Home Paniai Staf Sekretariat KPU Paniai Mengaku Kerja Berdasarkan Perintah

Staf Sekretariat KPU Paniai Mengaku Kerja Berdasarkan Perintah

suroso  Senin, 2 Februari 2015 16:21 WIT
Staf Sekretariat KPU Paniai Mengaku Kerja Berdasarkan Perintah
JAKARTA – Sidang kode etik KPU Paniai digelar, Jumat (23/1) pagi. Sidang berlangsung melalui video conference di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, dan Mapolda Papua. Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan keterangan dari staf sekretariat KPU Paniai Irwan. Pada sidang sebelumnya Rabu (7/1), dia absen dikarenakan sakit. Untuk diketahui, Yulius Degei, Yosef Degei, Yohanes Kudiai, Oktopianus Gobai mengadukan Ham Nawipa, Pilipus Tenouye, Penggesper Zonggonau, Fransiska Kadepa, Frederik Mote dan Irwan, masing-masing sebagai ketua dan anggota.Menurut Yulius, dirinya merasa kecewa terhadap penyelenggara Pemilu. Pasalnya, pada saat penetapan rekapitulasi suara tidak melalui pleno. Bahkan, dia menengarai ada pergeseran suara di tingkat kabupaten sehingga merugikan dirinya. Perolehan suara dia di tingkat PPS dan PPD aman. Tapi ketika rekapitulasi di kabupaten, malah jadi berubah.“Pada saat rapat pleno penetapan calon terpilih tidak ada komputer. Padahal, ini Pemilu Nasional. Waktu itu, katanya komputer rusak,” katanya.Irwan mengaku dia menjadi operator komputer sejak tahun 2003. Tugas pokoknya hanya operator komputer dan memfasilitasi kebutuhan KPU dalam hal administrasi.“Selama ini saya sebagai operator, bukan hanya bidang teknis. Di luar dari itu, saya tidak pernah melaksanakan tugas tanpa ada perintah dari atasan baik itu sekretararis KPU maupun KPU,” jelas dia.  Irwan pun membantah bila pada saat rapat pleno penetapan calon terpilih tidak ada komputer. Kata dia, yang benar adalah tidak ada slide atau tidak ada infokus. “Pada saat itu, ketua KPU tidak memerintahkan saya untuk memasang slide (infokus, red),” katanya. KPU Paniai Diduga Ubah Perolehan SuaraRekapitulasi suara mestinya melalui rapat pleno. Selain itu pelaksanaan rekapitulasi dilaksanakan di ibu kota kabupaten. Namun tidak yang terjadi di Kabupaten Paniai.Yulius Degei, Yosef Degei, Yohanes Kudiai, Ottopianus Gobai menyampaikan pengaduannya, dalam sidang kode etik KPU Paniai melalui video conference Mabes Polri-Mapolda Papua, Rabu (7/1). Pihak Teradu Ham Nawipa, Pilipus Tenouye, Penggesper Zonggonau, Fransiska Kadepa, Frederik Mote, masing-masing sebagai ketua dan anggota. Ketua majelis Valina Singka Subekti, berada di Mabes Polri dan anggota Tim Pemeriksa Daerah JJ Labelau, Ferry Karet, Sombuk Musa Yosep dan Robert Horik serta para pihak berada di Mapolda Papua. Menurut Yulius, dirinya merasa kecewa terhadap penyelenggara Pemilu. Pasalnya, pada saat penetapan rekapitulasi suara tidak melalui pleno. Bahkan, dia menengarai ada pergeseran suara di tingkat kabupaten sehingga merugikan dirinya.Perolehan suara dirinya di tingkat PPS dan PPD aman. Tapi ketika rekapitulasi di kabupaten, malah jadi berubah, ungkap mantan anggota DPRD Kabupaten Paniai itu.Rekapitulasi suara pun tidak dilaksanakan di ibu kota kabupaten. Teradu malah membawa suara itu ke Nabire dan Dogiyai. Dia yakin, para Teradu telah menyusun hasil perolehan suara di kedua daerah itu.Pada saat pengumuman hasil rekapitulasi suara melalui secarik kertas. yang lebih mengherankan lagi, Teradu mengumumkan perolehan suara tanpa teks. Seolah hafal di luar kepala, kata pria berkepala plontos itu.Selain itu, dia menduga telah terjadi bagi-bagi kursi kepada para caleg meskipun tidak memeroleh suara. Apakah ada aturan bahwa ada jatah-jatah KPU (pembagian kursi, red) meski tidak ada suara, kata caleg DPRD Kabupaten Paniai dari Dapil 3 Partai Persatuan Pembangunan itu.Tuduhan Yulius dikuatkan oleh Ottopianus, dan Yosep. Otopianus mengungkapkan bahwa KPU tidak terbuka dalam penetapan caleg terpilih. Dia pun merasa dirugikan karena dia memeroleh suara sebanyak 1111, tidak ditetapkan sebagai caleg terpilih. Yang terpilih justru caleg lain yang hanya memeroleh 1100 suara.Hal serupa dialami Yosep. Dia mengaku kehilangan suara. Dia memeroleh suara berdasarkan hasil penghitungannya di tingkat PPD sebanyak 2918 suara, namun rekapitulasi di kabupaten hasilnya 2023. Saya kehilangan 845 suara, beber dia.Sementara itu, Ketua KPU Paniai Ham Nawipa membantah terhadap semua tuduhan itu. Yang terjadi justru sebaliknya. Kesalahan dalam rekapitulasi suara terjadi di tingkat PPD. Kami sudah berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan rekapitulasi suara yang terjadi di tingkat PPD, katanya.Dia pun menyampaikan bahwa pada saat rapat pleno terbuka tidak ada keberatan dari pihak saksi partai, begitu juga dari Panwas. Keberatan terjadi pada saat penetapan caleg terpilih.  Sehingga berita acara tidak ditandatangani karena situasi keamanan yang tidak memungkinkan.Berbeda dengan pengakuan Frederik Mote. Dia membenarkan pengaduan pengadu terkait pengumuman hasil rekapitulasi suara dengan secarik kertas. Dia pun tidak menandatangani hasil pleno rekapitulasi suara.Hal serupa dengan Fransiska Kadepa. Sembari terisak-isak dan suara parau dia menyampaikan sebuah pernyataan secara tertulis kepada majelis. Dia mengaku tidak turut serta menandatangani hasil pleno rekapitulasi suara. Hal tersebut dilakukan mengingat situasi dan kondisi politik di daerahnya. (ist)  
suroso  Kamis, 23 Nopember 2023 23:29
Setelah Pemilu 2024 Apakah Akan Banyak Caleg Yang Masuk Rumah Sakit Jiwa
Dunia oh dunia, mungkin itu yang banyak dibahas oleh banyak Guru dan Ustadz ketika mengisi materi baik pembelajaran dikelas ataupun ketika dimajelis. Dunia memang terkenal sangat hijau, kenapa dibilang sangat hijau? Dikarenakan dunia itu sangat nikmat dan sangat menggiurkan bagi para manusia yang mengejar kenikmatan dunia.
suroso  Kamis, 3 Agustus 2023 0:39
Mafia Tanah Adat di Papua Harus Dilawan
Masyarakat adat telah hidup pada wilayah adatnya masing masing sejak leluhur tanpa saling mengganggu, pada waktu lalu upaya upaya penguasaan kadang berakhir dengan konflik fisik, namun harus diakui juga terjadi juga migrasi dari satu wilayah adat ke wilayah adat lain, karena konflik dalam keluarga atau saat perang hongi.dll.

Hahae

Tatindis Drem Minyak
suroso  Sabtu, 16 April 2022 3:53

Pace satu dia kerja di Pertamina. Satu kali pace dia dapat tindis deengan drem minyak. Dong bawa lari pace ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, pace pu kaki patah.

Setelah sembuh, pace minta berhenti kerja di Pertamina.

Waktu pace ko jalan-jalan sore di kompleks, pace ketemu kaleng sarden. Dengan emosi pace tendang kaleng itu sambil batariak "Kamu-kamu ini yang nanti besar jadi drem." 

Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan