Masyarakat Siriwo Minta Kadistrik dari Pamong

NABIRE – Masyarakat dari Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire meminta agar menempatkan kepala distrik (Kadistrik) dari latar belakang pendidikan pamong. Sebab, selama ini Kadistrik yang ditempatkan berlatar belakang bukan dari pamong sehingga kinerjanya kurang baik dan jarang berada di tempat tugas.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire, Obed Senapa, akhir pekan lalu di DPRD Kabupaten Nabire mengatakan selama ini, Kadistrik yang ditempatkan pemerintah kabupaten (Pemkab) Nabire tidak berlatar belakang pendidikan pamong, tetapi ada yang berlatar belakang, guru, pamong praja dan lain-lain sehingga tidak banyak yang memahami tugasnya secara baik dan benar. Kecuali, Kadistrik perdana dari pamong praja.
Selama ini, kata Obed, Kadistrik yang ditempatkan Pemkab Nabire jarang ke tempat tugas dan memilih lebih banyak tinggal di kota Nabire. Kalaupun ke Siriwo, hanya satu dua hari, selebihnya kembali ke kota. Demikian juga staf distrik, tinggal di Nabire.
Legislator ini menambahkan gara-gara Kadistrik tidak berada di tempat tugas dan tinggal di Nabire, staf, aparat kampung, dan masyarakat Siriwo terpaksa ‘lari’ ke kota Nabire hanya untuk menemui dan mengurusi keperluaannya staf dan masyarakat. Padahal, seharusnya, disamping tugas pemerintahan yang diembankan kepada pejabat yang bersangkutan, salah satu tugasnya adalah melayani masyarakat di wilayahnya.
Obed juga mempertanyakan, tugas seorang Kadistrik yang ditempatkan di Siriwo. Karena, selama ini pejabat Kadistrik yang ditempatkan Pemkab Nabire tinggal di kota dan tidak mau bertugas di wilayah yang ditempatkan.
Ia menilai, Kadistrik tak mau ke tempat tugas karena tidak mengerti tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) seorang Kadistrik karena back round yang bersangkutan juga tidak dari pamong. Beda dengan Kadistrik pertama yang berlatar belakang pamong. Pada saat itu, kondisi jalan tidak seperti sekarang, kondisi jalannya rusak tetapi bisa melayani masyarakat sesuai dengan Tupoksi sehingga tidak banyak masyarakat yang ke kota Nabire hanya untuk urusan ke Kadistrik.
“Pada kondisi sekarang, jalan darat sudah bagus tetapi tidak mau ke tempat tugas sehingga staf, aparat kampung banyak turun ke Nabire hanya urusan dengan Kepala Distrik dan stafnya yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, Obed mewakili masyarakatnya meminta kepada Pemkab Nabire untuk mengganti Kepala Distrik Siriwo dengan latar belakang pamong. Masyarakat meminta agar Pemkab Nabire mengakomodir aspirasi masyarakat, soal nama calon Kadistrik yang berlatar belakang pendidikan pamong, agar tetap berada di distrik dan mengajak stafnya beraktivitas di Siriwo, bukan di Kota Nabire. (ans)

 
 

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2