Home Mimika Penyelesaian Bentrok di Mimika Belum Ada Titik Temu

Penyelesaian Bentrok di Mimika Belum Ada Titik Temu

suroso  Rabu, 28 Januari 2015 1:58 WIT
Penyelesaian Bentrok di Mimika Belum Ada Titik Temu
Jayapura,- Setelah menetapkan seorang tersangka, Kepolisian Resort Mimika bersama Pemerintah Daerah setempat terus mencari cara untuk menyelesaikan pertikaian dua kelompok warga di Timika, buntut dari penganiayaan berat yang menewaskan seorang warga bernama Kornius Karet (42), pada Sabtu (24/1) lalu.   Namun dalam pertemuan terakhir yang dimediasi Kepolisian dan Pemerintah Daerah di Aula Mapolsek Mimika Baru, pada Senin (26/1) malam dengan mempertemukan kedua pihak kelompok yang bertikai belum ada titik temu. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Patrige saat ditemui wartawan menegaskan, pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 5 jam itu dimaksudkan agar pertikaian tidak berlarut-larut. “Pertemuan ini sudah kesekian kalinya sejak adanya pertikaian awal. Nah, pertemuan yang dibuka Kompol Aronolis Korowa selaku Kabag Ops Res Mimika), juga menghadrikan Asisten 1 Pemkab Mimika,  Christian Karubaba, termasuk juga kepala suku dan perwakilan kedua pihak, baik dari keluarga korban maupun pelaku,” jelas Patrige, Selasa (27/1). Kepada kedua pihak, Asiten 1 Pemkab Mimika, Cristian Karubaba mengharapkan pertemuan tersebut akan membuahkan suatu keputusan bersama yang tidak merugikan keluarga korban maupun keluarga pelaku. Ia juga meminta masalah tersebut bisal diselesaikan dengan hati, sehingga membuahkan solusi. Pemkab Mimika juga menghimbau kepada kedua kubu untuk tidak menciptakan tindakan provokasi yang akan membuat masalah berkepanjangan.  Tak hanya itu, sambung Patrige, Pemerintah juga  meminta kepada kepolisian untuk menyikapi dan mengungkap pelaku utama sehingga transparan.  ”Para tokoh yang hadir sudah diingatkan untuk menempatkan masalah ini sesuai porsinya, sehingga tidak melebar,” kata Patrige. Menurut Perwakilan Keluarga Korban, Yusup Way, kedatangannya dalam pertemuan itu sekedar meminta itikad baik dari pihak pelaku untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin dan sekaligus untuk meminta pertanggung jawaban pihak pelaku atas meninggalnya salah satu anggota masyarakatnya, sehingga tidak berkepanjangan. Dalam pertemuan itu, pihak keluarga korban lainnya, Amos Nalauw menyampaikan beberapa tuntutan kepada pihak keluarga pelaku. Salah satunya denda ganti kepala sebesar Rp 1 Miliar. Ia juga mengusulkan agar masalah ini diambil alih oleh Pemkab Mimika.  “ Ada 4 poin tuntutan, dan mereka akan menyimpan jenazah korban di tempat sampai membusuk, apabila tuntutan tidak dipenuhi, termasuk meminta ganti rugi uang ticket perjalanan pulang pergi keluarga korban dari Maybrat, Sorong ke Timika,” jelasnya. Menanggapi tuntutan keluarga korban, Laurens Sanenti, perwakilan keluarga pelaku menegaskan pihaknya sudah menyerahkan sepenuhnya proses hukum pelaku terhadap pihak kepolisian untuk dilakukan tindakan hukum sesuai aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di NKRI. Laurens meminta kelonggaran waktu kepada pihak keamanan maupun keluarga korban, agar dirinya membicarakan terlebih dahulu dengan keluarga besarnya, terkait tuntutan keluarga korban.  “Jadi belum ada putusan dari pertemuan itu, sehingga Kabag Ops Polres Mimika yang memediasi menyarankan kepada pihak pelaku untuk berembuk terlebih dahulu terkait tuntutan keluarga korban sehingga jenazah korban tidak terlalu lama di simpan rumah duka,” tutupnya. (Syaiful)  
suroso  Rabu, 15 Mei 2024 16:13
REKRUITMEN POLITIK DI TANAH PAPUA
Tentu kita semua ketahui bersama bahwa Rekruitmen Politik untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan pemilihan kepala daerah. Untuk Papua tentu harus mendasari dengan ketentuan Pasal 28 ayat 3 dan 4 UU No 21 tahun 2001 jo UU No 2 tahun 2021 untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan pemilihan kepala daerah.
suroso  Kamis, 3 Agustus 2023 0:39
Mafia Tanah Adat di Papua Harus Dilawan
Masyarakat adat telah hidup pada wilayah adatnya masing masing sejak leluhur tanpa saling mengganggu, pada waktu lalu upaya upaya penguasaan kadang berakhir dengan konflik fisik, namun harus diakui juga terjadi juga migrasi dari satu wilayah adat ke wilayah adat lain, karena konflik dalam keluarga atau saat perang hongi.dll.

Hahae

Tatindis Drem Minyak
suroso  Sabtu, 16 April 2022 3:53

Pace satu dia kerja di Pertamina. Satu kali pace dia dapat tindis deengan drem minyak. Dong bawa lari pace ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, pace pu kaki patah.

Setelah sembuh, pace minta berhenti kerja di Pertamina.

Waktu pace ko jalan-jalan sore di kompleks, pace ketemu kaleng sarden. Dengan emosi pace tendang kaleng itu sambil batariak "Kamu-kamu ini yang nanti besar jadi drem." 

Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan