Di Nabire Sawmill Menjamur, Hutan Menggundul

NABIRE - Perlahan tapi pasti, hutan Nabire dari Topo, Wanggar, Teluk Kimi, Makimi serta Distrik Yarokibisai, terus ditebang. Hutan yang semakin menggundul ini diduga imbas dari maraknya sawmill (usaha kayu, red) yang berkembang pesat di Nabire.


Tumbuh menjamurnya usaha sawmill di dalam maupun luar Kota Nabire imbas pembebasan pengolahan kayu yang dilakukan masyarakat secara individu kepada para pemilik modal yang juga adalah pemilik sawmill.  Sementara tidak disadari hutan juga menggundul dan ancaman akan datang sebagai akibat dari penebangan hutan tersebut.
Dikatakan Wakil DAP/LMA Kabupaten Nabire, Thomas Misiro, Kamis (30/5) di Kelurahan Karang Mulia, hasil survey DAP/Lembaga Masyarakat Adat (LMA) telah didata hutan–hutan di Nabire kini sudah tidak layak disebut hutan lindung lagi. Karena rata-rata kayu-kayu kita di Nabire ini terkuras habis. Dipertanyakan apakah ada Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dimasukan ke dinas terkait ?
DAP/LMA meminta kepada Dinas Kehutanan agar tidak lagi mengeluarkan surat ijin pengelolaan kayu maupun surat ijin pengangkutan kayu.  Sebab banyak kayu yang keluar dari Nabire tanpa ijin yang jelas.  LMA akan turun bersama sejumlah pasukan untuk menertibkan semua sawmill-sawmill yang ada di Kabupaten Nabire.
Lanjutnya, diindikasihkan kayu olahan yang dikirim keluar Nabire, tidak semuanya murni ada di Surabaya dan Jakarta serta kota-kota lain yang ada di Indonesia.  Tetapi diindikasikan ada kayu yang langsung dikirim ke luar negeri. Dengan demikian Dinas Kehutanan diharapkan tidak mengeluarkan ijin–ijin lagi. Tetapi semua ijin yang ada saat ini haruslah ditertibkan terlebih dahulu.
DAP/LMA menilai dengan tumbuhnya sawmill dimana–mana di Kabupaten Nabire ini juga ada yang bekerja dengan mematuhi aturan.  Tetapi ada yang tidak mematuhi aturan yang berlaku. Dengan demikian akan merugikan masyarakat pemilik hak ulayat dan juga pemerintah dari sisi pendapatan sebagai pajak dan retribusi bagi daerah.
Diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama DAP/LMA akan turun lapangan untuk mengecek penggergajian kayu yang ada di hutan–hutan di lima distrik ini.  Tetapi juga mengecek para pemilik sawmill, serta akan meminta semua ijin–ijin yang selama ini digunakan. Karena jika hutan dibiarkan terus dapat dipastikan 5 sampai 10 tahun lagi kita akan terbawa erosi banjir.
Selain itu, Dinas Kehutanan dalam memberikan ijin haruslah dikoordinasikan dengan LMA.  Karena hutan itu milik masyarakat adat berdasarkan Undang-Undang (UU) nomor : 21 tahun 2001 tentang Otsus.  Dan selama ini adanya penebangan kayu di hutan tidak pernah dipikirkan penanaman kembali hutan yang telah dirusak itu.(des)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2