Home Artikel FILOSOFI TANAH SEBAGAI MAMA

FILOSOFI TANAH SEBAGAI MAMA

suroso  Kamis, 18 Juli 2019 6:9 WIT
FILOSOFI TANAH SEBAGAI MAMA

Oleh Ernest Pugiye

 

Refleksi tentang tanah adat sudah mendapat diskusi yang amat menarik di kalangan masyarakat dan pemerintah daerah di Dogiyai. Melalui dialog internal yang diprakarsai oleh kami anak-anak muda Dogiyai, diskusi tanah adat ini dilaksanakan semua mereka sejak 2 Januari hingga sekarang dari berbagai kampung sampai ke tempat Distrik di Dogiyai. Dalam diskusi terfokus yang kami sebut dialog internal tentang tanah adat ini nampak jelas dihadiri oleh banyak orang dari berbagai level. Ketika setiap kali dialog internal tentang eksistensi tanah adat, maka ternyata ada banyak ide cermerlang yang dibicarakan oleh mereka. Ide-ide seputar penyelamatan tanah adat sebagai mama sudah semakin hangat dibicarakan lebih mendalam ketika berhadapan dengan berbagai ancaman atas eksistensi tanah adat yang dalam sejarah di masa lalu sudah memberikan harapan KEHIDUPAN asli Mee bagi komunitas masyarakat Dogiyai. Kesemua ide cemerlang itu masih harus direnungkan lebih lanjut lagi  di masa sekarang untuk mempertahankan dan memelihara harapan HIDUP Yang Bahagia bagi generasi bangsanya. Hal ini menunjukkan suatu harapan baru bagi masa depan mereka. Harapan baru yang daripadanya tersimpan dan ditemukan rahasia kehidupan ‘Dogiyai Bahagia’ dalam sejarah bangsa Papua. Jadi, kesemua diskusi mereka tentang tanah adat melahirkan suatu pandangan “HIDUP Bahagia” yang mesti perlu dibangun bersama bagi masa depan bangsanya. Pembangunan HIDUP bahagia untuk masa depan generasi bangsanya mendapat kedudukan utama dan pertama pada penghormatan dan pengakuan tanah adat sebagai mama. Menurut filosofi manusia suku Mee, tanah adat dipandang sebagai mama. Tanah adalah milik mama yang diwariskan untuk komunitas lalaki dan perempuan. Namun pada prinsipnya, tanah memiliki warisan komunitas laki-laki, meskipun setiap orang dilahirkan oleh seorang mama. Warisan kepemilikannya mengikuti genitas manusia laki-laki Mee. Namun sebagai mama, tanah adat melahirkan sejumlah harapan kehidupan bagi semua makhluk hidup di etnis Mee. Harapan HIDUP tersebut benar-benar menarik dari dan menyatukan mereka dalam eksistensinya sebagai mama sejati. Kesatuan menyeluruh ini menujukkan suatu dasar pijakan kebangkitan hidup bahagia bagi mereka. Dalam kesatuan, semua realitas Mee memperlihatkan eksistensinya untuk mengakarkan Hidup pada tanah sebagai mama sejati dan baik.  Disadari bersama bahwa dalam totalitas kedaulatan tanah adat sebagai mama sudah semakin memperbaharui komunitas mereka dengan kebaikan dan kesejatian. Mereka dibentuk dalam kebaikan dan kesejatian tanah adat. Proses pembentukan anggota komunitas diri mereka secara sejati dan baik dalam dan oleh tanah adat sebagai mama sudah memperlihatkan tiga peran utama. Peran utama yang dimiliki tanah adat sebagai mama dalam keseluruhan proses pembentukan komunitas masyarakat suku Mee secara sejati dan baik. Untuk itu, saya hendak menjelaskan ketiga perana mama secara filosofis bagi orang-orang suku Mee dari hari ke hari. Mama Yang Melahirkan Tanah adat sebagai mama sudah tidak dapat dipisahkan dari adanya komunitas masyarakat suku Mee. Orang-orang Mee sudah dapat dikatakan sebagai komunitas suku Mee yang sejati dan baik setelah mereka mewarisi relasi kesatuannya dengan tanah sebagai mama sejati dan baik. Mereka memperoleh pemahaman mendalam tentang kesatuan dirinya yang tidak terpisahkan dan permanen ketika dilahirkan oleh mama dalam komunitas Mee. Pewarisan kesatuan Mee ini sudah berada dalam sepanjang sejarah. Sejak awal adanya orang-orang suku Mee dalam eksistensi tanah adat, mereka memiliki hak asasi untuk mewarisi, memelihara dan menghayati hidup berkomunitas sebagai manusia Mee. Manusia yang memiliki komunitas hidup dalam kesatuan dan kebebasannya dengan tanah adat sebagai mama mereka. Maka kesatuan ini dipandang penting bagi mereka. Budayanya mengajarkan bahwa komunitasnya didasarkan pada tanah sebagai mama. Nilai kesatuan tadi ini merupakan satu sifat asasi dari Tanah sebagai mama bagi mereka. Ke-mama-an yang sudah tentunya merupakan dasar filosofi dan cita-cita bangsa bagi kedaulatan komunitas HIDUP suku Mee di tanah leluhur. Semangat kebersamaan ini akan dikonstruksi sebagai bagian dari kristalisasi nilai-nilai Mee. Konstruksi nilai kesatuan Mee ini dipandang penting dan mendasar karena, menurut filosofi adat Mee, kesatuan mereka ini mendasari eksistensi Mee yang sejati dan baik dalam sejarah yang paling panjang. Kesatuan ini sudah diturun-wariskan dari tanah adat sebagai mama sejati dan baik. Mereka menjadi kuat, mempeoleh keselamatan, menikmati kesuburan hidup dan menghayati umur yang panjang dalam suasana perdamian dan kebahagiaan ketika kesatuan itu diwariskan dalam hidup berkomunitas sebagai masyarakat beradat dan dalam menghidupi HIDUP bersama dengan tanah adat sebagai mama sejati dan baik. Dari perspektif tradisi Mee, adanya kesatuan diri mereka sebagai Mee yang sejati dan baik berawal dan berakhir pada mama. Mama menjadi sumber yang mengalirkan nilai-nilai kehidupan termasuk nilai filosofis kesatuan bagi mereka di tanah adat. Karena adanya dasar kepemilikan sumber kebaikan, keadilan dan kasih serta kebebasan, kesatuan dan kebahagiaan seorang mama, maka mereka dilahirkan dan diadakan sebagai Mee di tanah adat. Eksistensi komunitas Mee yang adalah manusia sejati dan baik. Maka itu, relasi kesatuannya telah berada sejauh komunitas mereka telah berada sebagai Mee yang sejati dan baik dalam produktivitas tanah adat sebagai mama.  Menurut filosofi masyarakat etnis Mee, tanah adat seorang mama. Sebagai mama, tanah adat melahirkan setiap dan semua mereka sebagai manusia Mee. Mereka dikandung dari tanah adat sebagai mama sejati dan baik. Seperti keberadaan manusia pada umumnya di dalam kandungan mama, setiap dan semua manusia Mee sudah tentunya mengalami kehidupan sejati dan baik dalam kandungan mama. Mereka juga mengalami suasana kehangatan kasih, damai dan tenang dalam dirinya, seorang mama itu. Mereka sudah dibentuk sebagai manusia sejati dan baik dari kandungan. Mereka dipilih dan ditetapkan sebagai manusia Mee yang kudus di dari dalam kandungan mama. Mereka dalam pemilihannya sebagai Mee sejati dan baik, mereka dipenuhi dan dilekatkan harapan abadi. Setiap dan semua masyarakat telah membawa keturunan dan kepemilikan sebagai komunitas Mee dari sana, seorang mama. Intinya, setiap dan semua mereka sudah tentunya memiliki dan mengalami suasana sorgawai kemeean dalam dan bersama tanah sebagai mama mereka. Kondisi demikian dialami selama setahun (selama mereka berada dalam kandungan mama) dalam jajakan sepanjang sejarah. Setahun setelah mereka dilahirkan di tanah adat, peran utama seorang mama masih berlanjut secara sistematis. Mereka dilahirkan dari bawaan kandungan kehidupan mama. Jiwa yang kekal nampak jelas setelah mereka dilahirkan oleh seorang mama. Mereka dibawah ke manapun ketika seorang mama ini berjalan dan pergi. Mereka dibaringkan dalam noken kehidupan adat sorgawi oleh seorang mama. Mereka diperhatikan dan dirawat makna kelahirannya dari tungku api kehidupan keluarga mama. Kelahirannya yang penuh kebahagiaan dan damai menjadi tanda kehadiran seorang mama yang baik dan sejati. Tanpa tanah sebagai mama bagi mereka, HIDUP hanyalah suatu penciptaan mitologi klasik. Maka peristiwa kelahiran setiap mereka merupakan wujud produktivitas janin secara abadi dari seorang mama. Mama Yang Memelihara Sebagai mama, ia tidak hanya melahirkan setiap dan semua orang-orang Mee. Ia juga memelihara orang-orang Mee setelah dilahirkan dalam suasana kedamaian, kebahagiaan dan kasih. Pemeliharaaan seorang mama ini dinyatakan dalam wujud menjadi habitan kehidupan bagi mereka. Ia memberikan tanah adat sebagai wujud konkret dari dirinya sebagai mama sejati dan baik karena adanya kemurnian dan ketulus-ikhlasan kasihnya yang begitu besar bagi mereka. Sebagai mama, ia dengan kasihnya yang total sudah tetap membiarkan dirinya sebagai ruang dan waktu yang indah dan bahagia bagi mereka. Ada banya peristiwa pemeliharan yang telah terjadi dari berbagai aspek kehidupan bagi mereka dalam ruang dan waktu yang indah itu. Orang-orang Mee sudah tentunya merasa memiliki atas ruang dan waktu yang membahagiakan dan membebaskan kedaulatan martabat mereka di Dogiyai. Ruang kebebasan di mana mereka hidup beraktivitas, beranak cucuh, menciptakan sistem kehidupan budaya yang mencakup tujuh unsur budaya dan mendaratkan hidupnya dalam hidup mereka. Maka itu, orang-orang Mee ini memiliki kesempatan emas untuk diakui juga sebagai manusia Kotekaa-Mogee dalam sejarah pernyataan kehendak keselamatan dirinya sebagai mama beradat Mee secara definitif bagi mereka. Mama orang-orang Mee ini memiliki banyak kekayaan alam adat. Ada misteri keselamatan kehidupan bagi mereka di Dogiyai. Misteri keselamatanya dinampakkan dalam realisasi perannya sebagai mama sang pemeliharaan mereka. Buktinya jelas, di dalam tanah adat sudah tentunya ditumbuhkan dan dipelihara banyak makhluk hidup dan mati. Komunitas batu, kali/ sungai yang mengalirkan emas, gunung dan bukit menjulang tinggi dan indah, komunitas pohon dan marga satwa serta komunitas danau-laut, komunitas hewan dan komunitas para leluhur serta segala isinya dari masing-masing komunitas ialah wujud kehadiran seorang mama yang sejati dan baik bagi mereka. Kesemua realitas komunitas yang merupakan wujud kehadiran dan hidup pemeliharaan seorang mama bagi mereka. Kehadiran mama seperti ini justru dipahami sebagai bentuk konkret partisipasi penuh dan aktif darinya dalam memelihara mereka. Kesemua komunitas bertumbuh subur dalam dirinya. Satu hal yang tidak boleh dilupakan ialah kesemua komunitas HIDUP tadi merupakan realitas kearifan lokal, bibit-bibit unggul dan saudara sekomunitas Mee bagi mereka dalam keseluruhan proses pemeliharaan dari seorang mama. Sebagai mama, ia memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap dan semua mereka. Suasana hidup yang penuh keadilan, kasih dan damai sudah tercermin dalam komunitas suku mereka. Realitas ini justru mendapat akar dan batang pengembangannya dalam kearifan lokal. Dengan berdikari dan berdiri atas dasar kearifan lokalnya sendiri, mereka diakui sebagai para pewaris tanah adat sebagai mama. Maka tanah adat sebagai mama sudah benar-benar membuktikan dirinya berada dan hidup bagi kelanjutan keluhuran misi pemeliharaan komunitas suku mereka. Dengan demikian, agenda pemeliharaan ini sudah benar-benar berjalan dilaksanakan olehnya dalam keberadaaan keaslian kebudayaan dan tradisi orang-orang Mee secara komprehensif dan permanen. Oleh karena itu, setiap dan semua mereka sudah tentunya dipelihara dalam kedaulatan keberadaan dirinya sebagai mama yang baik dan sejati di Dogiyai.    Mama Yang Membesarkan Orang-orang Mee bahkan dibesarkan pula oleh tanah sebagai mama bagi mereka. Kepribadian dan watak mereka dapat secara mudah dikenali dan dipahami. Adanya makanan yang asli, hutan yang masih perawan dan angin segar dari gunung-gunung merupakan sejumlah bukti dibesarkan secara objektif oleh seorang Mama. Dalam hidup sehari-hari, orang-orang Mee mengakui diri sebagai perut keladi asli, petatas asli dan perut sayur hitam asli serta perut daging babi asli kampung adat. Jenis-jenis makanan asli itu dilahirkan dari tanah adat sebagai mama bagi mereka. Sebagai mama, ia memelihara setiap dan semua masyarakat adat dengan aneka ragam makanan asli tersebut. Maka setiap mereka mengalami proses perkembangan dirinya secara sejati dan baik dari dan untuk menghadirkan HIDUP bahagia bersama tanah adat sebagai mama mereka. Berdasarkan pengalaman hidup, setiap masyarakat Mee mengakui tempat kelahiran dan membesarkan diri mereka. Ada satu kata filosofis yang masih tetap terpopuler hingga sekarang dan di sini ialah “anoukauwo-akoukaiwo iboo”. Arti filosofis ini biasa dipahami dalam konteks mengakui, mengangkat dan membesar-besarkan tempat kelahiran dan pembesaran mereka. Tempat pembesaran mereka ini mengakui kedaulatan asal-muasal dan sejarah dari mama kandung. Tindakan mengakui tempat kepemilikan mama-mama mereka adalah misi mulia bagi mereka. Mereka memperlakukan tanah milik setiap mama adalah segalanya bagi semua orang termasuk dirinya. Tanah sebagai mama sudah tentunya memiliki tingkat kemuliaan yang lebih besar. Ia sudah mendapat kedudukan istimewa bagi setiap dan semua mereka. Keistimewaan mama itu mencakup kesemua realitas eksistensi suku Mee secara substansial. Semua yang mereka miliki adalah berasal dari keutuhan tanah milik seorang mama masing-masing. Mama menjadi sumber dan puncak kebenaran HIDUP dari seluruh dinamika hidup mereka dan generasa penerus bangsanya. Karena tanah milik mama kandung mereka masing-masing sudah benar-benar menjadi penentu HIDUP awal, tengah dan akhir kehidupan setiap dan semua orang etnis Mee. Tanah milik seorang mama kandung orang-orang suku Mee adalah suatu realitas kekal ke kekal. Realitas keabadian Mee ini dimanifestasikan di dalam bahan dasar eksistensi Mee. Eksistensi Mee yang mengandung dan memiliki nilai-nilai KEHIDUPAN yang baik dan sejati yang bergerak maju dan membawa mereka pada dirinya (Meekeke Woo Pigadoke). Eksistensi Mee di Dogiyai adalah realisasi konket dari kedaulatan keberadaan tanah sebagai mama sejati dan baik (Makodo Ma Amai) bagi setiap masyarakat etnis Mee. Maka itu, kita entah siapun orangnya, telah dipanggil untuk mengalami dan mengakui kehadiran tanah sebagai mama sejati dan baik yang mengasuh dan membesarkan setiap dan semua orang Mee. Untuk itu, pekerjaan mengalami dan mengakui HIDUP BAIK dari dan untuk tanah adat menjadi ukuran utama   dan pertama kesejatiaan dalam keseluruhan proses pembangunan kebahagiaan HIDUP bersama komunitas masyarakat Mee di tanah adat Dogiyai. Menghayati kebijaksanaan tanah adat Ketiga peran utama di atas merupakan wujud konkret dari kebijaksanaan tanah adat sebagai mama yang baik dan sejati. Satu nilai kebijaksanaan yang dituntut dari tanah adat sebagai mama Mee ialah perlu adanya ketekunan untuk ikut terlibat aktif dalam peran mulia tadi bagi kebahagiaan Dogiyai. Melalui penghayatan nilai ketekunan ini, setiap kita dipanggil untuk mencintai tanah adat sebagai mama yang sejati dan baik bagi manusia etnis Mee. Kebijaksanaan yang dihayati dalam kebudayaan HIDUP sejati orang-orang etnis Mee ialah ketekunan melaksanan CINTA akan eksistensi tanah adat sebagai mama kebahagiaan Dogiyai. Hadir di tanah Dogiyai, entah siapapun orangnya, kita memiliki dan melaksanakan ketiga peran yang dijelaskan berdasarkan filosofi tanah adat sebagai mama tadi. Sebagaimana tanah sebagai seorang mama yang melahirkan, memelihara dan membesarkan setiap dan semua orang di tanah Meeuwodide dalam sepanjang sejarah, kita juga dipanggil secara inisiatif dan proaktif untuk menghayati dan melaksanakan peran pembangunan kemanusiaannya kepada tanah adat sebagai mama KITA. Karena kita telah diasalkan dan bergerak maju dalam suasana ketekunan dan kebijaksanaan kepada tanah adat sebagai mama sejati dan baik. Kita telah dan akan tetap berada dalam sistem kekuasaan kebijaksanaan tanah adat sebagai mama sejati dan baik. Bahkan setelah kita meninggal pun, nyawanya akan dihuni dan berdiam di dalam tanah adat masing-masing sebagai mama yang sejati dan baik. Karena itu, setiap kita, entah siapapun orang, yang berada dan hidup di tanah orang-orang etnis Mee sudah dipanggil secara istimewa untuk menghormati dan mengakui tanah adat sebagai mama yang baik dan sejati demi menciptakan Dogiyai bahagia.   Penulis adalah Guru dan Alumnus STFT “Fajar Timur” Abepura

suroso  Minggu, 10 Oktober 2021 2:8
Suara dari Kedalaman Jiwa
Dia mengakhiri sambutannya dengan penggalan kalimat : Selamat datang di Papua selamat bertanding. Tuhan berserta kita semua. Torang bisa. Wa wa wa. Hanya enam menit dia pidato sambutan Selamat Datang atas nama Gubernur Papua.
suroso  Selasa, 7 Desember 2021 8:1
Pentingnya Data Dalam Proses Pembangunan Daerah
DATA menjadi bagian terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Dari adanya data, seseorang dapat mengetahui beberapa informasi yang diinginkan. Seperti halnya dalam proses melaksanakan pembangunan. Pembangunan akan berjalan baik apabila didasari dengan ketersediaan data yang benar dan up-to-date. Data sendiri memiliki artian yakni sekumpulan informasi dari suatu hal yang diperoleh melalui pengamatan atau juga pencarian kesumber-sumber tertentu.

Hahae

Tanah milik KODIM dan POLRES
suroso  Rabu, 29 Januari 2020 1:16

  Ada Pace dua dong pasang Patok di dorang pu lahan. Pace yang satu de tulis : “Tanah ini milik KODIM”. Pace yang satu lagi tulis : "Tanah ini milik POLRES"

Satu kali begini, Komandan Kodim dan Kapolres yang baru menjabat pi lihat lahan itu dan truss merasa bertanggung jawab. Jadi masing-masing kerahkan dong pu anggota bersihkan lahan. Pas lahan su bersih dan rapi, Pace yang pu tanah datang ucap terima kasih.

“Adoo Bapa Komandan hormat… terima kasih su kasi bersih tong dua pu lahan… perkenalkan sa pu nama KOrneles DIMara.. disini dong biasa panggil sa KODIM. Sa yang pu lahan ini. Yang di sebelah tuu sa pu teman punya dia pu nama POLy RESubun biasa dong panggil dia POLRES

Populer

Suara dari Kedalaman Jiwa
suroso  Minggu, 10 Oktober 2021 2:8
Makna Dogiyai Bahagia Bagi Guru
suroso  Minggu, 19 September 2021 22:52
Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan