Peluncuran Buku “Mati atau Hidup” dan Diskusi Panel

NABIRE – Sabtu (16/11) bertempat di aula DPU Nabire digelar peluncuran buku yang berjudul "Mati atau Hidup" Hilangnya Harapan Hidup dan Hak Asasi Manusia di Papua yang ditulis oleh Markus Haluk. Selain peluncuran buku, juga dilakukan diskusi panel terkait isi buku tersebut.


Diskusi panel dengan pembicara utama Markus Haluk sebagai penulis buku, didampingi panelis lain seperti Yones Dou, Hagar Aksamina Madai, Marselus Gobay dengan moderator Yeremias Degei.
Saat diskusi panel Markus Haluk menyampaikan sejumlah persoalan yang terjadi di Tanah Papua. Terlebih khusus terjadinya pelanggaran HAM di Tanah Papua ini. Pada kesempatan itu, Markus Haluk juga menyampaikan sejumlah ancaman terhadap orang Papua. Diantaranya, kata Markus, terlebih khusus di daerah perkotaan, kini orang Papua lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan orang pendatang.
“Orang Papua kini semakin tersisih dan tidak berdaya. Dan ini ancaman bagi kita orang Papua,” tutur Markus.
Tak hanya itu, lanjut Markus Haluk, hingga saat ini pemerintah belum menyelesaikan persoalan di Tanah Papua dengan baik. Penembakan masih terus terjadi, dan kita bertanya, masih adakah ruang untuk orang Papua berekspresi ?
“Kalau kita tidak sadar ini akan berbahaya, 10 tahun kedepan kita tidak bisa seperti sekrang ini. Ancaman ini yang menjadi tanggung jawab kita bersama,” tuturnya.
Sementara itu, Yones Dou berkomentar, dirinya sangat mengapresiasi dengan terbitnya buku ini. Kata Yones Dou, menadi tuan di atas negeri sendiri ini harus dipahami dengan baik. 
“Dengan menuulis buku itu bukti menjadi tuan di atas tanah sendiri. Kita lawan Jakarta dengan tulis buku. Saya sampaikan terima kasih kepada Pak Markus Haluk karena dengan tulisan ini akan bermanfaat bagi generasi kita,” tutur Yones.

Sekapur Pinang dari Penulis

Tahun-tahun penuh darah. Kekerasan dan penembakan oleh aparat keamanan terus tak terbendung lagi. Suara kritis dan aksi damai diancam dengan todongan senjata dan tembakan.  Korban berjatuhan dan duka selalu menyelimuti rakyat Papua. Kematian begitu besar mengancam dan hidup menjadi harapan terakhir orang-orang Papua.
“Mati atau Hidup” dipakai sebagai judul untuk memaknai situasi hak asasi manusia yang terjadi di Papua selama empat tahun, 2008-2012, yang ditujukan kepada siapa pun dan dimana pun yang peduli dengan persoalan hak asasi manusia Papua. Hal ini juga mengundang makna suatu kondisi dari ketidakberdayaan, antara mati atau hidup.  Mati memang urusan Yang Maha Kuasa, namun di Papua mati menjadi urusan pemerintah melalui aparat keamanan. Dengan tuduhan separatis, polisi dan tentara bisa cepat melakukan pembunuhan. Lalu hidup ini, dianggap sebagai harapan untuk bangkit berjuang mengupayakan kehidupan itu sendiri.
Buku ini mengungkapkan berbagai gejolak dan peristiwa hak asasi manusia dari sumber-sumber terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan. Keunikan buku ini banyak mengungkapkan persoalan hak asasi manusia dari sumber langsung di lapangan. Orang-orang yang melaporkan hadir dan menjadi bagian dari korban kejahatan hak asasi manusia.  Untuk melengkapi data-data di lapangan, dipakai sumber dari publikasi-publikasi media massa, baik cetak maupun online, dari media yang terbit di Papua maupun media nasional di Jakarta. Sebagian besar, fakta-fakta dikumpulkan dari hasil advokasi di tempat kejadian atau lapangan.
Secara umum, bagian-bagian dalam buku ini menampilkan wajah duka dan buram. Pada bagian hak-hak sipil dan politik, peristiwa yang menjadi perhatian besar baik di Papua maupun tingkat nasional di Jakarta dan bahkan luar negeri adalah aksi-aksi protes damai dihubungkan dengan pendekatan kekerasan dari aparat keamanan. Para aktivis dan masyarakat sipil diancam, diintimidasi dengan tembakan senjata dan teror telepon dan SMS di telepon seluler. Para aktivis dikriminalisasi, dituduh separatis atau OPM dan teroris. Media internasional dibungkam, wartawan asing dilarang masuk ke Papua. Bahkan, mereka yang memiliki izin masuk ke Papua pun ditangkap, dilarang meliput, dan dideportasi. (ros)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2