Home Papua Tengah Kasus Kekerasan YD Terhadap MT Diselesaikan Secara Adat

Kasus Kekerasan YD Terhadap MT Diselesaikan Secara Adat

suroso  Rabu, 24 Nopember 2021 1:30 WIT
Kasus Kekerasan YD Terhadap MT Diselesaikan Secara Adat

NABIRE – Kasus kekerasan yang dilakukan oknum YD terhadap MT akhirnya menemui titik terang. Kedua belah pihak, korban dan pelaku beserta keluarganya masing-masing menginginkan penyelesaian dilakukan secara adat.

Permintaan tersebut untuk mencabut laporan Polisi (LP) dari korban dipenuhi Polres Nabire. Kapolres Nabire melalui Wakapolres Kompol Samuel D. Tatitatu bersama Kasat Rerse, AKP Alfian Ahmad, SIK, mediasi kedua belah pihak di aula Rastra Samara Polres Nabire, Jumat (19/11/21).

MT (28 tahun) mengatakan, dengan selesainya penyelesaian secara adat tersebut maka dengan sendirinya dirinya telah berpisah dari YD sebagai suaminya.

MT juga mengaku tidak akan mengungkit-ungkit lagi persoalan yang pernah terjadi. Apalagi LP yang pernah dilayangkan telah dicabut sehingga YD secara sah tidak menjadi suaminya lagi atau telah berpisah.

“Jalur damai ini dari saya sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun yang menginginkan untuk masalah ini diselesaikan secara adat dan meminta LPnya dicabut. Dan YD bukan suami saya lagi,” ungkap MT usai mediasi.

Perwakilan keluarga, Nikodemus Krisifu, menambahkan, pencabutan LP merupakan keinginan dan kerinduan dari korban MT. Sehingga keluarga hanya mendukung kemauan dari korban.

“Maka kami keluarga mendukung apa yang diinginkan korban,” tambah Krisifu.

Maka sebagai pihak dari keluarga korban, telah menerima denda adat yang diberikan oleh pihak keluarga DY.

“Maka dengan selesainya penyelesaian ini, saya harapkan tidak ada lagi masalah di luar. Cukup sampai disini, jika ada masalah yang timbul di kemudian hari maka itu bukan urusan kami,” pungkasnya.


Ini Penjelasan Kompol Tatiratu

 

Kapolres Nabire, melalui Wakapolres Kompol Samuel D. Tatiratu, SIK, didampingi Kasat Reskrim, AKP Alfian Ahmad, SIK dalam jumpa pers pada Jumat (19/11/2021) menjelaskan, keinginan dan keikhlasan untuk berdamai dari kedua belah pihak, tanpa ada unsur paksaan dari siapapun.

“Mereka ingin selesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan sehingga tidak berdampak luas mengenai Siskamtibmas maupun unsur lain,” jelas Kompol Tatiratu.

Menurutnya, pelaku YD juga telah mengakui perbuatannya dan menerima beberapa pernyataan yang telah disampaikan oleh pihak keluarga korban (MT).

Dalam point pernyataanya, selain adanya denda yang telah ditetapkan sebesar 1 miliar, ada juga pernyataan tentang apa saja hal yang sudah diberikan oleh YD, tidak dituntut balik dan telah disetujui oleh pelaku. Yang disaksikan oleh Polres Nabire, Kepala Suku Mee dan Kepala Suku Biak serta kedua belah pihak yang menginginkan persoalan cukup sampai di sini (berdamai).

“Pada intinya, kedua pihak sudah setuju untuk berdamai dan sudah menandatangani kesepakatan dari kedua belah pihak. Maka penyelesaian secara adat cukup sampai di sini dan tidak diteruskan secara hukum,” tutur Tatiratu.

Polres Nabire, kata Tatitaru, prinsipnya menerima apa yang sudah diputuskan oleh kedua belah pihak untuk berdamai. Artinya, penyelesaian adat dalam UU Otsus tentang peradilan adat telah ditempuh. Sehingga untuk administrasi penyidikan dan lainnya perlu dilengkapi.

Kemudian langkah bijak apa yang akan diambil oleh pimpinan Polres Nabire, maka diharapkan semua pihak menunggu hasil dari gelar perkara. Sebab peradilan adat telah ditempuh, sebagai bentuk kearifan lokal terhadap masyarakat Papua.

“Tinggal bagaimana langkah yang diambil pimpinan (Kapolres),” ungkapnya.

Kasat Reskrim, AKP Alfian Ahmad, SIK, mengatakan, langkah yang diambil selanjutnya adalah melengkapi administrasi dan mempersiapkan untuk gelar perkara yang disebut gelar perkara khusus. Mengingat kasus tersebut, kepolisian mengacu pada Parpol nomor tahun 2021, tentang penanganan tindak pidana berdasarkan keadilan restoratif.

“Jadi kami dari penyidik sedang mempersiapkan administrasi dan kelengkapan dokumennya. Lalu laksanakan gelar perkara khusus yang akan dihadiri oleh seluruh petinggi Polres Nabire,” pungkasnya. (tian)

suroso  Minggu, 10 Oktober 2021 2:8
Suara dari Kedalaman Jiwa
Dia mengakhiri sambutannya dengan penggalan kalimat : Selamat datang di Papua selamat bertanding. Tuhan berserta kita semua. Torang bisa. Wa wa wa. Hanya enam menit dia pidato sambutan Selamat Datang atas nama Gubernur Papua.
suroso  Minggu, 19 September 2021 22:52
Makna Dogiyai Bahagia Bagi Guru
*) Oleh Agustinus KegiyePada Jumat 3 September 2021, saya bersama 24 Guru sempat berdialog tentang Dogiyai Bahagia. Diskusi kami tentang mak

Hahae

Tanah milik KODIM dan POLRES
suroso  Rabu, 29 Januari 2020 1:16

  Ada Pace dua dong pasang Patok di dorang pu lahan. Pace yang satu de tulis : “Tanah ini milik KODIM”. Pace yang satu lagi tulis : "Tanah ini milik POLRES"

Satu kali begini, Komandan Kodim dan Kapolres yang baru menjabat pi lihat lahan itu dan truss merasa bertanggung jawab. Jadi masing-masing kerahkan dong pu anggota bersihkan lahan. Pas lahan su bersih dan rapi, Pace yang pu tanah datang ucap terima kasih.

“Adoo Bapa Komandan hormat… terima kasih su kasi bersih tong dua pu lahan… perkenalkan sa pu nama KOrneles DIMara.. disini dong biasa panggil sa KODIM. Sa yang pu lahan ini. Yang di sebelah tuu sa pu teman punya dia pu nama POLy RESubun biasa dong panggil dia POLRES

Populer

Suara dari Kedalaman Jiwa
suroso  Minggu, 10 Oktober 2021 2:8
Makna Dogiyai Bahagia Bagi Guru
suroso  Minggu, 19 September 2021 22:52
Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan