Mantan Mendikbud RI Peduli SD St. Yoseph Putapa

NABIRE – Mantan Meteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Prof. Dr. Wardiman Joyonegoro, peduli terhadap keberadaan SD St. Yoseph Putapa. Kepedulian itu diwujudkan dengan memberikan bantuan berupa laptop dan perlengkapannya serta printer. Perlengkapan itu diserahkan oleh Ir. Asis Husein mewakili mantan Mendikbud RI, Prof. Dr. Wardiman, di Hotel Mahavira, kemarin.


Kepedulian seorang profesor terhadap pendidikan sekolah dasar (SD) terpencil untuk kemajuan di bidang pendidikan di daerah tertinggal, seperti SD YPPK St. Yoseph Putapa. Bantuan berupa laptop dan perangkat lainnya itu peruntukkan memperlancar membuat admintrasi sekolah itu.
Sebelum menyerahkan bantuan, mantan Mendikbud sempat bertanya kepada Yohanes Degei soal ketersediaan listrik, masalah trasportasi, pasar dan kemajuan pendidikan.
Dijawab Yohanes Degei, di sekolahnya ada genset namun terkadang hidup terkadang mati. Lanjutnya, pemerintah Kabupaten Dogiyai melalui Bupati Drs. Thomas Tigi dan Wakil Bupati Herman Auwe, S.Sos sedang berupaya, membuka isolasi daerah jalan keliling Mapia. Seperti Distrik Mapia, Mapia Barat, Piyaiye dan Sukikai Selatan. Sekarang alat berat sudah masuk sampai di Kali Mapia, Distrik Mapia Tengah.
“Sebelumnya warga menempuh jalan kaki selama dua hari untuk masuk ibukota Kabupaten Dogiyai. Jadi lima distrik masih belum ada akses jalan. Sedang lima distrik lain di Lembah Kamu Moanemani tak lama lagi bisa terjangkau. Ada 10 distrik 79 kampung jumlah penduduk seribu lebih,” jelasnya.
Yohanes Degei jebolan Fakultas Pendidikan Manado ini sudah mengabdi 6 tahun di SD YPPK Putapa. Dirinya menyampaikan terima kasih atas dukungan Prof. Dr. Wardiman yang kini menjabat sebagai Ketua Aretis se-Indonesia di Jakarta.
Bantuan ini awalnya dari pengiriman faksimili dari Yohanes kepada mantan Mendikbud ini, dan ternyata ditanggapi dengan serius. Peduli terhadap pendidikan di daerah terpencil karena pendidikan sangat penting. Karena di pedalaman dirinya mengabdi hanya bermodalkan semangat.
“Kebanyakan kami statusnya hanya guru tidak tetap. (GTT). Mencontoh sekolah kami masih menggunakan lantai tanah,” ujar Yohanes Degei. (donatus degei)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2