolah, apalagi usia bocah dan usia anak masuk sekolah.
Agak ironi memang, anak-anak seusianya di Nabire dan tempat lain sedang sorak sorai dan bangga ke sekolah, anak-anak SD bisa berseragam merah putih belajar tulis, baca dan hitung di kelas bersama guru sementara anak-anak usia sekolah di sepanjang Jalan Trans Papua hanya bisa berdiri memandang setiap kendaraan yang melintas entah ke pedalaman atau ke pantai khususnya Nabire. Sementara anak-anak seusia sekolah di daerah pendulangan Siriwo bergelut dengan air kotor dan tanah liat mengais emas, tanpa mengenyam pendidikan karena memang tiada guru walau gedungnya sudah ada.
Pemerintah lain, juga masyarakat yang melintasi Jalan Trans Papua ruas Nabire-Enarotali hanya bisa menyaksikan sebagian anak-anak usia sekolah dari Kabupaten Nabire tidak bisa mengenyam pendidikan hanya karena Dinas Pendidikan dan Pengajaran tahu bangun gedung, tetapi tidak membuka sekolah dengan ruang kelas secara teratur agar wajib belajar 9 tahun terlaksana juga di Distrik Siriwo.
Obed juga mengungkapkan, saat di Epomani, masyarakat mengaku tidak kenal dan tidak tahu siapa namanya guru yang ditempatkan oleh pemerintah kabupaten Nabire lewat Dinas P dan P, apalagi tanya anak-anak, malah tidak tahu. Masyarakat tahu ada gedung tetapi tidak ada guru, gedung ada hanya sebagai hiasan pemerintah di kampung.
“Banyak gedung sekolah yang dibangun pemerintah tetapi banyak yang tidak dipakai. Karena tidak ada guru dan tidak ada sekolah di sana, tidak tahu kapan anak-anak seperti mereka ini bisa sekolah, karena tidak ada guru yang bertugas,” tuturnya pasrah. 
Ia berharap, Pemkab Nabire menempatkan tenaga guru yang berstatus PNS di SD yang berada di KM 86, KM 93, Epomani dan Iyaimaida agar aktifitas sekolah di kampung-kampung tersebut juga normal sehingga anak-anak usia sekolah yang ada bisa bebas dari buta tulis, baca dan hitung dan maju seirama dengan anak-anak seusia di kampung lain. (ans)

 
 

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2