Belum Nampak Pembangunan di Degeuwo, Masyarakat Hanya Jadi Penonton

NABIRE - Lokasi penambangan emas rakyat Degeuwo/Kemabu merupakan daerah yang memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa di wilayah timur Indonesia. Namun sejak dibukannya penambangan emas (2002) hingga kini belum nampak adanya pembangunan baik itu berupa sarana jalan atau sarana lainnya seperti pendidikan, kesehatan, perumahan rakyat maupun sarana air bersih.Masyarakat Degeuwo hingga kini belum menikmati hasil alamnya sendiri diambil orang. Masyarakat Degeuwo hanya menjadi penonton sumber kekayaan alamnya diambil orang tanpa ada kepedulian.


Hal ini diungkapkan Ketua Otorita Adat Degeuwo Willy Bradus Magai, S.Sos., kepada Papuapos Nabire, Selasa (21/5).
Dkatakannya, bukan hanya para pengusaha yang melakukan aktivitas penambangan emas di Degeuwo yang tidak memperhatikan kehidupan rakyat. Hingga kini belum ada perhatian dari pemerintah daerah, provinsi dan pusat, seperti jaman terpal hingga kini Degeuwo/Kemabu juga tetap terpal.
Menurut Willy Magai, ada dua masalah yang muncul yang harus segera diselesaikan. Pertama, pada awalnya penambangan emas rakyat Degeuwo dikerjakan secara manual dan kini telah berubah menjadi perusahaan dengan sejumlah alat berat, namun hal itu tidak merubah nasib rakyat Degeuwo. Ibarat panggang jauh dari api itulah harapan rakyat yang menginginkan taraf hidup yang lebih sejahtera. Harapan tinggal harapan namun yang didapat hanya janji-janji belaka yang realisasinya hingga kini belum nampak.
Lanjutnya, meningkatkan dari manual pada bentuk perusahaan itu tidak jelas pasalnya tidak melibatkan pemilik dusun, tidak melibatkan masyarakat Hak Ulayat serta masyarakat lainnya di Degeuwo/Kemabu sehingga akibatnya masyarakat hanya menjadi penonton.
Ungkapnya, disamping tidak melibatkan pemilik dusun dan masyarakat mereka juga tidak transparan/terbuka sehingga masyarakat menjadi korban.
“Seharusnya itu dilakukan secara transpara/terbuka dengan melibatkan pemilik dusun dan masyarakat pemilik hak ulayat dan jangan sampai masyarakat yang menjadi korban,” ungkapnya.
Kedua, masalah organisasi APE (Asosiasi Penambang Emas) dan konsorsium jangan dianggap sepele atau masalah kecil. Semua pihak harus turun tangan, duduk bersama untuk menyelesaikannya.
“Ini bukan masalah Natalia Kobogau (Ibu Magai) dan Maks Adii, saya minta untuk diselesaikan sampai tuntas,” katanya.
Willy Magai meminta agar dua permasalahan itu diselesaikan hingga tuntas sehingga semua bisa bekerja dan mencari dengan baik dan tanpa ada permasalahan yang timbul. (iing elsa)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2