John Gobay : Sumber Kekerasan di Papua, Lantaran Konflik di Areal SDA Kaya

NABIRE - Salah satu sumber kekerasan di Tanah Papua terjadi karena konflik di areal Sumber Daya Alam (SDA) yang kaya. Demi uang dan gengsi, aparat keamanan terlihat lebih mengamankan investor ketimbang rakyat setempat selaku pemilik hak ulayat. Demikian terang Ketua Dewan Adat Paniai, John NR Gobai di sela-sela diskusi bersama di kantor Kontras Papua belum lama ini.


Dikatakan John, kenyataan hingga hari ini aparat keamanan melindungi pengusaha emas di kawasan Degeuwo Paniai dan perusahaan kelapa sawit di lokasi tanah adat milik Suku Yerisiam Gua, Kabupaten Nabire.
“Aparat keamanan mengidentikan dirinya seperti agen jasa pengamanan bagi pengusaha,” ujar John Jumat kemarin.
Melihat berbagai persoalan yang terjadi di beberapa daerah di Papua khususnya di areal kelapa sawit Nabire dan kekerasan di kawasan pendulangan emas Degeuwo, ia dengan tegas minta, aparat keamanan harus ditarik dari kedua lokasi ini.
“Harus tarik kembali semua aparat keamanan baik TNI maupun Polri dari wilayah investasi di Nabire, Degeuwo Paniai maupun dari wilayah investasi lain di Tanah Papua,” tegasnya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua juga diminta cabut kembali ijin usaha yang diberikan kepada para investor. “Pemerintah harus mencabut semua Ijin Usaha Perkebunan (IUP) kelapa sawit dan pertambangan di Tanah Papua,” ujar John.
Alasannya, sebut Sekretaris I Dewan Adat Papua ini, pihak aparat dalam hal ini Brimob yang menjadi PAM sudah beberapa kali melakukan tindakan kekerasan terhadap pemilik ulayat.
Seperti di Nabire, Brimob menangkap dua warga sipil atas nama Yoram Piet Enawi (30) dan Haris Anaur (28). “Padahal, mereka dua pemilik hak ulayat di wilayah yang kini menjadi lahan perkebunan kelapa sawit milik PT Nabire Baru. Penangkapan dua warga sipil itu terjadi pada Senin (10/11/2015) lalu,” bebernya.
John menjelaskan, penangkapan dilakukan karena masyarakat adat memasang patok di areal perkebunan sawit yang sudah dikelola perusahaan, namun belum dilakukan penanaman.
Tak hanya itu. Pada 3 Maret 2014, Titus Money (22) dituduh kurir TPN/OPM hingga dianiaya. “Titus mengalami kekerasan fisik oleh oknum anggota Brimob yang melakukan pengamanan di lokasi kelapa sawit,” urainya.
Di tempat sama, koordinator Bersama Untuk Kebenaran (BUK), Peneas Lokbere mengungkapkan beberapa kasus kekerasan dari aparat keamanan terhadap warga sipil di sepanjang Sungai Degeuwo.
“Tanggal 10 Juli 2009 kasus berawal dari sengketa masalah tanah antara keluarga Ungke dan Anoka menyangkut lokasi pendulangan emas di Bayabiru. Terjadi penembakan terhadap seorang remaja, Sepanya Anoka (16).”
“Kemudian, Matias Tenouye juga tertembak diatas jembatan gantung di sungai Degeuwo yang dilakukan oleh aparat gabungan Polres dan Brimob yang menjadi PAM di Bayabiru,” rinci staf KontraS Papua ini.
Untuk itu, pihaknya meminta pemerintah segera mencabut ijin usaha dari PT Madinah Quarata’ain. Sebab, perusahaan tersebut diduga sedang melakukan penambangan emas yang sangat merugikan masyarakat setempat.
Ditegaskan John, fakta selama ini semakin hari banyak kasus kekerasan dan pembunuhan terhadap orang Papua terus dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. “Kami meminta agar aparat kemanan yang melakukan PAM di beberapa lokasi perusahaan agar segera ditarik, sehingga warga bisa hidup dengan baik dan tentram. Begitupun ijin-ijin terhadap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Papua yang sering merugikan masyarakat lokal,” tegas mereka. (wan/ist)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2