Bencana Tanggung Jawab Semua Pihak

NABIRE - Bencana tidak dapat diprediksi akan terjadi, kapan saja, menimpa siapa saja dan dimana saja, kecuali disebabkan klimatologis. Oleh karena itu menjadi tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat bahkan dunia internasional.

Dalam materi yang paparkan Widya Swara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua, Agus Sumarsono,S.Sos.,MT, dalam kegiatan sosialaisasi pemantauan dan penyebarluasan informasi potensi bencana di Kabupaten Intan Jaya beberapa hari lalu di Aula Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Intan Jaya, ada sejumlah Undang-Undang (UU) dan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengamanatkan terkait kebencanaan, diantaranya UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus Bagi Papua, UU Nomor 32 tentang Pemerintah Daerah, UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, PP Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Permendagri Nomor 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja BPBD dan Perdasi Papua Nomor 6 Tahun 2010 tentang Organisasai dan Tata Kerja BPBD Provinsi Papua.
Dipaparkan Agus, pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayahnya, bahwa bupati / walikota sebagai penanggung jawab utama dan gubernur memberikan dukungan perkuatan penyelenggaraan penanggulangan bencana.
Bahwa pemerintah daerah bertanggung jawab untuk mengalokasikan dan menyediakan dana penanggulangan bencana dalam APBD secara memadai pada setiap tahap pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana, memadukan penanggulangan bencana dalam pembangunan daerah dalam bentuk mengintegrasikan pengurangan resiko bencana dan penanggulangan bencana dalam RPJPD, RPJMD dan RKPD dan menyusun dan menetapkan rencana penanggulangan bencana serta meninjau secara berkala dokumen perencanaan penanggulangan bencana.
Disamping itu melindungi masyarakat dari ancaman dan dampak bencana dengan pemberian informasi dan pengetahuan tentang ancaman dan resiko bencana di wilayahnya, pendidikan dan pelatihan dan peningkatan ketrampilan dalam penyelenggaraan penanggulanagan bencana, perlindungan sosial dan pemberian rasa aman, khususnya bagi kelompok rentan bencana, serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekontruksi.
Selanjutnya melaksanakan tanggap darurat dimulai dengan kaji cepat, penentuan tingkatan bencana, penyelamatan dan evakuasi, penanganan kelompok rentan dan menjamin hak dasar terhadap masyarakat korban bencana dan memulihkan serta meningkatkan secara lebh baik.
Diterangkan Agus Sumarsono, banyak permasalahan atau kendala yang dihadapi Papua dalam penanggulangan bencana, diantaranya, karena Papua merupakan daerah rawan bencana alam, belum teridentifikasinya daerah rawan bencana di setiap kabupaten/kota, masih banyaknya daerah-daerah yang terisolasi, pemukiman penduduk dominan di lereng-lereng gunung.
Disamping itu, jalur transfortasi didominasi lewat udara, kurang ketersediaan peralatan evakuasi/penyelamatan, kurang pemahaman masyarakat akan ancaman bencana, kurang ketersediaan tenaga medis dan obat-obatan, BPBD belum terbentuk di setiap daerah, kurangnya informasi peringatan dini bagi masyarakat dan kurangnya tenaga terampil dalam penanggulangan bencana.
Oleh karena itu, dalam penanganan bencana diperlukan sejumlah hal, diantaranya paradigma dalam penanganan bencana perlu diubah atau dibangun (tidak hanya pola repressive) melainkan harus mulai dari pola preventive, repressive dan rehabilitative.
Menurutnya, selama ini di Papua dalam penanganan repressive dikoordinir oleh Satkorlak PB, dengan hadirnya BPBD maka penanganan bencana akan lebih terkoordiasikan dan tersinergikan semua sumber daya dan potensi SDM dalam PB, serta keterlibatan institusi teknis terkait.
Ungkap Agus Sumarsono, kegiatan sosialisasi seperti yang dilaksanakan BPBD Kabupaten Intan Jaya merupakan upaya membangun pemahaman publik dalam menghadapi ancaman bencana sehingga tercipta kesiap-siagaan dalam penanggulagan bencana. (iing elsa)

 
 

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2