Home Artikel MENGHAYATI TANAH SAKRAL DI DOGIYAI

MENGHAYATI TANAH SAKRAL DI DOGIYAI

suroso  Kamis, 18 Juli 2019 6:9 WIT
MENGHAYATI TANAH SAKRAL DI DOGIYAI

Oleh Ernest Pugiye

 

Dipanggil untuk menghayati hidup dari tanah adat kini tetap menjadi gerakan bersama bagi semua orang di Dogiyai. Agenda kemanusiaan ini sudah tentunya memperlihatkan misi keselamatan tanah sakral bagi eksistensi tanah adat milik masyarakat Mee di Dogiyai. Tanah adat Dogiyai mesti segera diselamatkan oleh setiap dan semua orang di Papua. Kita sudah mengetahui bahwa dalam tanah adat ini terletak tanah sakral. Tanah sakral inilah yang perlu diselamatkan. Keselamatnya justru berdampak positif pada keselamatan kita sebagai manusia seutuhnya. Maka realisasi misi keselamatannya mencakup keseluruhan eksistensi tanah adat termasuk tanah sakral yang ada di dalamnya. Misi keselamatan tanah sakralnya tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan keberadaan dan HIDUP tanah adat dan masyarakat adat Dogiyai. Karena, menurut pendapat saya, keselamatan tanah sakral ini sama dengan keselamatan mayarakat adat dan tanah adat Dogiyai. Mereka dapat akan hidup sebagai komunitas etnis bangsa Mee (Makodo Mee) jika tanah sakralnya diselamatkan. Jika tanah sakral dan adatnya diselamatkan, maka masyarakat adatnya juga tetap ikut diselamatkan bersama secara otomatis. Namun jika tanah sakralnya tidak dijaga dan diselamatkan, maka tanah adat dan manusia adanya di Dogiyai pun tidak akan pernah selamat dan diselamatkan. Jadi, menghayati dan memperjuangkan misi keselamatan tanah adat dan manusia ini sudah benar-benar merupakan undangan istimewa bagi setiap dan semua orang di Dogiyai. Meskipun tanah sakaral di Dogiyai menjadi ancaman serius para pengusaha pendatang dan para kapitalis, kita tidak boleh diam di tengah realitas masalah. Kita juga tidak boleh mencari kebebasan pribadi dan kelompok di atas realitas penderitaan tanah sakral, tanah adat dan penderitaan masyarakat. Dalam kondisi penderitaan masyarakat dan tanah sakral--beradat yang tidak manusiawi ini, kita sudah sebenarnya membutuhkan kebijakan-kebijakan preventif (pencegahan) guna menciptakan Dogiyai bahagia. Guna menciptakan keselamatan dan kebahagiaan tanah sakral, tanah adat dan masyarakat Dogiyai, pengambilan kebijakan-kebijakan pemerintah yang bersifat preventif masih dapat dibutuhkan segera. Untuk membantu menemukan kemungkinan adanya kebijakan preventif ini, setiap kita yang berada di Dogiya wajib perlu memahami dan menghayati tanah sakral dalam membangun Dogiyai bahagia. Maka itu, tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan diskusi lebih lanjut tentang tanah sakral yang sudah jelas berada dalam tanah adat bagi masyarakat Dogiyai. Trifungsi Sakralitas  Dalam upaya menemukan kebijakan preventif, kita membutuhkan pemahaman mendalam tentang tanah adat. Dipahami bersama bahwa tanah adat ini mencakup dimensi tanah sakral-kramat, sebagai mama, tanah sejarah, tanah warisan dan tanah milik komunitas serta dimensi tanah leluhur. Makna tanah adat yang mengandung berbagai dimensi ini sudah wajib perlu dihayati dan dihidupi bersama melalui kebijakan preventif. Satu kebijakan preventifnya atas eksistensi tanah adat secara keseluruhan ialah perlu adanya pengakuan bersama atas hak-hak kesulungan adat. Pengakuan ini disertai dengan menjaga tanah sakral di Dogiyai. Menjaga dan mengakui berarti tidak boleh membuat berbagai kebijakan pembangunan di atas dan di dalam tanah sakral. Tanah sakral bukanlah suatu alamat yang tepat sasaran bagi adanya berbagai proses kebijakan pembangunan pemerintah Dogiyai. Karena yang namanya tanah sakral itu tidak bisa dilepaskan dari tanah adat yang melahirkan keselamatan dan HIDUP yang baik dan bahagia kepada mereka. Demikian juga tanah sebagai mama, sejarah dan sejenisnya tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan integritas tanah adat secara eksistensial. Sebaliknya tanah sakral dan sejenisnya tidak dapat dipisahkan dari tanah adat. Kesemua dimensi tanah adat ini sudah tentunya menjadi tempat HIDUP Yang Baik bagi masyarakat Dogiyai. Eksistensi tanah adat dan sakral ini sudah semakin nampak jelas dalam relasi kasih yang tidak terbatas di antara mereka. Relasi kasih yang mengandung tindakan perealisasian HIDUP yang baik, menjadi tempat refleksi, memiliki iman yang berakar-beruratkan pada kesakralan tanah adat dan bertumbuh dalam budaya, melepaskan beban kehidupan dan menjadi sumber kebaikan pengetahuan adat yang membebaskan bagi mereka. Relasi keterikatan permanen antara ketegori-kategori dimensi tanah adat seperti ini bergerak maju kepada pewarisan tindakan mengakui dan menjaga kehidupan adat yang sejati, bahagia