Anggota DPRP Temukan Sejumlah Proyek Tidak Berjalan

NABIRE - Hasil Reses Pertama tahun 2014 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi atau DPRP, Thomas Sondegau, ST, setelah bertemu dengan masyarakat SP I, II dan III Lagari Distrik Makimi yang menjelaskan kebutuhan masyarakat dalam bentuk aspirasi, menemukan sejumlah pekerjaan atau proyek yang tidak berjalan.


Setelah sehari sebelumnya mendengar langsung aspirasi masyarakat, Rabu (26/2), anggota DPRP Thomas Sondegau disertai sejumlah tokoh masyarakat meninjau langsung sejumlah proyek tersebut.
Thomas Sondegau melihat langsung pekerjaan sarana air bersih yang hingga kini belum juga mengalir, sementara pipa-pipa air juga ditemukan banyak yang putus. Padahal menurut keterangan dari masyarakat proyek untuk air bersih sudah tiga kali dilaksanakan, namun nyatanya hingga kini belum juga mengalir airnya.
Sementara masyarakat sampai saat ini masih menunggu kapan air bersih yang dibutuhkan setiap hari dapat berjalan.
Proyek lainnya adalah irigasi. Proyek itu juga sudah dilaksanakan namun hingga kini belum juga dapat digunakan.
Sesuai aspirasi masyarakat lainya yakni tentang perlunya normalisasi Kali Mirago. Pasalnya bila terus dibiarkan tanpa adanya normalisasi maka air apalagi saat banjir air akan terus menggerus pinggiran yang akan mengancam pemukiman penduduk dan lahan pertanian.
Untuk melihat kondisi Kali Mirago, Thomas Sondegau harus rela berjalan dengan telanjang kaki mengingat medan yang dilalui sangat sulit dijangkau kendaraan bahkan roda dua sekalipun.
Kepada Papuapos Nabire, Thomas Sondegau mengatakan, apa yang dikatakan oleh masyarakat tentang aspirasi yang disampaikan ternyata benar adanya.
“Setelah saya tinjau langsung dan melihat kondisi pekerjaan/proyek-proyek seperti air bersih misalnya hingga kini belum juga berjalan. Proyek itu sudah tiga kali dilaksanakan namun belum juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang nota bene-nya sangat membutuhkan air bersih. Jangankan air yang mengalir, disejumlah titik, pipa-pipa air itu sudah pada putus,” ungkapnya.
Imbuhnya, begitu juga dengan irigasi, hingga kini belum juga berjalan.
Sementara terkait dengan normalisasi Kali Mirago, Thomas Sondegau mengakui bahwa sangat penting untuk melakukan normalisasi kali itu karena bila dibiarkan akan mengancam pemukiman penduduk. Padahal disitu bukan hanya masyarakat transmigrasi saja, tetapi juga masyarakat asli Papua.
“Ini sangat perlu perhatian, bukan hanya pemerintah Provinsi Papua, tetapi juga harus menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Nabire karena menyangkut masa depan masyarakatnya,” katanya.
Ditegaskan Thomas Sondegau, setelah dirinya melihat langsung kondisi Distrik Makimi dengan sejumlah proyeknya, apa yang dirinya lihat akan dibawa ke Jayapura dan akan dilacak siapa kontraktor, konsultan serta pekerjanya.
“Ini baru di satu distrik, lalu bagaimana dengan distrik-distrik yang lain, mungkin tidak jauh berbeda dalam arti banyak pekerjaan yang tidak berjalan sehingga belum dinikmati oleh masyarakat. Di kabupaten-kabupaten lain juga barangkali tidak jauh berbeda. Yang jelas, saya akan bawa semua ini, kita akan telusuri semuanya, kita akan lacak bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu sampai tidak berjalan,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, anggota DPRP Thomas Sondegau, meminta kepada pemerintah Kabupaten Nabire dalam hal ini dinas terkait seperti PU untuk turun lapangan, melihat langsung kondisi masyarakat dan pekerjaan yang ada apakah sudah berjalan sesuai yang diharapkan atau belum.
Thomas Sondegau juga meminta kepada Dinas PU untuk dapat memilah-milah mana pekerjaan yang bersumber dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN.
“Dana yang turun kedaerah ini tidak sedikit, baik itu dari Provinsi, Pusat dan dari APBD kabupaten ini itu sendiri, tetapi ternyata masyarakat masih banyak yang belum menikmati kucuran dana itu, pekerjaan yang seharusnya sudah dapat dinikmati hasilnya tetapi hingga sekarang masyarakat masih berteriak,” ujarnya.
“Saya bukan hanya ini saja akan turun langsung di lapangan, saya akan terus berkeliling daerah utamanya di Dapil 3 (Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya dan Mimika) untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat, melihat langsung kondisi riil dilapangan untuk selanjutnya dibawa ke Jayapura, membahasnya dalam rapat DPRP dan memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Menelusuri dan melacak setiap proyek atau pekerjaan yang tidak belum atau dan tidak berjalan sehingga masyarakat belum dapat merasakan hasilnya,” pungkasnya. (iing elsa)

Add comment


Security code
Refresh

Ingin menulis artikel atau opini anda?

Segera kirimkan email ke alamat : redaksi[at]papuaposnabire.com
Tulisan anda akan kami muat pada harian Papuaposnabire

Makna Natal Bukan Dentuman Petasan
Kamis, 08 Desember 2016
HAMPIR setiap tahun bahkan terkesan menjadi sebuah tradisi bagi anak-anak dan remaja mengekspresikan perayaan Natal dengan keramaian petasan dan dentuman meriam rakitan. Di kota yang berbukit seperti Jayapura, kaum remaja menggemahkan dentuman...
Potensi Emas Alluvial, Elluvial di Nabire Belum Dimanfaatkan Efektif
Senin, 21 Maret 2016
Oleh : Marthen AgapaSEJAK lama daerah ini (Nabire) dikenal dengan kota emas, potensial dan daerah mineralisasi. Daerah lain bisa mengenal kota Nabire, karena potensi emas yang terkandung didalam perut bumi, tetapi kini tinggal simbol daerah tanpa...
BANNER TEST 280X200
YM: Redaksi 1
YM: Redaksi 2
Redaksi 1
Redaksi 2