Ada Kesamaan Budaya Suku Mee dan Wate

NABIRE - Sekertaris Distrik Yaro, Melianus Nawipa, S.Pd mengatakan, saat Festival Seni dan Budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olah raga dan Parawisata Nabire sejak 17 hingga 21 September 2013, terlihat adanya kesamaan budaya antara Suku Mee dan Wate.

 

Ada kesamaan budaya 80 persen dan yang tidak sama ada 20 persen. Hal ini terlihat ketika dirinya meminta Kampung Wanggar Pantai mewakili Distrik Yaro untuk mengisi stand pameran Distrik Yaro.  Di sana terlihat ada kesamaan budaya antara Suku Mee dan Wate. Karena saat pameran sebagai Suku Mee dengan teliti melihat apa yang dipamerkan saudara dari Suku Wate ternyata tidak begitu jauh dengan Suku Mee.

Menurut tokoh adat Suku Wate wilayah Wanggar, Niko Money, semenjak tahun 1945 pada saat Indonesia Merdeka sampai tanggal 17 September 2013, barulah pemerintah Kabupaten Nabire belum mengenal adat Suku Wate. Setelah 17 September barulah kita mengenal budaya semua suku yang ada di Kabupaten Nabire lewat Festival Seni dan Budaya yang berlangsung selama 5 hari di taman Gizi Nabire.

“Sebagai sekertaris Distrik Yaro berjanji akan memberikan dukungan kepada semua lapisan masyarakat Distrik Yaro agar pada Festival Seni dan Budaya 2014 nanti juga didorong atau didukung oleh semua lapisan masyarakat. Karena lewat festival ini kita bisa saling mengenal satu sama lain antara budaya kita orang Nabire,” kata Melianus Nawipa, S.Pd kepada Papuapos Nabire, Minggu (23/9) di seputar Kelurahan Morgo.

Dan perlu dipahami oleh pemerintah Kabupaten Nabire, dengan Festival Seni dan Budaya kita dapat meningkatkan dan menggali agar budaya semua suku menjadi satu. Dan menjadi aset penting masyarakat Nabire yang bisa dijual ke luar sebagai income PAD tetapi juga sebagai pendapatan untuk ekonomi masyarakat.

Sebab lewat festival ini Suku Mee tahu bahwa kesamaan dengan Suku Wate adalah makanan tradisional, musik bambu (kaido), korek api tradisional dan yang lainnya. “Yang membedakan kami dan Suku Wate adalah pakaian tradisional dan lain-lain secara khusus untuk Suku Mee dan Wate,” tuturnya. (des)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2