Home Nabire Tangisan Mama-Mama Papua Tengah Pecah, Ketika Pj Gubernur Serahkan Box Kontainer

Tangisan Mama-Mama Papua Tengah Pecah, Ketika Pj Gubernur Serahkan Box Kontainer

suroso  Selasa, 6 Februari 2024 0:8 WIT
Tangisan Mama-Mama Papua Tengah Pecah, Ketika Pj Gubernur Serahkan Box Kontainer

NABIRE - Sebanyak 80 unit box kontainer (rumah perjualan) dibagikan Dinas Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Pemberdayaan Masyarakat Kampung (Dispendukcapil, BPMK) Provinsi Papua Tengah kepada para pedagang mama-mama di Kabupaten Nabire, Sabtu (2/2/2024).


Proses pembagian secara simbolis yang dilakukan di Pantai Nabire, diserahkan langsung oleh Penjabat Gubernur Papua Tengah, Dr. Ribka Haluk, S.Sos.,MM. Di saat proses pembagian berlangsung, terlihat pemandangan berbeda saat itu, yakni mama-mama pedagang meneteskan air mata kebahagiaan.


Bantuan sederhana, yakni box kontainer yang kurang lebih 3 meter kali 2 meter diberikan pemerintah sangat berarti bagi mama-mama pedagang Orang Asli Papua (OAP). Pasalnya, selama ini mama-mama di Papua Tengah banyak terlihat berjualan tas noken dan pinang dipinggir jalan beralaskan terpal dan tenda sebagai payung.
Flora Nawipa salah satu penerima box kontainer berkata sebagai anak seorang perintis merasa kesal terhadap pemerintah. Mengapa tidak, ia sering dicemoh oleh orang yang berkata seorang anak perintis berjualan dipinggir jalan, namun tak diperhatikan pemerintah.


“Saya ini anak seorang perintis. Orang sering menyampaikan, kenapa tidak ada pemerintah memperhatikan kamu. Namun, saya hanya bisa diam dan berdoa. Dan hari ini Tuhan menjawab doa ‘Flora’ berkat kehadiran Mama Gubernur,” tuturnya.
Flora merasa bahagia berkat kehadiran Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang dimekarkan Provinsi Papua. Ia berkeyakinan pemerataan pembangunan akan terjadi dan berkeadilan.


“Apa yang dirintis oleh orang tua kami kini telah berbuah hasil, jalan-jalan telah bagus dan fasilitas publik mulai dibangun. Kini ‘Flora’ sudah tidak lagi kehujanan dan kepanasan dalam berjualan. Walau bantuan ini sederhana, namun bagi kami para pedagang tentu sangat berarti,” katanya.
Begitu juga Mama Letrince Weror, ia sebagai masyarakat yang tinggal di pesisir Nabire, menyuarakan curahan hati mama-mama pesisir atas perhatian Ibu Pj Gubernur terhadap para penjual pinang di pinggir jalan.


“Selama ini kami berjualan tanpa ada penghalang debu dan panas teriknya matahari. Saat ini kami bisa berjualan dengan nyaman, bahkan hasil dagangan yang belum terjual bisa kami simpan di box kontainer, ketika kami hendak pulang kerumah,” jelasnya.
Ia tidak ingin ada yang menilai bahwa bantuan ini hal yang biasa. Sebab, pagi para pedagang mama-mama Papua rumah jualan ini sangat berarti.
“Kami ini berjualan di pinggir jalan dan ini adalah doa kami setiap hari, agar ada bantuan rumah jualan bagi kami yang layak. Semoga bantuan ini tidak terhenti dan ibu Pj Gubernur bisa mendatangi dan melihat hasil rajutan pengerajin tas noken dan penjual pinang,” pungkasnya.


Sementara itu, seorang petani kopi Elimer Tekege yang mendapat bantuan mesin Grinder dan Sangrai Kopi untuk kelompok tani di Deiyai mengatakan bantuan mesin alat pertanian untuk kopi terakhir kali diterima dari pemerintah sejak tahun 1980an. Sehingga, bantuan ini menjadi salah satu yang berarti bagi para petani kopi.
“Kami Moenamani sudah sangat terkenal. Namun, kami berbeda dengan kenyataan kehidupan kami para petani. Bahkan produktifitasnya sudah tidak lagi baik. Kami berkeyakinan atas perhatian pemerintah ini, kedepan kami akan kembali menduniakan kopi moenamani,” katanya.


Ia menceritakan kendala bagi para petani kopi di Deiyai khususnya, yakni kurangnya keberadaan pupuk, teknologi dan minimnya lahan pertanian yang dibuka. Selain itu masih banyak para petani yang belum produktif dalam bertani.
“Besar harapan kami, bantuan-bantuan ini tidak berhenti. Kami perlu perhatian pemerintah khususnya dalam membuka lahan dan juga pendampingan. Keberadaan Kopi Moenamani harus dikembalikan,” katanya.


Penjabat Gubernur Papua Tengah, Ribka Haluk berharap seluruh masyarakat di Provinsi Papua Tengah untuk bekerja keras dan menekuni apa yang selama ini menjadi pekerjaan sehari-hari. Ia juga akan memerintahkan seluruh jajarannya untuk mendukung setiap usaha yang dimiliki masyarakat.
“Sumber daya alam kita sangat mumpuni, kita bisa memiliki lumbung pertanian sendiri. Kita tidak boleh membiarkan lahan kita tidur, mari kita garap, agar kita tidak lagi mengharapkan sumber bahan pokok dari luar Papua Tengah,” terangnya.


Ia berharap agar masyarakat bisa lebih produktif dan bekerja keras. Provinsi Papua Tengah komoditi unggulan dari sektor pertanian, seperti kopi Moanemani dan Kopi Paniai, sektor kelautan, perikanan dan peternakan.
“Kalau masyarakat produktif, saya bersama jajaran akan mencari uang untuk membantu masyarakat. Ayo kita membuat gerakan bersama dalam membangun Papua Tengah,” katanya.


Adapun bantuan yang diserahkan kepada masyarakat, yakni 2 unit mesin Grinder dan Sangrai Kopi, mesin giling dan pipil jagung dan 80 unit box container untuk pedagang mama-mama Papua Tengah, Nabire. Ribka Haluk juga memberikan bantuan, modal usaha bagi mama-mama Papua Tengah yang mendapatkan box kontainer.(rob)

suroso  Kamis, 23 Nopember 2023 23:29
Setelah Pemilu 2024 Apakah Akan Banyak Caleg Yang Masuk Rumah Sakit Jiwa
Dunia oh dunia, mungkin itu yang banyak dibahas oleh banyak Guru dan Ustadz ketika mengisi materi baik pembelajaran dikelas ataupun ketika dimajelis. Dunia memang terkenal sangat hijau, kenapa dibilang sangat hijau? Dikarenakan dunia itu sangat nikmat dan sangat menggiurkan bagi para manusia yang mengejar kenikmatan dunia.
suroso  Kamis, 3 Agustus 2023 0:39
Mafia Tanah Adat di Papua Harus Dilawan
Masyarakat adat telah hidup pada wilayah adatnya masing masing sejak leluhur tanpa saling mengganggu, pada waktu lalu upaya upaya penguasaan kadang berakhir dengan konflik fisik, namun harus diakui juga terjadi juga migrasi dari satu wilayah adat ke wilayah adat lain, karena konflik dalam keluarga atau saat perang hongi.dll.

Hahae

Tatindis Drem Minyak
suroso  Sabtu, 16 April 2022 3:53

Pace satu dia kerja di Pertamina. Satu kali pace dia dapat tindis deengan drem minyak. Dong bawa lari pace ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, pace pu kaki patah.

Setelah sembuh, pace minta berhenti kerja di Pertamina.

Waktu pace ko jalan-jalan sore di kompleks, pace ketemu kaleng sarden. Dengan emosi pace tendang kaleng itu sambil batariak "Kamu-kamu ini yang nanti besar jadi drem." 

Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan