Penetapan APBN Molor, APBD Papua Ikut Molor

JAYAPURA - Pembahasan APBD Provinsi Papua tahun 2016 disebabkan oleh molornya transfer sejumlah dana seperti Dana Alokasi umum (DAU) Dana Alokasi Khusus (DAK) Dana Otonomi Khusus Papua maupun dana tambahan infrastruktur.
Padahal, Gubernur Papua Lukas Enembe sejak awal tahun 2015 sudah berkomitmen dengan DPR Papua untuk APBD 2016 paling lambat ditetapkan bulan November 2015.


“Lambatnya penetapan APBN menyebabkan kita juga terlambat dalam menetapkan APBD induk 2016, karena sejumlah dana transfer dari pusat juga terlambat ditransfer,” ujar Gubernur  Lukas Enembe, kepada wartawan usai melantik tiga karateker Bupati di Sasana Krida Kantor Gubernur Papua, Senin (16/11) kemarin.
Menurutnya, pemerintah Provinsi Papua baru-baru baru menerima dana transfer DAU, DAK, Dana Otsus dan dana infrastruktur dari Pemerintah Pusat.
“Kita baru saja mendapat dana DAU dan lainnya dari Pusat, karena dana transfer dari pusat merupakan dasar penyusunan RAPBD induk 2016,” tandasnya.
Namun, kata Lukas Enembe, pemerintah Provinsi Papua akan segera menyerahkan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) ke DPR Papua untuk dibahas.
“Kami akan segera menyerahkan KUA/PPAS kepada DPR Papua, mungkin hari ini atau besok akan diserahkan kepada dewan,” terangnya.
Setelah diserahkan, DPR Papua masih mempelajari untuk selanjutnya menentukan waktu untuk dilakukan pembahasan.
Namun Lukas Enembe menegaskan, Rancangan APBD 2016 harus diselesaikan tepat waktu. “Penetapan APBD induk tidak akan melewati batas waktu sesuai peraturan perundang-undangan. Jadi APBD induk paling lambat ditetapkan di bulan November,” terangnya.
Seperti tahun lalu, penetapan APBD induk tahun lalu ditetapkan ditetapkan bulan Okotober. “Kita berharap APBD induk tahun 2016 ditetapkan sama seperti tahun lalu atau tidak lewat dari bulan November,” tandasnya.
Penetapan APBD induk 2016, bertujuan agar supaya proses administrasi perencanaan dan penganggaraan serta pelaksanaan program dapat dilakukan secepatnya, sehingga daya serap Papua dapat lebih tinggi dan lebih bagus dengan waktu yang cukup luang.
“Karena dengan waktu yang terbatas, kualitas daya serap tidak bagus. Kita bekerja dengan waktu yang terbatas, sehingga hasilnya tidak maksimal,”katanya.
Diharapkan penetapan APBD induk 2016 sama seperti tahun lalu atau tidak akan sampai ke tahun depan, apa yang telah dilakukan. Harus konsisten sebagai pertanggungjawaban ke publik, apa yang telah dicapai harus dipertahankan. (Bams)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2