Pemimpin Menjadi Pelayan, Bukan Menjadi Tuan

NABIRE - Konsep pemimpin menjadi tuan harus dirubah, pemimpin harus bisa melayani pengikutnya. Apalagi, pemilihan kepala daerah saat ini dilakukan secara langsung bukan pemilihannya lewat DPR atau penunjukkan yang dilakukan di masa Pak Harto dulu. 

 

“Hasil survey menunjukkan bahwa hanya 5 % menggunakan uang menjadi bupati atau gubernur. Mengapa demikian ? Karena, menggunakan uang banyak-banyak itu juga kadang tidak mampu mencapai target. Lagi pula, kampanye dari anti politik mengatakan bahwa terima uangnya dan pilih menurut hati nurani anda. Jadi politik uang belum tentu menjadi seorang pemimpin,” demikian seperti diungkapkan Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. DR. Ikrar Nusa Bhakti, APU ketika bertindak sebagai nara sumber dalam diskusi publik 01 Nabire terbaik lima tahun mendatang di Kampus USWIM Nabire.

Apa yang dilakukan oleh USWIM boleh dikatakan salah satu cara untuk sosialisasi Pilkada serentak pada tanggal 9 Desember 2015. “Saya juga harus memberikan apresiasi yang tinggi FISIP dan LP3M USWIM karena universitas ternyata menjalankan tidak hanya menjalan fungsi sebagai lembaga ilmiah. Tetapi bisa menjalankan fungsi pengabdian pada masyarakat untuk melakukan komunikasi ini.

Menurutnya, jika seseorang menjadi pemimpin kita lihat secara konvensional sebetulnya pemimpin daerah itu bisa menggunakan media massa seperti radio, televisi atau surat kabar untuk melakukan komunikasi politiknya. Ada beberapa kabupaten/kota di Indonesia membeli iklan pemerintah di koran-koran daerah tapi kita lebih melihat konvensional  sebetulnya pemberintah daerah Kabuputen Nabire menggunakan jalur-jalur organisasi kemahasiswaan, kepala-kepala suku, Polres dan jajaran-jajaran lainnya di masyarakat.

“Sekali lagi, harapan itu boleh tinggi akan tetapi harapan itu juga kita imbangi dengan kerja juga. Tentunya masyaralat juga menentukan apakah bupati/walikota dan birokrasi itu akan berhasil atau tidak tentunya tidak akan berjalan tanpa adanya antara pemimpin dan yang dipimpin. Jadi partisipasi masyarakat dalam pembangunan itu juga sangat penting,” ungkapnya.

Diingatnya, ketika dirinya menjadi mahasiswa di UI salah seorang dosennya mengatakan bahwa kamu berbakti kepada negara tidak usah yang muluk-muluk, anak keturunanmu mempunyai pendidikan dan pengalaman jauh lebih baik dari kamu itu menjadi bakti kepada negara. Karena, perbaikan masa depan Indonesia, perbaikan masa depan Nabire dan perbaikan mengenai generasi kita.

“Anda akan menjadi pemimpin masa depan, oleh karena itu belajar yang lebih baik dan terus tingkatkan kerja sama yang baik karena dengan kerja sama dan pendidikan itu akan menjadikan anda pemimpin-pemimpin jauh lebih baik dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin yang ada sekarang,” ujar Ikrar Nusabhakti memotivasi mahasiswa USWIM.

Di tempat yang sama, Guru Besar Unpad Bandung, Prof. DR. Drs. H. Utang Suwaryo, MA mengatakan, bagaimana menjadi pemimpim yang sukses, usaha apa yang harus dilakukan agar kebijakan bisa diketahui oleh masyarakat. Sehingga nantinya tidak salah pilih menjadi pemimpin ini memang harus ada hubungan dengan yang dipimpinnya. Karena, pemerintah dengan yang diperintah itu harus ada hubungan baik berupa fisik, komunikasi, kunjungan maupun berupa non fisik agar nyambung. Hal ini harus dilakukan agar ada rasa memiliki antara pemimpin dan dipimpin.

“Karena tidak dibangun hubungan akhirnya dibuat suatu kesimpulan bahwa pemimpin ini tidak cocok. Setelah menjadi pemimpin dia tidak mampu membangun komunikasi dengan pendukung dan masyarakat yang tidak mendukung waktu itu. Setelah jadi pemimpin, baik itu yang mendukung maupun mereka yang tidak mendukung harus dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi pendukung. Maka disinilah peranan komunikasi politik itu penting,” ungkapnya.

Dijelaskannya, dirinya menyarankan kepada calon pemimpin yang cocok di Tanah papua ini harus datang langsung kepada rakyat. Jadi jangan semata-mata tim sukses saja yang datang. Hal ini dimaksudkan aga nantinya  dikenal, dipahami, harus mampu hidup bersama rakyat sehingga memahami dan mengenal masyarakat.

“Mampu belajar dari rakyat apa sebenarnya yang diinginkan, bekerja dengan rakyat, bergotong royong, mulailh dengapa apa yang diketahui dan yang dibutuhkan rakyat  agar nantinya membangun apa yang diinginkan oleh rakyat itu sendiri kalau hal-hal ini diamalkan oleh calon pemimpin. Toh kalau semua ini dilakukan oleh calon pemimpin, kegagalan visi misi itu dapat diketahui oleh masyarakat, bukan dimarah atau dikecam habis-habisan oleh rakyat,” terangnya.

Ditambahkannya, karena masyarakat sudah memahami kesulitannya visi misi  pemimpin tidak semuanya mudah diwujudkan. Akan tetapi, ada program yang sulit dicapai. Kesulitan dipahami juga oleh rakyat, rakyat tidak akan mengutuk pemimpinnya, akan tetapi akan didorong dan mendukung ayo kita coba lagi demi kesejahtaraan dan kemakmuran rakyat. 

“Saya kira sederhana saja akan tetapi mentalitas pemimpin sebelum menjadi pemimpin dan setelah menjadi pemimpin melupakan rakyat tidak pernah datang lagi ke rakyat,” ujarnya.

Dicontohkannya, pengalaman sejumlah anggota legislatif pada saat kampanye, datang ke mesjid datang ke gereja, datang ke kampung, datang ke RW atau ke RT sekalipun. Tetapi, setelah terpilih tidak pernah nengok lagi, tidak pernah ketemu lagi. Tidak ada komitmen seperti ini bagaimana ada komunikasi politik kita bisa membangun bersama.

“Cara seperti itu harus dibuang jauh-jauh. Mari kita bersama-sama bergotong royong membangun, ringan sama dijinjin berat sama-sama  dipikul dengan segala konsekwensinya. Karena, masyarakat yang ada di kelas bawah sampai dengan masyarakat yang modern sangat menbutuhkan pemimpin yang melakukan komunikasi politik dengan rakyat,” terangnya. (rik)

 
 

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2