KONI Kumpulkan Pengcab, Rapat Digelar

NABIRE - Komite Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Nabire mengumpulkan seluruh Pengurus Cabang (Pengcab) olahraga, untuk selanjutnya menggelar rapat dan Standard Operasional Prosedur (SOP) diluncurkan.
Rapat yang dilaksanakan di Rumah Makan Selera, Selasa (19/2) malam, dipimpin Ketua harian KONI Kabupaten Nabire, Madyo Prayitno didampingi Ketua I Paul Mote, Ketua II Isak Mandosir dan Ketua III Herry Dirk Senandi serta sekretaris Amir Kadang dan Sigit Triantoro.


Rapat membahas 2 hal, yakni terkait Standard Operasional Prosedur (SOP) dan Pendampingan KONI bagi cabang olahraga (Cabor) yang mengikuti Kejuaraan daerah (Kejurda).
Dalam arahanya, Ketua Harian KONI Kabupaten Nabire, Madyo Prayitno mengatakan, disamping dua hal itu, KONI sengaja mengumpulkan Pengcab olahraga untuk menyikapi batalnya Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dan dirubah/diganti dengan Kejurda masing-masing Cabor.
“Kami dari KONI mengupulkan seluruh Pengcab, disamping hal diatas juga akan memperkenalkan SOP yang telah disusun oleh tim yang tujuannya agar Pengcab memahami hak dan keajibannya sehingga nantinya tidak saling mengharap,” ungkapnya.
Dikatakan Madyo, bahwa dalam bentuk kejuaraan itu ada 3 (tiga), pertama jalur Porkab, Porprov, PON dan selanjutnya Sea Games, Asean Games lanjut Olimpiade, dimana dalam hal pendanaan ini ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah. Kejurkab dilaksanakan setahun sekali, Kejurda dua tahun sekali, PON 3-4 tahun sekali dan Sea Games 4 tahun sekali.
Kedua, Kejurkab, Kejurda, Kejurnas dan Even Internasional. Masalah pendanaan Pemerintah dalam hal ini KONI sifatnya membantu, namun forsinya lebih besar yakni 80 % dan sisanya yang 20 % ditanggung Pengcab yang bersangkutan.Bentuk kejuaran seperti ini dilaksanakan tidak menggunakan kalender resmi tetapi lebih melihat kebutuhan masing-masing olahraga.
Ketiga, Open Tournament. Sama seperti bentuk Kejurda, pembiayaannyatanggungjawab Pengcab sedangkan KONI sifatnya membantu dengan forsi yang lebih kecil. Bila dalam Kejurda 80 % banding 20 &, maka dalam Open Tournament ini dibalik KONI hanya 20 % sedangkan yang 80 % tanggung jawab Pengcab.
“Saya menjelaskan ini agar Pengcab tidak berasumsi dan mengerti bahwa tidak semua bentuk kejuaraan pembiayaannya menjadi beban atau tanggung jawab KONI,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan Ketua KONI, dan tidak semua cabang olahraga harus mengikuti kejuaraan, mengingat sasaran dari kejuaraan adalah kesiapan atlet dan prestasi. Bila atlet belum siap lebih baik dana itu dipergunakan untuk melakukan pembinaan dan pelatihan dari pada harus memaksakan mengikuti kejuaraan karena hampir dipastikan tidak akan meraih apa-apa dan hanya akan menghamburkan dana.
Ditegaskan Madyo Prayitno, disinilah tugas inti kita, baik KONI maupun Pengcab yakni melakukan pembinaan terhadap para atlet guna kemajuan olahraga didaerah ini.
“Jangan hanya karena ada Kejurda atau even kejuaraan lain ribut melaksanakan pembinaan dan pelatihan. Pembinaan itu sudah seharusnya menjadi tanggung jawab pengcab, pelatihan harus dilakukan secara kontinyu, sehingga begitu ada even kejuaraan maka kita sudah siap,” tuturnya.
“Kita harus membangun komitmen untuk membina atlet masing-masing cabang,” tandasnya.
Menurutnya, satu hal tidak baik adalah mendatangkan atlet dari luar daerah guna mengikuti sebuah kejuaraan, karena model seperti itu sudah jelas hanya mencari kemenangan sesaat tanpa memikirkan jangka panjang atlet. Lebih baik berhasil membina dari pada juara/menang dengan mendatangkan atlet dari luar.
Tuturnya, perlu dipahami, seharusnya melakukan pembinaan dulu baru berprestasi, jangan dibalik, prestasi dulu tetapi pembinaan nol.Ini akan menimbulkan pertanyaan dimasyarakat, kapan membina dan latihanya tiba-tiba menjadi juara.Kita tentu akan lebih bangga menjadi pembina yang berhasil dibanding mencari kemenangan sesaat dengan atlet luar daerah. (iing elsa)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2