Warga Tigi Barat Meriahkan HUT ke-10

WAGHETE – Warga Tigi Barat memeriahkan HUT ke-10 yang dimekarkan dari Kabupaten Paniai pada tahun 2008 silam. Kegiatan HUT yang dilaksanakan di Lapangan Kantor Distrik Tigi Barat, tanggal 19 September lalu berjalan aman dan sukses.


Dalam sambutannya, Kepala Distrik Tigi Barat, Fransiskus Bobii mengatakan, kita berkumpul disini untuk merayakan hari ulang tahun berdirinya Pemerintah Distrik Tigi Barat setelah dimekarkan dari Kabupaten Paniai pada tahun 2008 lalu.
Berbicara soal umur, berarti semakin bertambahnya daya dalam proses pertumbuhan secara fisik maupun mental. 10 tahun memang boleh dikatakan masih seumur jagung atau masih kecil, tetapi manusia suku Mee di Tigi Barat ada sejak sepanjang masa semenjak penciptaan manusia.
Berbagai persoalan hidup telah dan akan melilit kita. Proses pembangunan berjalan terus, daya manusia terkuras dalam kemajuan modernisasi ini. Kini, kita simak saja begitu cepatnnya proses perubahan, yang dulu kita berjalan kaki, kini bisa naik kendaraan, bahkan hingga ditempat tidur. Inilah dinamika perubahan yang sangat signifikan.   
Seiring perubahan ini pula, pemerintah tidak tinggal diam atas keperihatinan yang dirasakan oleh Warga. Tugas pemerintah adalah mempersiapkan sejumlah sarana/fasilitas umum seperti jalan, jembatan, gedung sekolah, Puskesmas dan sarana lain. Pada hari ulang tahun ke-10 tanggal 19 September 2017 ini, pemerintah Distrik Tigi Barat telah berupaya menghadirkan penerangan yang akan dikerjakan dalam waktu 3-4 bulan mendatang. 
Lanjut kepala distrik, pembangunan listrik desa adalah wujud nyata langkah maju untuk melayani masyarakat. Agar bisa hidup dalam terang listrik. Kalau dulu, belajar dengan mengunakan bambu kering, (idee pito, ida pito) tetapi kini kita berjuang agar adik-adik kita terus berjuang dan belajar dengan lampu sehingga dunia Tigi Barat semakin maju.
“Sejak tanggal 16 Februari 2017, saya bersama staf Distrik Tigi Barat telah berupaya menanam sejumlah pikiran baik secara pribadi maupun secara kelompok dan umum. Berbagai pendapat atau cara ini lebih mengedepankan terutama dalam membinaan mentalitas warga, dalam berbagai bentuk ajakan ataupun seruan moral baik di bidang keagamaan, bidang pendidikan, bidang kesehatan dan bidang ekonomi,” terangnya.
Mengapa kami lebih pada membangunn pemahaman? Lanjut dia, sebab untuk merubah diri dan wilayah harus dimulai dari sikap dan perilaku setiap orang. Untuk merubah keluarga dan lingkungan tidak bisa oleh orang lain atau pemerintah, tetapi utama dan terutama harus dimulai dari diri kita sendiri.
Hendak mengetengahkan kondisi umum warga Tigi Barat di beberapa bulan terakhir bahwa kita diterlenakan oleh sejumlah musibah yang datang secara mendadak atau tak berkompromi. Termasuk musibah luapan Danau Tigi adalah bagian tantangan yang mesti kita hadapi dengan iman. Jangan kita biarkan kondisi ini menguasai kita akan tetapi kita harus berjuang melawan kondisi ini dengan kegiatan yang dapat meningkat semangat kerja kita.
“Beberapa agenda pembangunan telah kita jalani bersama, sejak saya kembali memimpin di wilayah ini. Pertama penanaman pohon dilingkungan tempat-tempat umum, adalah wujud nyata kepedulian pemerintah dalam membangun relasi yang amat sangat erat dengan leluhur dan lingkungan. Banyak warga telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Sebagai bukti nyata pemerintah dalam mendukung proram gereja, yakni Owada (pagar hidup). Pemerintah Distrik Tigi Barat serius menaruh perhatian terutama pada pembangunan SDM. Karenanya hampir setiap kesempatan mencari solusi terkait dengan pendididikan. Sebab paham kami, tanpa pendidikan dunia ini akan jadi gelap,” terangnya lebar.
Ajaknya, marilah kita bersama memberikan ruang yang besar untuk membangun dunia pendidikan baik pendidikan formal dan juga pendidikan informal. Proses hidup telah kita lalui bersama, baik dalam suka dan duka adalah bentuk upaya kita bersama dalam menentukan masa depan Tigi Barat warga kita.
Satukan barisan, membangun diri dari keluarga, lingkungan, gereja/agama, budaya kita, kesehatan kita, ekonomi kita untuk menentukan masa depan yang cerah. Sebab hidup masa lalu kita sudah lalui, atas dasar pengalaman proses hidup masa lalu menjadikan pengalaman untuk membangun masa depan  Tigi Barat yang lebih baik dan maju.
Pada kesempatan ini marilah kita bergandeng tangan mendoakan atas pembangunan listrik desa ini. Semoga dalam pekerjaan ini dapat diselesaikan tanpa kendala. Diharapkan kepada semua pihak untuk menjaga keamanan dalam proses pembangunan tiang dan gedung mesin PLN ini. Semoga pada bulan Desember mendatang listrik bisa menyalah dapat dinikmati oleh masyarakat kita. “Akhirnya saya atas nama Pemerintah Distrik Tigi Barat menyampaikan Dirgahayu yang ke-10 tahun 2017 berjalan aman dan tertib,” imbuh Frans. (ris)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2