LPMA SWAMEMO Berharap Segera Tuntaskan Persoalan Degeuwo

NABIRE – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat (LPMA) Suku Wolani, Mee dan Moni (SWAMEMO) berharap agar persoalan yang terjadi di lokasi pendulangan emas Degeuwo, segera dituntaskan. Agar semua pihak yang berkepentingan di lokasi pendulangan ini, baik itu masyarakat, perusahaan hingga pemerintah daerah bisa mendapatkan manfaat dari pngelolaan sumber daya alam tersebut.


“LPMA SWAMEMO sudah berjuang kurang lebih tujuh tahun untuk menuntaskan persoalan yang terjadi di lokasi Degeuwo. Dan sejauh ini belum ada solusi baik itu dari pemerintah Kabupaten Paniai, Pemda Nabire maupun para pengusaha yang ada di lokasi itu. Karena persoalan belum dituntaskan sehingga SWAMEMO terus melakukan identifikasi dan advokasi,” ujar Thobias Bagubau, Ketua LPMA SWAMEMO saat bertandang ke redaksi, Rabu kemarin.
Terkait persoalan Degeuwo, Thobias mengklaim bahwa pihaknya punya data dan dokumen. Berbicara soal Degeuwo, lanjut Thobias, pihaknya tidak bicara asal-asalan dan juga bukan untuk meminta makan.
“Kalau investor yang masuk benar-benar mau kerja berarti harus ada kesepakatan-kesepakatan khusus antara masyarakat, pemerintah dan lembaga SWAMEMO dengan perusahan. Sehingga kedepannya jangan sampai ada masalah,” tuturnya.
Menurut penilaian Thobias, pengusaha yang masuk ke wilayah Degeuwo itu tidak mau berkoordinasi dan tidak melakukan kesepakatan-kesepakatan dengan lembaga SWAMEMO. Para pengusaha datang langsung masuk ke masayarakat awam, dan ini dinilainya langkah yang keliru.
“Saya selaku Ketua SWAMEMO meminta kepada perusahaan-perusahaan yang sudah ada maupun yang punya rencana beroperasi di Degeuwo, harus lewat lembaga Swamemeo. Karena lembaga ini membantu masyarakat adat juga bermitra dengan pemerintah Paniai maupun Nabire,” ujar Thobias.
Thobias juga meminta kepada Bupati Paniai, Bupati Nabire, dan pemerintah provinsi untuk menyelesaikan persoalan Degeuwo dalam waktu dekat. Diharapkan untuk segera mengagendakan duduk sama-sama dengan Swamemo yang sudah sah berdiri sehinga kita bisa bicara solusi kedepan.
“Persoalan Degeuwo itu masalah aset kekayaan alam, kalau Paniai membiarkan baru sumber PAD ini Paniai akan makan dimana ? Bupati Paniai harus pikir baik, ada Swamemo untuk negosiasi untuk cari solusi yang baik,” katanya.
Pada kesempatan itu, dirinya juga berharap agar aparat penegak hukum dalam hal ini Kapolres Paniai dan Kapolres Nabire untuk membantu Swamemo untuk menyelesaikan masalah Degeuwo.
“Saya percaya bahwa Kapolres Nabire dan Kapolres Paniai punya hati yang baik, kami dukung apa yang dia bantu kami, kami harap Kapolres bantu kami. Jika ada beberapa organisasi yang mengatasnaman, kalau mereka bicara untuk kepentingan umum itu boleh. Tetapi kalau untuk kepentingan sesaat harap jangan dibantu,” katanya.
Ditegaskan kembali, LPMA SWAMEMO memperjuangkan untuk masyarakat adat sejak 2007 itu ada beberapa persoalan-persoalan yang sedang terjadi di Degeuwo. Pihaknya juga sudah lakukan advokasi di Jayapura, Jakarta, dan juga melakukan pertemuan dengan instansi terkait. Tujuannya, agar bagaimana daerah ini kita mengatur kembali. (ros)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2