Makna Natal Bukan Dentuman Petasan

HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman rakitan meriam hampir setiap bukit.


Berbeda dengan perayaan Idul Fitri, Waisak dan Nyepi, suasana selama bulan puasa dan jelang hari raya keagamaan lainnya sepi dari bunyi-bunyian. Dengan perbedaan suasana jelang hari taya tersebut, suasana menyongsong hari raya Natal (selama masa advent – bagi agama Katolik) terkesan penuh dengan dentuman meriam rakitan dan petasan. Masa persiapan menyambut kelahiran Juru Selamat terasa terganggu dengan aneka bunyi-bunyian sehingga memaknai selama persiapan dan pasca hari raya Natal sebagai hari-hari penuh aneka bunyi.
Oleh sebab itupula tidak heran, pedagang dan penjual dadakan menawarkan aneka petasan dan kembang api. Memasuki masa Advent, bahkan sebelumnya pedagang dan penjual sudah mulai menyiapkan aneka bentuk dan warna petasan, kembang api (entah yang punya ledakan) dan lampu hias. Pedagang menawarkan aneka jenis petasan karena memang memasuki masa advent, pasti dimaknai dengan bunyi-bunyian petasan. Demikan juga anak-anak dan remaja yang tak mau mengeluarkan duit untuk petasan, berkreasi sendiri untuk merakit meriam, entah rakitan yang dipegang maupun di tanam.
Terlihat jelas di sudut-sudut kota Nabire, sejumlah anak-anak tempak asyik dengan meriam rakitan dari kalengan dan botol. Bahan ledak yang dipergunakan juga macam-macam. Dan itu sebagai sebuah ekspresi dari kegembiraan anak-anak menyongsong kelahiran Tuha.n, Sang Penebus di tengah umatNya.
Untuk mnekan kebisingan dalam kota dari letupan petasan dan meriam rakitan, hampir setiap tahun kepolisian dan pemerintah daerah melarang pedagang untuk menjual petasan dan kembang api dengan ledakan bunyi besar. Lalu bagaimana dengan ledakan dari meriam rakitan?
Tenang dan tidaknya di dalam lingkungan masyarakat tidak semata-mata tugas kepolisian, Tanggungjawab pertama dan utama untuk menjaga kenyamanan dan ketenangan di dalam lingkungan masyarakat adalah setiap keluarga, Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Wilayah (RW). Menciptakan suasana tenang atau gaduh dengan bunyi-bunyian di masing-masing lingkungan merupakan tugas dan tanggungjawab dari keluarga masing-masing dan RT-RW setempat.
Sebab, makna perayaan Natal yang hakiki adalah kedamaian, Kanak Yesus yang di Kandang Hina datang membawa kedamaian bagi umat mausia di dunia. Makna hari raya Natal yang diperingati Umat Kristiani di seantero bumi, sebagai awal mula kedamaian bagi manusia, siapa saja sehingga peristiwa ini disyukuri dalam sebuah suasana suka cita yang tidak diartikan dengan aneka bunyi-bunyian dan letupan yang mengganggu sesama di sekitar.
Oleh karena itu, untuk ikut menciptakan kedamaian diantara sesama di sekitar kita, adanya suka cita dan keharmonisan dana bermasyarakat, peran masing-masing keluarga memegang perang yang pertama dan utama termasuk di dalam menyadarkan anak-anak dan remaja.
Tulisan ini bukan karena merasa terusik petasan dan dentuman meriam rakitan tetapi hanya sekedar mengingatkan kepada sesama yang merayakan hari raya Natal agar ikut menciptakan damai dan suka cita di tengah lingkungan tempat tinggal sehingga Natal tidak diidentikan dengan pesta bunyi petasan dan letupan meriam rakitan. (ans)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2