dan baik. Bahkan semua dan setiap masyarakat adat pun dipanggil untuk menghayati dan melaksanakan hidup yang kudus dan sempurna guna mengakui dan menjaga keberadaan kebahagiaan tanah adat, sakral dan masyarakat yang berkadar keselamatan adat. Secara konkret, adanya pengakuan kolektif atas eksistensial tanah sakral dari tanah adat ini hendak perlu dinyatakan dalam wujud tiga tugas utama dan pertama. Ketiga tugas kesakralan adat itu hendak perlu dilaksanakan bersama ke depan ialah menjaga, melestariakan dan mengelola tanah adat sebagai sumber dan puncak seluruh kehidupan komunitas mereka (komunitas masyarakat etnis bangsa Mee) di anah sakral. Menjaga tanah adat sebagai sumber kehidupan Karena hidup yang berpuncak dan bersumber dari tanah sakral itu teramat berharga dan bernilai, maka setiap kita termasuk pemerintah dan masyarakat dipanggil untuk menjaga tanah adat. Tanah sakral diakui sebagai tanah yang melahirkan keselamatan dan hidup bagi mereka dan generasi penerus bangsanya. Semua realitas komunitas tanah sakral dan adat tidak boleh dirusaki dan digusur melalui berbagai adanya kebijakan pembangunan pemerintah di Dogiyai. Tanah sakral bukan tempat sasaran utama pembangunan daerah. Ada hukum adat yang mengatakan bahwa “jangan menghina, mencuri dan membunuh tanah sakral”. Inilah dosa yang tidak bisa diampuni hanya jika pemerintah melanggar hukum adat melalui pengambilan kebijakan infrastruktur yang berisi menjawab kepentingan Jakarta. Hanya melalui menjaga tanah sakral, manusia entah siapaun pribadinya, dipanggil untuk tetap mau memperlakukan tanah sakral dan adat sebagai sumber dan puncak kehidupan kebaikan dan kebahagiaan Dogiyai. Maka dengan menjaga tanah sakral, setiap orang di Dogiyai sudah tentunya akan mengalami kebahagiaan dan keselamatan abadi. Kebahagiaan tersebut teristimewa terletak pada tindakan memperlakukan kesejatiaan dan kebahagiaan HIDUP masyarakat adat sebagai pemilik tanah sakral. Kesemua hal menyangkut tanah adat memiliki hak kepemilikah asasi adat kepada mereka sebagai pewaris tanah sakral. Mereka mutlak perlu mengakui dan diakui sebagai pewaris tanah sakral bagi masa depan generasi bangsanya. Karena kehidupan yang sejati, baik dan bahkan kudus hanya dapat diperoleh, dialami dan dilaksanakan oleh tanah adat dan tanah sakral sebagai sumber kehidupan. Tanah adat yang memiliki dimensi tanah sakral ini wajib perlu dijaga dan dilindungi bukan melalui adanya memperlancar proses pembangunan pemerintah di tempat-tempat tersebut. Bukan juga melalui adanya betapa pentingnya kebijakan pembangunan jalan, jembatan dan rumah serta persebaran penduduk illegal dari dunia seberang laut sana. Kesemua agenda serupa ini nampak jelas di luar makna, kebutuhan dan harapan serta manfaat dan tujuan uama masyaraka dan tanah sakral beradat. Namun tanah sakral dan tanah adat sebagai sumber kehidupan sudah senantiasa dijaga dan dilindungi sebagai suatu tindakan misi kemanusiaan dan kelamatan masyarakat adat untuk menciptakan Dogiyai bahagia. Dogiyai bahagia mau dapat tercipta secara konkret hanya jika tanah-tanah sakral dan tanah adat milik masyarakat adatnya dijaga dan dilindungi bersama sesuai penghayatan filosofi hidup mereka secara permanen terhadap kedudukan hukum sakralitas adat yang paling tertinggi. Demi menciptakan Dogiyai bahagia, perlindungan tanah adat dan tanah sakral sebagai sumber kehidupan tidak memiliki hubungan apa-apa dari semua kepentingan pemerintah dan para orang pendatang di Kabupaten Dogiyai secara khusus dan Meeuwodide secara umum. Berdasarkan ajaran hukum adat, tidak dapat membenarkan dan dibenarkan hanya jika pemerintah menggusur dan membongkar tanah-tanah adat dan sakral melalui berbagai cara dan tindakan kebijakan daerah dan pusat. Hukum sakralitas adat justru melawan kehendak baik pemerintah dalam konteks pembangunan daerah. Pembangunan daerah yang berisi fisik hanya merupakan realitas kematian bagi masyarakat adat. Berbagai sistem dan kebijakan pembangunan pemerintah, entah apaun bagusnya alasan pemerintah dan para orang pendatang, tidak dapat diakui dan diterima sebagai suatu kebenaran absolute demi keselamatan eksistensi manusia dan tanah adat-sakral di Dogiyai. Maka pemerintah dipanggil untuk mau bekerja sama dan berdialog budaya Mee dengan semua masyarakat adat untuk tetap mengakui dan mewariskan tanah adat dan tanah sakral mereka bagi generasi penerus bangsanya melalui adanya kebijakan pembangunan kemanusiaan adat. Melestarikan tanah adat sebagai sumber kehidupan Kita juga dipanggil untuk melestarikan tanah adat. Istilah melestarikan berarti memperbaiki eksistensi adat yang sudah dirusak, mengutuhkan yang sudah dipecah-pecahkan dan digusur dan mempersatuakan apa saja tentang tanah adat dan komunitas mereka yang sudah dipisahkan dan diputuskan melalui pembangunan daerah dan pekerjaan-perdagangan para pengusaha pendatang di Dogiyai. Tatanan kehidupan adatnya wajib perlu dipulihkan dari dasar warisan kebenaran adat. Dalam konteks ini, setiap kita, entah siapapun orangnya, dipanggil untuk memulihkan relasi yang rusak secara total antara manusia masyarakat adat dengan tanah adat, sakral dan dengan para roh leluhur yang berada di sana. Tanah sakral Dogiyai dibangun secara damai sebagai tanah yang memberikan kesuburan HIDUP sejati dan keselamatan eksistensi adat. Apa saja yang sudah berada sebagai hak-hak asasi kepemilikan komunitas masyarakat adat di atas tanah adat Dogiyai mesti perlu dikembangkan dan diperbanyak secara bertanggung jawab dan bijaksana untuk Dogiyai bahagia. Pemulihan relasi nilai-nialai adat seperti ini menandaikan tindakan pembaruan mental dan moral setiap orang yang hidup di Dogiyai dan Meeuwodide. Dalam arti mendalam, nilai-nilai keunggulan adatnya mesti perlu dilestarikan dan ditata baik secara sistematis bagi mereka untuk Dogiyai bahagia. Nilai-nilai kesakralannya yang terkandung dalam budaya dan tanah sakral orang Mee mesti perlu digali, dirumuskan kembali dan dipilih serta ditetapkan secara sistematis sebagai suatu peraturan khusus daerah dalam memaknai pembangunan kebahagiaan Dogiyai. Maka berdasarkan ajaran hukum adat, tanah-tanah yang sudah dibeli dan dijual habis mesti perlu segera dikembalikan kepada para pemilik tanah adat guna menciptakan Dogiyai bahagia. Dengan demikian, masyarakat mesti mau mengalami hidup yang sejati, bahagia dan baik dari kedaulatan tanah adat dan sakral. Oleh karena itu, mereka akan kembali melaksanakan makna hidup dari tanah adat dan sakral dan membangun diri mereka bersama pemerintah secara kudus, damai, adil dan komunikatif yang bergerak maju kepada kehidupan kebahagiaan Dogiyai. Mengelola tanah adat sebagai sumber kehidupan Hidup dari tanah dan bukan hidup dari uang dan perlu adanya keadilan kebijakan pembangunan sosial dari pemerintah merupakan hukum kebenaran adat bagi masyarkat adat di Meeuwodide. Generasi manusia Mee terdahulu sudah tentunya meletakkan warisan hidup yang kuat dari tanah, bukan dari uang dan bukan juga adanya berbagai kebijakan pembangunan pemerintah yang berkadar menjawab kepentingan Jakarta. Mereka telah merumuskan makna hidup dari kerja dan mengelola tanah adat secara bermartabat, adil dan damai. Mereka sudah menyatakan nilai kebenaran hidup dari hasil keringat. Mereka mengola tanah adat dengan berkebun, beternak dan membangunan rumah adat bahagia. Mereka sudah dan akan membuat keturunan yang paling panjang melalui adanya pernghayatan sistem perkawinan di tanah adat secara damai. Setiap masyarakat melalui semua kegiatan ini sudah tentunya menghidupi dan mewarisi hak-hak kepemilikan asasi adat atas tanah adat dan sakral. Maka itu, apa saja yang dilakukan dan diwairiskan di masa lalu menjadi modal dan pijak dasar bagi generasi orang-orang etnis Mee di masa sekarang dan ke depan. Atas dasar tiga tugas kekudusan ini, kita dipanggil untuk belajar lebih banyak kepada rahasia-rahasia para leluhur orang-orang Mee di masa lalu. Semua orang yang hendak hidup di tanah Meeuwodide kembali belajar kepada para pemikir orang-orang Mee dengan eksistensi tanah adat dalam pengertian yang paling mendalam. Agenda pembelajaran ini dapat dinyatakan melalui dialog budaya tentang tanah adat dan dengan masyarakat adat di Meeuwodide. Melalui agenda pelaksanaan dialog budaya secara damai dari kampung adat sampai ke level yang lebih tinggi, segala nilai, hukum adat, kebutuhan dan manfaat serta ciri-ciri tanah adat, pandangan-pandangan tanah adat, asal dan tujuan keselamatan mereka dalam semangat kesakralan tanah adat mesti perlu didiskusikan bersama. Hal dialog ini pada gilirannya akan membentuk pemahaman bersama bagi kita atas bentapa pentingnya mengakui tanah adat yang mengadung nilai sakralitas. Pembentukan pandangan sakralitas secara kolektif inilah, menurut pendapat saya, merupakan titik balik untuk menciptakan kebangkitan emansipasi dan pengembangan kedaulatan eksistensi manusia Mee dalam keberadaan tanah adat. Dengan demikian, Dogiyai bahagia dapat menjadi suatu kenyataan pengalaman hidup bersama sebagai komunitas masyarakat Mee dari realitas tindakan merealisasikan trifungsi sakralitas adat dalam berbagai aspek mendasar, meskipun harus dihadapkan dengan mantel-mantel kebijakan pembangunan yang berkadar menjawab kepentingan Jakarta dan melawan komunitas masyarakat minoritas dan lemah itu. Penulis adalah Guru SMA Negeri 1 Dogiyai dan Mantan STFT “Fajar Timur” Abepura.

suroso  Minggu, 10 Oktober 2021 2:8
Suara dari Kedalaman Jiwa
Dia mengakhiri sambutannya dengan penggalan kalimat : Selamat datang di Papua selamat bertanding. Tuhan berserta kita semua. Torang bisa. Wa wa wa. Hanya enam menit dia pidato sambutan Selamat Datang atas nama Gubernur Papua.
suroso  Selasa, 7 Desember 2021 8:1
Pentingnya Data Dalam Proses Pembangunan Daerah
DATA menjadi bagian terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Dari adanya data, seseorang dapat mengetahui beberapa informasi yang diinginkan. Seperti halnya dalam proses melaksanakan pembangunan. Pembangunan akan berjalan baik apabila didasari dengan ketersediaan data yang benar dan up-to-date. Data sendiri memiliki artian yakni sekumpulan informasi dari suatu hal yang diperoleh melalui pengamatan atau juga pencarian kesumber-sumber tertentu.

Hahae

Tanah milik KODIM dan POLRES
suroso  Rabu, 29 Januari 2020 1:16

  Ada Pace dua dong pasang Patok di dorang pu lahan. Pace yang satu de tulis : “Tanah ini milik KODIM”. Pace yang satu lagi tulis : "Tanah ini milik POLRES"

Satu kali begini, Komandan Kodim dan Kapolres yang baru menjabat pi lihat lahan itu dan truss merasa bertanggung jawab. Jadi masing-masing kerahkan dong pu anggota bersihkan lahan. Pas lahan su bersih dan rapi, Pace yang pu tanah datang ucap terima kasih.

“Adoo Bapa Komandan hormat… terima kasih su kasi bersih tong dua pu lahan… perkenalkan sa pu nama KOrneles DIMara.. disini dong biasa panggil sa KODIM. Sa yang pu lahan ini. Yang di sebelah tuu sa pu teman punya dia pu nama POLy RESubun biasa dong panggil dia POLRES

Populer

Suara dari Kedalaman Jiwa
suroso  Minggu, 10 Oktober 2021 2:8
Makna Dogiyai Bahagia Bagi Guru
suroso  Minggu, 19 September 2021 22:52
Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan