Bangkit Bersama Kelola dan Tangani Sampah, Wujudkan Nabire Bersih dan Sehat

NABIRE - Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2013 dengan mengangkat motto “Ubah Perilaku dan Pola konsumsi untuk Selamatkan Lingkungan” merupakan dasar berpijak kita semua warga masyarakat Nabire untuk mewujudkan Nabire  Bersih dan Sehat, “demikian ajakan Tim Kerja Pengelolaan Terpadu Wilayah Nabire, Aswadi Hamid yang disampaikan kepada Papua Pos Nabire disela-sela kegiatannya mengikuti Workshop Inisiasi Kampanye Kebanggaan Hiu Paus dalam kawasan TNTC di Aula Bappeda (1/6/2013).


“Salah satu perilaku yang harus kita ubah yakni mengelola dan menangani sampah, khususnya sampah Rumah Tangga Pribadi. Bagaimana tidak ? Sampah bisa memberi dampak dalam kehidupan kita. Kalau kita menggunakan barang-barang yang menyisakan sampah, khususnya sampah plastik dan membuangnya sembarangan, akan berakibat besar bagi kehidupan  masyarakat karena dapat mengganggu kesehatan menimbulkan penyakit serta mengganggu kenyamanan dalam pandangan dan segala aktivitas,“ ungkap Aswadi Hamid.
Terangnya, sampah merupakan materi atau zat, baik yang bersifat organik maupun anorganik yang dihasilkan dari berbagai aktifitas manusia, baik dalam rumah tangga, perkantoran, maupun kegiatan komersil lainnya.
Imbuhnya, akibat penanganan sampah yang tidak tepat dan ditambah kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan, menjadikan sampah sebagai salah satu masalah lingkungan di kabupaten Nabire yang kita cintai ini yang dapat menimbulkan penyakit serta mengganggu pandangan seperti yang ada di Kompleks Pasar Terminal Oyehe, Pasar Karang Tumaritis, Pantai Maf yang merupakan Objek Vital yang berada ditengah-tengah kota Nabire.
Sebagai Ilustrasi, Aswadi Hamid menggambarkan bahwa Penduduk Kabupaten Nabire saat ini adalah 120, 797 Jiwa (data BPS, Tahun 2012).  jika 1 orang penduduk menghasilkan 1 kantong sampah maka untuk sehari bisa mencapai 120 kantong sampah dan sebulan sebanyak 3600 kantong sampah, bisa dibayangkan bagaimana mengelolanya selama beberapa tahun silam, namun jika sampah – sampah tersebut dapat di daur ulang dan dikelola secara baik maka  jumlah sampah di kota Nabire dapat sedikit ditekan.
Menurutnya, penyumbang utama sampah adalah sampah rumah tangga, disusul pasar, warung makan, tempat komersil lainnya, perkantoran, pendidikan dan lainnya. Tumpukan sampah yang menggunung selain merusak keindahan, juga menimbulkan bau tidak sedap yang akhirnya dapat menjadi sarang penyakit.
“Melihat bahwa penyumbang utama sampah adalah sampah yang berasal dari rumah tangga, maka peran masyarakat dalam menangani sampah sangat diperlukan. Agar berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh sampah dapat dikurangi,” tegas Aswadi Hamid
“Kini saatnya untuk membuang sampah pada tempatnya. Di mulai dari diri sendiri, dan tularkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya pada seluruh teman maupun kerabat. Hidup bebas sampah, hidup berkualitas,” pungkasnya. (iing elsa)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2