Home Nabire Pengantar untuk Dibawah Payung Kebhinekaan

Pengantar untuk Dibawah Payung Kebhinekaan

suroso  Selasa, 2 April 2024 22:52 WIT
Pengantar untuk Dibawah Payung Kebhinekaan

Oleh : Abdul Munib
Jagad benak manusia yang belum dewasa menyimpan kebhinekaan, dimulai dari terbelahnya dua konsep wujud dan konsep mahiah di dalamnya. Sementara di dataran realitas Jagad Khariji tak ada sesuatu pun kecuali Ketunggalan Wujud. Eksistensi tunggal. Ketuhanan yang maha Esa. Elektron adalah teori akal alam, Proton adalah teori akal kenabian dan Neoutron adalah dimensi Siruullah. Yakni sebuah realitas rahasia Ketuhanan yang maha Esa, yang sangat tebal, dengan kecuali Dirinya saja yang mengetahui.


Yang kemudian di abad 17 Masehi pola Ketunggalan wujud itu digambarkan dalam suatu gradasi oleh filsuf Mulla Sadra yang dikenal teori Tasykik Al wujud. Dia terilhami oleh kias atau perumpamaan cahaya, Mahiayatun Nur. Bahwa kedudukan cahaya berbanding identik dengan dekat dan jauhnya dari sumber cahaya.  Untuk itulah Sadra menemukan teori pasangannya, yakni Gerakan Substansi, Haraqah Al Jauhariyah. Bahwa substansi kita atau jiwa manusia ada dalam satu gerakan menuju sumber bersamaan dengan gerak agung semesta.


Pada titik ini lah dapat terfahami bahwa segala entitas yang terkait dengan ruang dan waktu, akan terikat oleh gerakan. Tuhan, Rasul, dan Wasi adalah satu paket dimana realitas mukmin wajib taat seratus persen kepadanya. Seperti dalam satu atom terdapat jagad kecil Neoutron, elektronik dan proton. Semesta pun demikian halnya, pusat-pusat galaksi adalah pusat pusaran super grafitasi yang menyedot kuat seluruh materi dalam orbit kedalamnya.


Artinya kebhinekaan adalah khas wujud zihni, alias eksistensi pemahaman dalam benak rasionalitas yang masih dipengaruhi besar oleh filsafat alam yang menebar aneka ragam yang  mereka sebut Mahiah Universal  Alami (sesuatu yang tercetak dibenak berasal dari alam). Mahiah murni atau esensi sebagaimana adanya dirinya, tak bisa dinisbatkan kepadanya ada maupun tiada.


Kebhinekaan yang biasa kita sebut, berasal dari proposisi mistisisme (irfani) yang diungkapkan Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma, adalah yang dikatakannya sendiri sebagai kebhinnekaan Non-Dharma. Mpu dalam proposisi berikutnya mengatakan: Tan Hana Dharma Mangrwa, kebenaran tak akan pernah bisa mendua.


Apakah yang dimaksud dengan entitas Non-Dharma itu, tidak lain dan tidak bukan adalah semesta dan semua yang terkandung di dalamnya yang berasal mula dari Sang Dharma itu sendiri. Di dalam pengertian lain yang memakai dikotomi Khalik (pencipta) dan makhluk (diciptakan), pengertian Non-Dharma adalah makhluk. Adanya makhluk tak lain dan tak bukan, adalah anugerah limpahan suci (faid al aqdas) dari Sang Suci yang maha sempurna. Oleh katenanya entitas makhluk dalam semesta bergantung seratus persen kepada sumbernya.


Sementara di jagad benak yang telah dewasa dan penuh oleh hikmat, seluruh dataran kebhinekaan itu tampak terkandung dan tertopang oleh Sang Tunggal Ika. Terjemahan bebas Bhineka Tunggal Ika yang paling saya sukai adalah, bahwa yang tampak berbeda-beda dalam segala dimensinya itu sesungguhnya Hyang Satu itu jua.
###


Dari sudut pandang kemanusiaan yang hanya bermodalkan rasionalitas, tercipta tiga tangga ilmu pengetahuan. Untuk yang paling bawah atau lapisan cangkang, adalah keilmuan fisika dan sejenisnya. Ini menyangkut semua hal yang dapat terindera, yang kepadanya dapat dilakukan metode penelitian empiris atau tajribah.


Di tengah ada kelompok ilmu matematika dan sejenisnya (musik, astronomi, aritmatika dan geometri). Ilmu ini berupa rumusan-rumusan yang ansih rasional. Empat tambah empat sama dengan delapan. Itu adanya di benak. Kalau ke alam fisika harus jadi benda, delapan kelapa atau delapan kelereng. Yang tangga ketiga adalah keilmuan filsafat dan sejenisnya seperti teologi, ontologi, irfan dan tasawuf dengan subjek bahasan metafisika.


Melalui kitab suci, Tuhan memberi tahu manusia tentang fisika di awal mula pertama ilmu astronomi. Bahwa dulu sekali bumi dan langit itu Rataq (satu) kemudian mengalami Fataq (keberserakan) kedalam ratusan miliar galaksi.  Kemudian ilmuan fisika mengandaikan adanya Big Bang, maka dibuatlah teorinya. Kemudian teori evolusi mengandaikan adanya evolusi kesadaran, dimana buyutnya Darwin yakni saudaranya bonobo, simpanse dan gorila dulu ada yang berevolusi. Dia punya akal rasional yang bisa menyusun ilmu pengetahuan dan teknologi. Itu hipotesisnya yang selama ini diyakini dan diajarkan pendidikan nasional kita.


Kitab Suci menyampaikan bahwa kesadaran yang menyaksikan ini telah ada sejak alam Alastu. Disana entitas kita masing-masing telah secara sadar berdialektika dengan Tuhan yang Maha Esa. Kepada kita masing-masing Tuhan bertanya, Bukankah Aku ini Tuhanmu (alastu birabbikum). Dan dijawab, Ya betul aku telah menyaksikan itu, bahwa Engkau memang Tuhanku. Kitab Suci memberikan informasi-informasi masa lalu manusia dan bumi tempatnya berpijak sebagai berita imanen. Dimana urusan ilmu pengetahuan dan teknologi ilmiah eksperimen mustahil memverifikasinya.


Mukjizat-mukjizat nabi terdahulu tidak terlepas dari kondisi-kondisi sejauh mana kesadaran umat berkembang dalam peradabannya. Di jaman Nabi Musa, umatnya ramai dengan capaian ilmu sihir, maka mukjizat (sesuatu yang melumpuhkan) berupa tongkat yang dapat menjelma menjadi ular.


Demikian pun kini ketika mukjizat nabi terakhir adalah berupa Ilmu Pengetahuan. Karena era kini ilmu pengetahuan yang berbicara. Sayangnya kebanyakan umat Islam dalam perjalanannya selama ini mengabaikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang justru berada di tangan kaum sekuler yang hendak mengalokir agama pada ranah privat semata.


Terlahirkan sebagai manusia adalah sebuah karunia terbesar memikul amanat akal, dengan kemerdekaan dan tanggung jawab. Terlahir sebagai manusia bersamaan dengan terbentangnya potensi diri dari maqam terbawah hingga teratas manusia.


Maka ketika manusia berhasil men-shutdown layar yang mensantir semua konsep selama ini dalam benaknya, lamat-lamat nampak bentuk kemaujudan sebagai realitas tuggal eksistensi, dimana Sang aku yang selama ini mengaku-ngaku adalah Sang Fana.


Tak ada satu pun yang dapat diklaim sebagai milik lantaran pemilik pun tidak ada kecuali Dia, Tuhan yang maha Esa yang tak punya Sekutu. Seluruh kemuliaan bersumber dari dekat pada-Nya, dan seluruh kehinaan bersumber karena jauh dari-Nya. Kepada entitas diluar jiwa nathiqah (rasionalitas) kepada mereka tak diterapkan konsep pahala-siksa. Di realitas mereka ada menjadi alat bagi mukminin atau menjadi alat untuk musyrikin, disitu gerbang mereka bertemu Tuhannya atau memutar jauh lagi berserak bersama debu kosmik lainnya.
###


Terakhir mari kita meletakkan beban sejenak dari segala efek materi dan layar benak yang terus menampilkan abstraksi resfektival, untuk mendengarkan suara hening kebersamaanNya dengan kita. Suara yang mempunyai kekuatan untuk menyeret keakuan ke dalam kawah leburan yang terbakar api spiritual murni. Hingga karat-karat ananiyah (ego) rontok.


Dengan Ramadhan yang mengasah ketajaman batin melalui rasa lapar. Terdeteksi disana bagaimana karakter hewan dalam diri kita berteriak meminta makan dan minum namun harus terkendali. Karena sudah ditentukan ada waktunya untuk itu semua dan semua orang harus dapat menahan diri. Si lapar itu adalah dimensi hewani kita.

Sementara benak kita yang telah menggambarkan aneka minuman dan makanan enak untuk buka puasa adalah wujud zihni tempat kebhinekaan diproduksi disana. Sementara di realitas tunggal kebhinekaan itu meredup dan musnah. Kebhinekaan ada bersama benak manusia menyantir ada dan apa dalam dua konsep.


Kebhinekaan yang dimiliki Indonesia berupa pulau-pulau yang berbeda. Adat-adat yang berbeda. Bahasa yang berbeda. Suku yang berbeda warna kulit yang berbeda. Semua perbedaan yang beraneka itu ada dalam satu hakikat Indonesia, dalam DNA Falsafah Pancasila.


Sila dalam Pancasila terdiri lima namun dalam satu kesatuan konsep Sila pertama, yakni Ketuhanan yang maha Esa sebagai konsep falsafah. Tuhan yang maha Esa ada dalam makna imanen masing-masing manusia, Bicara kebhinekaan pasti ujungnya adalah ketunggalan.


Untuk itu dalam diri kita harus ditemukan bashirah , mata batin atau pandangan qalbu. Dimana kebhinekaan akan direkam oleh akal dari alam yang beraneka ragam. Sementara pandangan batin dapat menembus realitas hakiki, berupa Ketunggalan yang tiada duanya.


Ada pribahasa Esa hilang dua terbilang. Esa itu eksistensi. Sejak adanya benak rasionalitas manusia dimulai lah yang kedua yaitu konsep apa (mahiah) setelah yang Esa konsep wujud dan seterusnya merangkai kebhinekaan. Frasa diatas identik dengan frasa Mulia Sadra : aspek yang melaluinya dia tampak identik dengan  yang melaluinya dia tersembunyi. Dia yang dimaksud wujud atau eksistensi. Bagaimana eksistensi itu mengindividuasi dalam kekhususan-kekhususan yang terbatas di alam semesta adalah fenomena rumit dan unik namun mengasyikkan dalam kelingan Ilmu Huduri. Teori Kehadiran.


Jadi kesimpulan atau konklusi dari itu semua adalah bahwa manusia sebagai pihak yang memulai awal mula kebhinekaan, berupa adanya konsep kedua mahiah (apa) dan seterusnya, harus mengakhirinya dengan Tauhid atau terbukanya kesadaran penyaksian ketunggalan. Sejenak ia hadir dalam penyaksian itu tapi tak hendak berekstase disana - melainkan dia turun kembali kepada kumpulan manusia untuk kemudian berbaur bersama mereka sampai akhir menutup mata.


Pada setiap zaman ada gembala, untuk melukis peradaban manusia dan selalu mewasiatkan keadilan setelah mengenal Tuhan. Maknanya yang kita hayati, dalam kehidupan nyata kita sehari-hari.***

suroso  Kamis, 23 Nopember 2023 23:29
Setelah Pemilu 2024 Apakah Akan Banyak Caleg Yang Masuk Rumah Sakit Jiwa
Dunia oh dunia, mungkin itu yang banyak dibahas oleh banyak Guru dan Ustadz ketika mengisi materi baik pembelajaran dikelas ataupun ketika dimajelis. Dunia memang terkenal sangat hijau, kenapa dibilang sangat hijau? Dikarenakan dunia itu sangat nikmat dan sangat menggiurkan bagi para manusia yang mengejar kenikmatan dunia.
suroso  Kamis, 3 Agustus 2023 0:39
Mafia Tanah Adat di Papua Harus Dilawan
Masyarakat adat telah hidup pada wilayah adatnya masing masing sejak leluhur tanpa saling mengganggu, pada waktu lalu upaya upaya penguasaan kadang berakhir dengan konflik fisik, namun harus diakui juga terjadi juga migrasi dari satu wilayah adat ke wilayah adat lain, karena konflik dalam keluarga atau saat perang hongi.dll.

Hahae

Tatindis Drem Minyak
suroso  Sabtu, 16 April 2022 3:53

Pace satu dia kerja di Pertamina. Satu kali pace dia dapat tindis deengan drem minyak. Dong bawa lari pace ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, pace pu kaki patah.

Setelah sembuh, pace minta berhenti kerja di Pertamina.

Waktu pace ko jalan-jalan sore di kompleks, pace ketemu kaleng sarden. Dengan emosi pace tendang kaleng itu sambil batariak "Kamu-kamu ini yang nanti besar jadi drem." 

Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan