Home Opini Tanaman Anggrek dan Potensinya Yang Terlupakan

Tanaman Anggrek dan Potensinya Yang Terlupakan

suroso  Selasa, 4 Agustus 2020 6:46 WIT
 Tanaman Anggrek dan Potensinya Yang Terlupakan

Oleh : Andrias Gobay S.Sos.,MA.

Noken Anggrek merupakan satu dari sekian banyak oleh – oleh khas Meepago (Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Intan Jaya).

Berkunjung ke wilayah adat Meepago, jika tidak membawa noken anggrek sebagai buah tangan sama saja tidak ke Meepago.

Menggunakan noken anggrek dalam aktivitas sehari – hari telah menjadi kebiasaan atau ciri khas warga Meepago.  

Noken dengan bahan baku tanaman anggrek adalah produk yang istimewa.

Tak banyak jenis tas yang menggunakan serat anggrek sebagai bahan bakunya.

Oleh karena itu, tanaman  anggrek  merupakan salah satu komoditi unggulan yang berpotensi menopang perekonomian masyarakat di distrik Mapia Barat dan Distrik Piyaiyem, Kabupaten Dogiyai.

Sudah saatnya pemerintah daerah mendorong pengembangan perkebunan anggrek, sehingga bahan baku akan selalu tersedia untuk meningkatkan jumlah produksi noken mengingat permintaan pasar yang meningkat.

Saat ini, ada 2 jenis pengrajin noken; yaitu para pengrajin yang mengambil tanaman anggrek begitu saja di hutan dan pengrajin yang mengambil bahan baku dari kebun anggrek yang dibudidayakan oleh warga setempat.

Terkait kebun anggrek, jika kita berkunjung ke wilayah adat Meepago, budidaya anggrek dapat dijumpai di halaman gereja atau pekarangan rumah warga.

Ada pula jenis anggrek hutan yang tumbuh di alam liar, jika anggrek jenis ini diambil untuk dijadikan bahan baku noken, tentu menjadi produk yang sangat istimewa dengan harga jual yang mahal – sebanding dengan tingkat kesulitan pembuatan.

Serat tanaman anggrek menjadikan noken memiliki kualitas yang bagus.

Noken anggrek adalah primadona di kelasnya.

Anggrek berwarna kuning dan hitam manis, dibuat dan dililit sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah noken yang cantik.

Noken dengan bahan baku yang cukup langka ini berasal dari Distrik Mapia Barat dan Distrik Piyaiye, Kabupaten Dogiyai.

Sebuah harapan terselip di hati saya, ketika menyusuri perkampungan di Kabupaten Dogiyai.

Saya berharap pemerintah daerah melirik potensi ini untuk dikembangankan.

Menurut saya kedepan perlu dilakukan budidaya tanaman anggrek hitam manis dan anggrek kuning.

Pemerintah perlu mendorong dan membekali pengrajin noken anggrek sejak usia dini.

Berikan pula pendampingan ataupun penguatan agar pekarangan – pekarangan rumah warga dipenuhi dengan tanaman anggrek. 

Jika perlu, buka lahan atau kembangkan lahan perkebunan anggrek, jadikan komoditi unggulan Kabupaten Dogiyai.

Jadikan budidaya anggrek sebagai pelung bisnis yang menjanjikan.

Disadari atau tidak, tanaman anggrek sangat dekat dengan kehidupan masyarakat asli Meepago.

Orang Papua kemanapun melangkah selalu mengenakan noken.

Banyak Anak Papua yang sedang menduduki posisi penting dan berhasil menjadi pejabat saat ini,  karena perjuangan mama – mama Papua yang mendidik dan menyekolahkan mereka hingga jenjang perguruan tinggi dari hasil berjualan noken.

Noken bukan hanya secara sosio-kultural dekat dengan kehidupan orang Meepago, bahan baku noken yakni tanaman anggrek pun layak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah.

Anggrek memiliki kelas tersendiri bahkan hingga tingkat nasional dan internasional.

Kenapa tidak kita mulai melirik anggrek untuk dibudidayakan, dijadikan simbol sekaligus komoditi. ***

suroso  Kamis, 23 Nopember 2023 23:29
Setelah Pemilu 2024 Apakah Akan Banyak Caleg Yang Masuk Rumah Sakit Jiwa
Dunia oh dunia, mungkin itu yang banyak dibahas oleh banyak Guru dan Ustadz ketika mengisi materi baik pembelajaran dikelas ataupun ketika dimajelis. Dunia memang terkenal sangat hijau, kenapa dibilang sangat hijau? Dikarenakan dunia itu sangat nikmat dan sangat menggiurkan bagi para manusia yang mengejar kenikmatan dunia.
suroso  Kamis, 3 Agustus 2023 0:39
Mafia Tanah Adat di Papua Harus Dilawan
Masyarakat adat telah hidup pada wilayah adatnya masing masing sejak leluhur tanpa saling mengganggu, pada waktu lalu upaya upaya penguasaan kadang berakhir dengan konflik fisik, namun harus diakui juga terjadi juga migrasi dari satu wilayah adat ke wilayah adat lain, karena konflik dalam keluarga atau saat perang hongi.dll.

Hahae

Tatindis Drem Minyak
suroso  Sabtu, 16 April 2022 3:53

Pace satu dia kerja di Pertamina. Satu kali pace dia dapat tindis deengan drem minyak. Dong bawa lari pace ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, pace pu kaki patah.

Setelah sembuh, pace minta berhenti kerja di Pertamina.

Waktu pace ko jalan-jalan sore di kompleks, pace ketemu kaleng sarden. Dengan emosi pace tendang kaleng itu sambil batariak "Kamu-kamu ini yang nanti besar jadi drem." 

Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan