Thomas Tigi Adukan Herman Auwe Cs ke PTUN

NABIRE – Thomas Tigi melalui kuasa hukumnya mengadukan Herman Auwe Cs ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) karena dinilai telah melakukan pembohongan kepada pejabat negara di Jakarta dan Jayapura,  dan kepada publik di Nabire dan Dogiyai. Pembohongan publik tersebut berkaitan dengan pelaksana tugas (Plt) Bupati Kabupaten Dogiyai.


Thomas melalui telepon selulernya, Minggu (15/11) dari Nabire mengatakan, pembohongan yang dilakukan Herman Auwe sudah didaftarkan di PTUN dan yang melaporkan Auwe ke PTUN adalah pengacara, sehingga proses selanjutnya akan ditangani kuasa hukum.
Menurut Bupati Thomas, pertama sejak Kabupaten Dogiyai menjadi definitif, pembohongan yang dilakukan Auwe bersama dua staf adalah melaporkan kepada Gubernur Papua bahwa, Thomas Tigi sudah menjalani hukuman tahanan selama 4 tahun.
Demikian juga, Auwe melapor ke Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri bahwa Bupati Dogiyai, atas nama Thomas Tigi sudah menjalani hukuman tahanan selama 4 tahun, sehingga ia meminta untuk mengeluarkan Surat Auwe sebagai pelaksana tugas (Plt) Bupati Dogiyai selama 1,6 tahun.
“Padahal, saya tidak ditahan dan sampai sekarang saya tidak ditahan. Saya masih ada,” tuturnya.
Thomas mengungkap, ketika Herman Auwe cs meminta dan mendesak Dirjen Otda Kementerian Dalam Negeri untuk mengeluarkan surat penunjukkan sebagai Plt Bupati, Auwe bersama Benni Airori yang mengaku diri sebagai Kepala Bagian Tata Pemerintahan dan Otonomi Daerah Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Dogiyai dan David Zebua sebagai Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Dogiyai. Padahal, kata Thomas. Benni Airori hanya staf dan David Zebua tidak Ketua Bappeda.
Menurut pengakuan staf dari Dirjen Otda, Dirjen Otda akhirnya mengeluarkan surat karena Auwe bersama Benni Airori dan David Zebua ke kantor dengan marah-marah dalam keadaan mabuk. Surat yang dikeluarkan dari Dirjen Otda, ditandangi oleh Sekretaris, Dirjen Otda hanya tertanda tangan (ttd), sedangkan Menteri Dalam Negeri, hanya UB.
“Surat penunjukkan Kepala Daerah, tidak bisa main-main. Harus ditandatangani oleh Menteri, Sekretaris Jenderal, atau Dirjen Otda bukan oleh Sekretaris Dirjen. Kasihan, ini pejabat negara, jangan main-main,” kata Thomas menyayangkan proses surat penunjukkan Herman Auwe sebagai Plt Bupati Dogiyai.
Putera Dawaikunu, Distrik Mapia ini menjelaskan, tidak ada pelantikan sebagai Plt Bupati Dogiyai oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provisi Papua. Itu hanya pembohongan publik yang dilakukan oleh Herman Auwe. Sebab yang benar, Auwe menyerahkan surat dari Dirjen Otda Kementerian Dalam Negeri yang ditandatangani oleh Sekretaris Dirjen Otda kepada Sekda Provinsi Papua.
Disamping pembohongan di atas, kata Thomas, pembohongan yang dilakukan Herman Auwe adalah mengumumkan kepada publik bahwa sudah dilantik sebagai Plt Bupati lewat media massa dan kepada masyarakat di Nabire dan rakyat Kabupaten Dogiyai.
Oleh karena itu, semua pembohongan publik yang dilakukan Herman Auwe sudah diadukan ke PTUN, akan ditangani oleh pengacara Thomas Tigi untuk mendudukan persoalan proses administrasi pemerintah secara hukum. Putusan hukum dari PTUN akan menjawabnya. (ans)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2